"Siapa namanya?" akhirnya aku nekat bertanya lagi.
"Ya teman, kamu kenapa sih? Kok nanyanya begitu, mau tau aja. Rahasia donk."
"Masa' aku nggak boleh tau?" Fira cuma senyum-senyum saja, membuatku merasa sedikit sebal.
"Oke kalau gitu..., laki atau perempuan?" aku masih belum menyerah.
"Laki, puas?" aku tau Fira mulai menggodaku.
"Terus siapa namanya?" sambarku. Fira hanya mengerlingkan matanya ke arahku lantas mengubah pokok pembicaraan. Aku sangat penasaran.
Setelah makan malam, aku dan Fira menunggu di salah satu cafe untuk minum kopi sambil mengobrol. Karena malam minggu maka semua tempat penuh sesak, untung masih ada tersisa dua tempat yang bersebelahan. Aku dan Fira duduk sambil menunggu kopi kami datang, karena tempatnya demikian sesak, maka posisi duduk kami menjadi sangat berdekatan. Aku menyadari selama ini belum pernah aku duduk sedekat itu dengannya. Kakinya menyentuh kakiku, walaupun sudah berusaha menjauhkan kakiku, tetap saja kami bersentuhan karena memang tempatnya sempit. Fira duduk disebelahku, kami sempat diam beberapa saat sampai dia mengatakan sesuatu yang tidak begitu jelas sehingga aku harus mencondongkan kepalaku ke wajahnya, karena dekatnya, aku merasa berdebar waktu dia mengulang kata-katanya ditelingaku. Aku berusaha keras untuk bersikap lebih rileks dan membiarkan duduk kami lebih dekat bahkan waktu tangannya sempat mendarat di pahaku untuk beberapa saat, aku berusaha untuk santai, walaupun dada ini rasanya sudah bergemuruh.
Aku perlu mencari tahu apa artinya kami satu sama lain. Setelah mendekati waktu pemutaran film kami meninggalkan cafe dan berjalan menuju bioskop. Fira sempat menggandeng tanganku sebelum akhirnya dia lepaskan lagi. Sejauh itu aku masih belum punya keberanian untuk mulai menyentuhnya. Karena banyak sekali orang, secara naluriah aku menggapai tangannya supaya dia tidak tertinggal di belakangku. Meskipun sudah berada di depan pintu teater 3, tanganku masih memegangi tangannya. Diapun tidak berusaha menariknya.
Sepanjang film, aku berpikir keras untuk menentukan sikapku selanjutnya. Fira meletakkan lengannya disandaran lengan di sebelahku. Aku mencoba meletakkan lenganku disebelahnya dan dia tidak berusaha memindahkan lengannya, tidak keberatan lengan kami bersentuhan. Setelah film selesai kami menuju pintu keluar yang penuh sesak, seperti biasa di pintu keluar semuanya berdesakan, aku rangkul Fira dari belakang membiarkannya jalan di depanku. Sampai luar, aku masih merangkul bahunya dan lagi-lagi dia tidak keberatan. Dia ingin ke rest room begitupun aku. Setelah itu aku menunggu dia di sekitar toilet dan tidak lama kemudian dia menghampiriku. Kami berjalan kearah parkir, kembali aku merangkul bahunya, sepertinya aku sudah ketagihan merasakan sentuhannya. Di dalam mobil Fira jadi pendiam.
"Fir, kok diam? Ngantuk?" aku berusaha bicara selembut mungkin.
"Nggak."