Neo-realisme mengasumsikan bahwa negara-negara di dunia akan berperilaku sama dalam struktur internasional. Menurut Mearsheimer, kekuasaan dari kacamata neo-realisme, dipandang sebagai mekanisme survival dan keberadaan negara sebagai alasan utama negara meningkatkan kekuatan yang dimilikinya. Untuk menghadapi kebutuhan dan mempertahankan negara dalam struktur internasional yang anarki, harus ada lebih dari satu aktor dalam politik internasional. Hal ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan kekuatan (balance of power). Konflik antara Iran dan Amerika Serikat ini sejalan dengan teori neo-realisme, di mana Iran menampilkan dirinya sebagai pemain baru dari Timur Tengah untuk bersaing dengan hegemoni Amerika Serikat. Dalam konflik ini, Amerika Serikat percaya bahwa Iran dapat mengancam semua kepentingannya maupun sekutunya di kawasan Timur Tengah. Kehadiran Iran sebagai aktor baru di kawasan Timur Tengah telah menjadikannya sebagai kekuatan penyeimbang dalam sistem politik di kawasan tersebut. Maka dari itu, AS melakukan segalanya untuk membuat Iran tunduk dan patuh pada negaranya, mulai dari pemberian sanksi, tuduhan, bahkan serangan langsung. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat merupakan kekuatan yang sangat arogan dan memaksakan pandangannya terhadap negara lain serta tidak menghormati perjanjian.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI