Penggeraknya adalah apa dan siapa yang harus kita temukan. Dengan mengetahui apa dan siapa yang mendorong maka kita akan lebih memahami makna aspirasi dan harapan tersebut.
Dengan memahami makna aspirasi dan harapan tersebut maka tingkat kecemasan akan berkurang karena kita tahu persis arti terdalam dari proses dan risiko yang akan kita hadapi.
Tanpa tahu makna terdalam dari aspirasi dan harapan tersebut maka hanya akan menjadi beban kecemasan.Â
Padahal tujuan kita meraih aspirasi dan harapan tersebut adalah agar kita menikmati prosesnya. Bukan malah memberikan rasa cemas yang ujungnya bisa menjadi delusional.
3. Tanyakan pada diri sendiri apa yang terjadi jika kita gagal meraih aspirasi dan harapan tersebut
Ketika saya lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) sebenarnya saya mempunyai aspirasi dan harapan untuk masuk Akademi Militer. Namun saat itu Ibu saya mempunyai aspirasi dan harapan yang berbeda.
Ibu saya mengharapkan saya menjadi pegawai kantoran yang artinya saya harus mengambil jalur kuliah sarjana di suatu Universitas.
Pada waktu itu saya merasa gagal dalam meraih aspirasi dan harapan saya. Saya kemudian mengalami rasa cemas bagaimana nasib saya selanjutnya. Apakah saya akan bisa memenuhi aspirasi dan harapan ibu saya itu atau tidak.
Namun setelah belasan tahun berlalu saya baru memahami bahwa kita selalu bisa bertanya pada diri sendiri mengenai apa yang akan terjadi ketika kita gagal mencapai aspirasi dan harapan tersebut.
Pada waktu itu akhirnya saya malah mendapatkan aspirasi dan harapan yang sama sekali tidak saya duga.Â
Saya pun diterima masuk melalui Undangan Seleksi Mahasiswa IPB (USMI) atau dulu orang tua kita mengenal dengan sebutan PMDK.
Akhirnya dari hal tersebut saya memahami ternyata penting untuk bertanya pada diri sendiri mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya.