Mohon tunggu...
Nana Marcecilia
Nana Marcecilia Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - Menikmati berjalannya waktu

Mengekspresikan hati dan pikiran melalui tulisan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Baca Konteks Pembicaraan Ibu Sukmawati Dulu, Baru Berkomentar, Betul Tidak?

19 November 2019   14:27 Diperbarui: 19 November 2019   14:41 217
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Ini bukan sentimen saya terhadap satu agama, tapi mari kita lihat fakta, seberapa banyak orang yang sudah dikorbankan atas nama agama, padahal untuk kepentingan pribadi atau golongan saja. 

Contoh nyata, politik identitas waktu lalu saat Pilkada di Indonesia, dimana banyak orang yang akhirnya tidak memilih gubernurnya karena hati nurani, tapi karena takut dosa. Kemudian, pada abad kegelapan di Eropa, adanya penjualan surat pengampunan dosa, dikarenakan atas  nama agama dan keinginan untuk terjamin adanya tempat di Surga saat nanti berpulang, banyak orang meyakini dan beramai-ramai membeli surat tersebut, padahal hasil penjualannya untuk isi kantong pribadi. 

Lalu dua negara yang berseteru, Israel dan Palestina. Banyak orang yang salah paham dan mempercayai bahwa penindasan Israel terhadap Palestina semata karena agama, padahal aslinya itu adalah perang politik agar bisa menguasai Jalur Gaza, di mana tempat itu, katanya, mengandung minyak. Tentu negara yang bisa menguasai suatu wilayah yang mengandung minyak, bisa menjadi makmur, kan? Namun karena Israel terkenal dengan agama Jewish, dan yang menjaga Jalur Gaza di Palestina adalah Hamas, organisasi Islam, maka berita yang santer  terdengar adalah perang agama. 

Kembali ke konteks perkataan Ibu Sukmawati yang membandingkan Soekarno dengan Nabi Muhammad.

Apabila kita mendengarnya dari awal sampai akhir perkataan Ibu Sukmawati, kita akan memahami maksud Ibu Sukmawati yang sebenarnya. Radikalisme dan terorisme tentu biasanya dilakukan oleh oknum-oknum yang memanfaatkan agama sebagai dalil kejahatannya, seperti kata KH Cholil Nafis, dimana yang melakukan radikalisme dan terorisme adalah oknum, dan bukan Islamnya. 

Tapi tidak menutup kemungkinan para oknum ini menggunakan agama yang mayoritas di Indonesia dan berhasil menghasut para pemuda yang sedang mencari pedoman pada agamanya, karena kesalahpahaman pengertian dan pengaruh yang begitu kuat, malah menyesatkan pikiran anak-anak muda yang seharusnya sangat berpotensi untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia yang sarat akan keanekaragaman.

Setahu saya Islam, sangat mengutamakan kebijaksanaan dan kecerdasan, maka itu, organisasi yang berasaskan agama pertama kali di Indonesia adalah Syarikat Islam yang didirikan oleh Haji Samanhudi, dimana tujuannya untuk menentang penjajahan. Kemudian ada MIAI, Masyumi, Muhammadiyah,  Nadhlatul Ulama (NU), dan masih banyak lagi. 

Nah, dua organisasi diantaranya, seperti Muhammdiyah dan NU memiliki salah satu visi yang sama, yakni pendidikan yang baik untuk masyarakat Indonesia agar tidak lagi tersiksa karena penjajahan akibat keterbelakangan pendidikan, dimana keterbelakangan tersebut bisa mengakibatkan masyarakat Indonesia akan mudah diprovokasi dan dibodohi, yang akhirnya malah membuat perang saudara, dan yang menguasai negara kita malahan orang pendatang yang biasa kita sebut sebagai penjajah.

Tidak kedua organisasi ini saja, tentu organisasi lain yang berasaskan agama Islam, tentu juga memiliki tujuan yang pastinya untuk kemajuan dan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Untuk saya pribadi, ini menggambarkan penganut agama Islam sejatinya banyak orang yang kritis,  terdidik, dan berwawasan, serta mengedepankan nasionalisme bangsanya. 

Dengan keempat hal tersebut, tentu pemeluk agama Islam seharusnya tidak akan mudah terhasut ataupun mudah "tersenggol" akibat sepenggal kalimat yang terdengar menohok, tapi melihat konteks dari keseluruhan pembicaraan seseorang. 

Tingginya pendidikan dan wawasan mengarahkan kita menjadi orang yang bisa mencerna dan memahami informasi dengan baik, dan tentu biasanya kita akan memahami lebih dulu dari awal sampai akhir pembicaraan, baru bisa menyimpulkan. Orang yang berpendidikan dan berwawasan, seperti para pendiri dan anggota organisasi Islam umumnya, tentu tidak mudah percaya begitu saja pada sepenggal kalimat, tapi mereka akan telaah dulu seluruh informasinya, baru melakukan penyimpulan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun