Mohon tunggu...
Nahlu Hasbi Heriyanto
Nahlu Hasbi Heriyanto Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris

Ambil baiknya, Buang buruknya.

Selanjutnya

Tutup

Cerbung

UKM Sastra: Kamuflase Bayangan Pt.3

21 Juli 2024   03:10 Diperbarui: 21 Juli 2024   04:41 13
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi tokoh generated with DALL E AI

Kematian Arya semakin menggemparkan kampus. Desas-desus tentang pembunuh berantai semakin merebak, dan ketakutan menyelimuti setiap sudut kota. Polisi merasa terdesak untuk mengungkap misteri ini, namun mereka kekurangan petunjuk dan arah yang jelas.

Di tengah kekacauan ini, seorang mahasiswa bernama Bagas muncul sebagai harapan baru. Bagas adalah seorang mahasiswa berbakat yang dikenal karena kemampuannya dalam memecahkan masalah yang paling rumit. Dengan kecerdasan dan ketelitiannya, dia sering kali dianggap sebagai sosok yang dapat melihat pola-pola yang tidak disadari oleh orang lain.

Bagas diperkenalkan kepada pihak kepolisian oleh seorang dosen yang percaya pada kemampuannya. Setelah mendapat izin, Bagas mulai mempelajari semua berkas kasus, menyusun kembali setiap detail yang mungkin terlewatkan. Dia bekerja tanpa henti, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang berada di balik semua ini.

Selama penyelidikannya, Bagas ditemani oleh seorang mahasiswa bernama Citra. Citra adalah seorang jurnalis kampus yang bersemangat dan penuh keberanian. Dia tidak hanya cerdas tetapi juga memiliki insting yang tajam dalam mencari informasi. Bersama Bagas, Citra bertekad untuk mengungkap kebenaran di balik serangkaian pembunuhan ini.

Bagas dan Citra mulai dengan memeriksa kamar kost Surya dan Arya, mencari petunjuk yang mungkin terlewatkan oleh polisi. Di kamar Surya, mereka menemukan sebuah jurnal yang tersembunyi di balik rak buku. Jurnal itu berisi catatan Surya tentang setiap pembunuhan yang dia lakukan, termasuk pengamatannya terhadap Arya. Namun, ada satu halaman yang menarik perhatian Bagas dan Citra. Halaman itu berisi catatan tentang seseorang yang selalu mengikuti Surya dari jauh, seseorang yang Surya sendiri tidak pernah tahu identitasnya.

“Ini bukan sekedar pembunuhan berantai. Ini lebih seperti permainan psikologis,” kata Bagas kepada Citra sambil memeriksa jurnal tersebut.

Citra mengangguk, “Dan Arya terjebak dalam permainan ini, sama seperti Surya.”

Mereka kemudian menuju kamar Arya, di mana mereka menemukan cermin besar yang disebutkan dalam catatan polisi. Cermin itu tampak biasa, tetapi Bagas merasakan ada sesuatu yang aneh. Dia mengamati cermin itu dengan cermat, mencoba mencari tahu apa yang membuatnya istimewa. Saat itulah dia menemukan goresan halus di sudut cermin, seolah-olah seseorang telah menuliskan sesuatu dan kemudian menghapusnya.

“Mungkin ada pesan tersembunyi di sini,” kata Bagas sambil mengeluarkan lampu UV dari tasnya.

Ketika mereka menyinari cermin dengan lampu UV, sebuah pesan muncul: "Selamat datang di permainan terakhir."

Citra menggigil. “Apa maksudnya ini? Siapa yang menulis ini?”

Bagas memikirkan segala kemungkinan, “Kita harus mencari tahu siapa yang memiliki akses ke tempat ini dan siapa yang tahu tentang permainan ini.”

Mereka mulai menyusun daftar orang-orang yang mungkin terlibat, termasuk dosen, mahasiswa, dan staf kampus. Namun, semakin dalam mereka menyelidiki, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Setiap petunjuk yang mereka temukan tampaknya mengarah ke jalan buntu, hingga mereka menemukan sebuah nama yang tidak pernah mereka duga sebelumnya – Dimas, seorang mahasiswa yang selalu berada di latar belakang, tampak tidak mencolok namun selalu hadir di setiap kejadian penting.

Bagas dan Citra segera menemui Dimas, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang dirinya. Dimas awalnya tampak gugup, tetapi akhirnya dia membuka diri. “Aku tahu tentang permainan ini,” katanya dengan suara gemetar. “Tapi aku tidak pernah terlibat. Aku hanya... aku hanya penonton.”

Dimas menjelaskan bahwa dia telah mengamati Surya dan Arya selama berbulan-bulan, mengetahui tentang kebiasaan gelap mereka, tetapi tidak pernah melaporkannya karena takut. “Ada seseorang yang mengendalikan semuanya, seseorang yang lebih pintar dari kita semua,” tambahnya.

“Siapa? Siapa yang mengendalikan semuanya?” desak Citra.

Dimas menggeleng. “Aku tidak tahu namanya. Aku hanya tahu bahwa dia selalu ada di balik bayangan, mengawasi kita semua.”

Bagas dan Citra merasa semakin dekat dengan kebenaran, namun juga semakin bingung. Mereka memutuskan untuk kembali ke cermin di kamar Arya, berharap menemukan lebih banyak petunjuk. Saat mereka berdiri di depan cermin, sebuah kilatan cahaya tiba-tiba memancar, membuat mereka terkejut. Di cermin, muncul bayangan seseorang yang tersenyum sinis.

“Kalian sudah terlalu jauh,” suara itu berbisik, “Permainan ini belum berakhir.”

Sebelum Bagas dan Citra bisa bereaksi, bayangan itu menghilang, meninggalkan mereka dalam keheningan yang mencekam. Mereka saling berpandangan, menyadari bahwa mereka telah masuk terlalu dalam ke dalam permainan yang mematikan ini.

Ketika mereka meninggalkan kamar itu, perasaan tidak nyaman terus menghantui mereka. Mereka tahu bahwa pembunuhnya masih berkeliaran, dan permainan ini belum mencapai akhirnya. Tetapi siapa sebenarnya yang berada di balik semua ini? Dan apa motifnya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerbung Selengkapnya
Lihat Cerbung Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun