Mohon tunggu...
Naftalia Kusumawardhani
Naftalia Kusumawardhani Mohon Tunggu... Psikolog - Psikolog Klinis (Remaja dan Dewasa)

Psikolog Klinis dengan kekhususan penanganan kasus-kasus neurosa pada remaja, dewasa, dan keluarga. Praktek di RS Mitra Keluarga Waru. Senang menulis sejak masih SMP dulu hingga saat ini, dan sedang mencoba menjadi penulis artikel dan buku.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Berbagi sebagai Ungkapan Rasa Syukur

15 September 2016   11:42 Diperbarui: 15 September 2016   14:40 240
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Awalnya saya ragu-ragu untuk mengikuti Blog Competition Kompasiana ini. Terpikir dalam benak saya, 'Berbagi kok diceritain ya? Ntar kesannya jadi riak dong. Jadi pamer betapa baiknya saya ini'. Pikiran itu selalu lewat tiap kali saya membaca info lomba ini. Untuk mencari 'teman senasib', saya sempatkan membaca tulisan teman-teman lainnya yang sudah dikirimkan.. hehe.. Ingin tahu apa sih yang layak dan perlu ditulis, supaya pengalaman berbagi kita tidak akan disalahartikan menjadi 'ajang pamer kebaikan'. Akhirnyaa... Saya memutuskan untuk menceritakan pengalaman saya, dengan tujuan utama hendak memberikan inspirasi bagi pembaca. Semoga niat tersebut tersampaikan dengan baik. 

Sejarah Hidup Sebagai Landasan

Hingga saat ini, perjalanan hidup saya tidaklah semulus kertas putih. Peristiwa kecelakaan dan sakit kerap datang silih berganti (bisa dibaca di sini : http://www.kompasiana.com/naftalia/kalau-diberi-kesempatan-kedua-apa-mau-dilakukan dan http://www.kompasiana.com/naftalia/kado-dari-tuhan-gpl). Penyakit pun demikian. Entah mengapa mereka hobby banget mampir ke tubuh saya, mulai dari yang sepele seperti infeksi lambung hingga ke tumor rahim. Itu semua bikin hidup saya meriah.. hehe.. Sudah tak terhitung berapa kali saya menginap di rumah sakit untuk membuang berbagai penyakit itu. Pernah sekali dalam periode hidup, saya harus rawat inap 8 kali dalam 2 tahun. Bayangkan jumlah sumbangan saya untuk rumah sakit itu.. *geleng-geleng*. 

Dibalik semua kemeriahan peristiwa-peristiwa kehidupan tersebut, saya merenung. Mencoba merefleksikan diri. Apa sih sebenarnya yang Tuhan inginkan dalam hidup saya? Kenapa kok saya nggak langsung mati aja waktu kecelakaan beberapa kali? Kenapa saya masih bisa bangun dengan segar setelah 6 kali operasi? Hantaman demi hantaman sempat membuat saya ingin berteriak pada Tuhan, "Cukuuuupppp!". Anehnya, makin saya ingin teriak, makin banyak hantaman datang. Hmmm... kayaknya salah berdoa deh. Terbersit satu hal : Daripada ngomel nggak jelas, mendingan bersyukur. Bersyukur atas semua yang sudah terjadi. Bersyukur karena saya boleh mengalami hidup lebih baik setelah terpaan gelombang kehidupan. Bersyukur saya diijinkan Tuhan mengalami mukjizat. Nah rasa syukur ini ingin saya bagikan dalam tiap aktivitas yang saya lakukan. Sebagai bentuk rasa terima kasih saya atas apa yang Tuhan berikan pada saya dan keluarga saya. 

Berbagi Ilmu, Kaya Manfaat

Bersama dengan 2 rekan lainnya, kami mendirikan lembaga bernama Naira Learning Community (NLC) pada tahun 2010. Tujuan NLC adalah berbagi apa yang dimiliki pada orang yang membutuhkan. Sejak awal berdirinya NLC didedikasikan untuk membantu orang lain. Saat itu ada teman, perempuan dengan 2 anak kecil, yang memerlukan dukungan finansial. Suaminya sudah meninggal karena sakit. Teman ini berprofesi sebagai guru ngaji dan sales buku. Gimana ya caranya membantu teman tersebut untuk menyekolahkan anak-anaknya? Dari sana muncul ide untuk mengadakan serangkaian kegiatan pelatihan kompetensi. 

Melalui NLC, kami menyelenggarakan pelatihan-pelatihan kompetensi. Dari tiap peserta ada sejumlah uang yang langsung kami sisihkan untuk biaya sekolah kedua anak kecil itu. Para peserta pelatihan kami informasikan tentang niat kami dan syukurlah mereka mendukung. Bahkan ada yang ikut menambah jumlah donasi. Herannya... Meski dana awal sudah kami sisihkan, kami tidak pernah mengalami kerugian. Biaya operasional tetap tertutupi. Saya makin yakin akan janji Tuhan bahwa kita tidak akan kekurangan sekalipun kita sering memberi. 

Dengan kegiatan pelatihan tersebut, semua pihak mendapatkan manfaat. Para peserta mendapatkan ilmunya, pelatih (trainer) mendapatkan rejeki dan jaringan sosial, anak-anak yatim mendapatkan dana untuk sekolah, dan kami mendapatkan kesempatan untuk berbagi rasa syukur dan juga rejeki. Tidak bisa dikatakan kebahagiaan yang kami rasakan. Kegiatan ini berlangsung terus menerus hingga kini (tahun 2016). 

Hanya dalam waktu singkat, ibu dari anak-anak yatim itu mampu bangkit kembali. Bantuan kami hentikan. Kami beralih pada proyek berikutnya. NLC mampu mengumpulkan dana untuk membantu SPP 6 anak panti asuhan selama 1 tahun pelajaran. Kami punya program "Tuntas SD". Jadi anak-anak yang dibantu adalah anak-anak sekolah dasar agar mereka lulus dari SD. Supaya dengan bekal pendidikan, mereka dapat mengubah hidup mereka lebih baik. Kami ingin jumlah anak-anak jalanan berkurang dengan cara mengembalikan mereka pada bangku sekolah. Kami yakin hanya dengan pendidikan yang baik, kualitas hidup individu meningkat. 

Ternyata kegiatan saya dalam bidang sosial ini mendapatkan dukungan dari teman-teman baik saya. Mereka selalu ada saat saya membutuhkan. Kepercayaan yang mereka berikan pada saya sungguh luar biasa. Kami pernah membantu suatu SD minus di daerah Surabaya dalam bentuk buku-buku pelajaran hingga tas sekolah per anak. Siswa seluruh SD tersebut ada 64 anak, mulai dari kelas 1 s/d 6. Donasi yang terkumpul berasal dari 42 orang. Luar biasa! Tidak seluruhnya saya kenal juga. Jaringan pertemanan yang membuat hal itu terjadi. 

Bersama teman-teman yang peduli, kami pernah membantu seorang teman yang terkena tumor tiroid. Operasinya berjalan lancar. Dan sangat menggembirakan kami bahwa kondisi kesehatannya pulih 100%! Bantuan yang kami berikan mulai dari biaya operasi (dokternya gratis lho..), obat-obatan, hingga sembuh total. Uang jajan anak-anaknya selama ibunya sakit, uang transport untuk berobat, uang belanja selama ibunya sakit, dan berbagai kebutuhan sekolah anaknya, juga kami berikan. Prinsipnya kami ingin membantu tuntas. Kami hanya ingin teman kami fokus pada penyembuhannya, tanpa perlu kuatir pada hal-hal lainnya. Hebatnya lagi... Para sahabat saya sepakat dengan misi saya itu. Bantuan dana mengalir tanpa henti, dengan atau tanpa proposal yang saya buat. 

Berbagi Aset Paling Berharga : Waktu! 

Berbagi paling mudah adalah membagikan sesuatu yang bisa kita cari lagi, misalnya : barang bekas atau uang. Kita bisa membeli lagi barang lebih bagus atau kita bisa cari lagi uang yang kita donasikan. Berbagi ilmu juga termasuk mudah karena makin kita bagikan, makin dalam pemahaman kita terhadap ilmu itu. Namun yang paling susah dan butuh keikhlasan lebih adalah berbagi waktu. Karena waktu tidak bisa dicari lagi, dibeli, atau dikembalikan. Waktu adalah satu-satunya aset paling berharga yang dimiliki manusia (http://www.kompasiana.com/naftalia/fasilitas-hidup-sebagai-manusia). Ke mana kita akan menggugat bila waktu kita habis? Tidak ada dan tidak bisa! 

Pengalaman dalam "menyumbangkan" waktu terjadi ketika bencana kecelakaan pesawat terbang Air Asia QZ 8501. Bersama dengan para rekan sejawat, kami mendirikan posko, memberikan layanan psikologi dan mendampingi keluarga penumpang mengidentifikasi jenazah yang ditemukan. Pelayanan tanpa henti selama kurang lebih 2 bulan (Desember 2014 s/d Februari 2015) membuat saya kagum dan salut pada rekan-rekan sejawat saya. Mereka, para psikolog, secara suka rela bertugas di posko layanan psikologi tanpa kenal lelah. Tidak ada honor untuk pengabdian mereka. Tidak ada uang ganti transport juga lho. Tidak ada uang makan. Semuanya ditanggung masing-masing pribadi. Kebetulan saya sendiri bertugas sebagai koordinator posko khusus bagian penjadwalan tenaga piket. Saya menyaksikan betapa tinggi komitmen para rekan saya selama 2 bulan tersebut.

Momen puncak dalam hal ikhlas berbagi waktu adalah tanggal 31 Desember 2014. Malam pergantian tahun baru, di mana orang lain sedang berkumpul bersama keluarganya, merayakan malam tahun baru, atau beribadah, tapi kami tidak. Perpindahan posko dari Juanda ke Polda Jatim membuat kami bertahan di posko Polda Jatim pada malam pergantian tahun hingga menjelang tengah malam (gambar di atas). Keluarga kami rela berbagi anggota keluarganya bertugas di sana. Sebagian dari kami tidak pergi beribadah dan mereka berkata, "Apa yang saya lakukan di sini juga ibadah". Amazing!

Hanya waktu yang saya miliki sepanjang "karier" saya sebagai orangtua. Senyampang saya masih diberi kesempatan hidup, saya senang sekali membagikan waktu saya dengan anak-anak saya. Mendengarkan mereka bercerita tentang apa saja (dan saya tidak selalu paham topiknya.. heheh...), memeluk mereka ketika mereka konflik dengan temannya, hadir dalam tiap even pentingnya, dan sebagainya adalah bentuk tertinggi "karier-orangtua" saya. Butuh perjuangan untuk meletakkan HP saat mereka bercerita... hahaha... Ya nggak? Hasilnya memang belum bisa sepenuhnya saya lihat sekarang ini. Mungkin saya sudah tidak punya waktu lagi ketika hasilnya nampak nanti. Tetapi yang terpenting saya sudah berusaha memberikan waktu-waktu terbaik saya untuk anak-anak saya. Semoga kelak mereka menjadi pribadi yang berguna bagi lingkungan sekitarnya.

Hari Ini...

Saat ini, Kamis 15 September 2016, pk. 11.30, saya melihat kembali apa yang telah terjadi. Apapun yang pernah saya lakukan, tidak sebanding dengan apa yang sudah Tuhan berikan dalam hidup saya. Saya tidak pernah tahu apa yang sudah saya lakukan itu sudah cukup atau belum. Oleh karena itu, saya memlih untuk terus membagikan apa yang saya bisa sebagai wujud rasa syukur atas berbagai hal yang terjadi dalam hidup saya.

Lakukan saja. Bagikan saja. Hingga tiba saatnya nanti.

Sidoarjo, 15 September 2016

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun