"Tapi ayah sudah janji mau berhenti kalau aku bantu ayah.." si anak merengek. Menagih janji sang ayah.
"Yaaa... tapi itu khan kalau kamu dapat 1000 like. Sekarang ini sudah berapa like kamu dapatkan? Cuman 50 khan? Artinya ayah masih boleh merokok.. " jawab ayah kalem.
"Ayah, aku takut ayah sakit. Aku dan mama sayang ayah. Nggak peduli jumlah like itu, Yah. Berhentilah merokok..." diiriingi isak tangis, anak memohon ayahnya berhenti merokok.
"Kamu nggak berhasil dapat 1000 like kok, ya ayah nggak bisa dong berhenti merokok," kilah si ayah tanpa beban.
Kemungkinan dialog semacam itu yang akan terjadi. Anda lihat, siapa yang harusnya bertanggungjawab? Jadi menurut saya, cara berhenti merokok-dengan-syarat-1000-like itu samasekali tidak benar. Niat palsu. Ayah yang menggunakan anaknya itu tidak sungguh-sungguh ingin berhenti. Kalau dia mau berhenti, maka dia akan proaktif. Ia akan mengunjungi terapis, berkonsultasi dengan dokter, berkomitmen mengurangi jumlah rokok per harinya, dan bisa juga minta bantuan keluarga/teman untuk menegurnya bila ia sudah melewati batas jumlah rokok yang ia tentukan.
Anak Belajar Menjadi Orang yang Tidak Bertanggungjawab
Sisi lain dari fenomena tersebut adalah anak belajar untuk tidak bertanggungjawab pada perilakunya. Ia melihat kalau dia mau berhenti dari suatu perilaku, maka hal itu bisa dilakukan dengan syarat. Kalau dia ingin berhenti mengompol, maka ia akan bilang ke ibunya : "Kalau Ibu bisa dapat 1000 like, aku berhenti ngompol."Â Nah..
Anak belajar untuk melakukan sesuatu dengan syarat, padahal kita mengajarkan anak-anak untuk bisa mencintai tanpa syarat. Dalam hal ini, anak 'dipaksa' untuk memiliki paradigma :
- Kita tidak bisa menghentikan perilaku kita yang salah, karena keputusan untuk berhenti itu tergantung pada orang lain
- Kalau tidak ada orang yang mau membantu kita untuk berubah, maka sebaiknya kita tidak berubah.
Apa memang paradigma seperti itu yang kita inginkan tumbuh dalam diri anak-anak kita?