Mohon tunggu...
Nadia PermataPutri
Nadia PermataPutri Mohon Tunggu... Mahasiswa - mahasiswa

saya merupakan mahasiswa jurusan Akutansi Syariah di UIN Raden Mas Said Surakarta hobi saya mendengarkan musik

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Moderasi Islam di Era Globalisasi dalam Pandangan Kearifan Lokal Jawa

15 Oktober 2024   18:12 Diperbarui: 15 Oktober 2024   18:51 22
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Selain sebagai agama yang menduduki posisi mayoritas di tengah keberagaman agama-agama di Indonesia, Islam di negeri kepulauan ini dikenal sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan keluhuran adab yang adi luhung.

 Persenyawaan yang harmonis antara ajaran substansial agama islam dengan kebudayaan nusantara, menjadikan agama ini menempati posisi tersendiri di hati masyarakat. Namun sayangnya, realitas ini berlaku di era pra reformasi ke belakang. 

Pasca runtuhnya era orde baru tahun 1998 silam sampai saat ini, wajah islam di Indonesia cenderung ditampilkan dengan semakin garang dan geram. Kenyataan ini, diperburuk dengan datangnya era globalisasi, sehingga turut serta dalam membentuk opini di masyarakat, khususnya antar pemeluk agama islam.


Kearifan lokal masyarakat sudah ada di dalam kehidupan masyarakat semenjak zaman dahulu mulai dari zaman prasejarah hingga saat ini, kearifan lingkungan merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang datang bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat.

Moderasi Islam dalam bahasa arab disebut dengan al-Wasathiyyah al-Islamiyyah. Al-Qaradawi menyebut beberapa kosakata yang serupa makna dengannya termasuk kata Tawazun, I'tidal, Ta'adul dan Istiqamah. Sementara dalam bahasa inggris sebagai Islamic Moderation. 

Moderasi Islam adalah sebuah pandangan atau sikap yang selalu berusaha mengambil posisi tengah dari dua sikap yang berseberangan dan berlebihan sehingga salah satu dari kedua sikap yang dimaksud tidak mendominasi dalam pikiran dan sikap seseorang. 

Dengan kata lain seorang muslim moderat adalah muslim yang memberi setiap nilai atau aspek yang berseberangan bagian tertentu tidak lebih dari porsi yang semestinya. Karena manusia-siapa pun ia tidak mampu melepaskan dirinya dari pengaruh dan bias baik pengaruh tradisi, pikiran, keluarga, zaman dan tempatnya, maka ia tidak mungkin merepresentasikan atau mempersembahkan moderasi penuh dalam dunia nyata. 

Hanya Allah yang mampu melakukan hal itu. Konsep "Islam moderat" pada dasarnya hanyalah sebatas tawaran yang semata-mata ingin membantu masyarakat pada umumnya dalam memahami Islam. Bersikap moderat dalam ber-Islam bukanlah suatu hal yang menyimpang dalam ajaran Islam, karena hal ini dapat ditemukan rujukannya, baik dalam al-Qur'an, al-Hadits, maupun perilaku manusia dalam sejarah. 

Kearifan lokal Jawa sebagai bagian dari kebudayaan Jawa telah menjadi bagian penting dari denyut nadi kehidupan masyarakat Jawa dan mereka yang simpati dengan kebudayaan Jawa. Kearifan lokal Jawa, sebagiamana kearifan lokal lainnya, memiliki posisi yang sangat strategis.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun