Dan seperti yang diceritakan dalam film, keengganan para MAHID mengakui rezim Orde Baru harus dibayar mahal. Tidak hanya di cap sebagai Soekarnois, tapi mereka juga di cap sebagai komunis. Meski sebenarnya banyak dari para MAHID yang menolak Orde Baru tersebut dengan tegas menyatakan bahwa mereka BUKAN KOMUNIS. Namun, yang lebih menyakitkan dari semuanya adalah dicabutnya kewarganegaraan Indonesia para MAHID tersebut hingga mereka tidak lagi memiliki kesempatan untuk kembali ke tanah air dan harus hidup terasing di negeri orang.
Latar belakang sejarah 1965 yang diangkat lewat film Surat dari Praha ini seolah membuka sebuah cerita yang jarang diangkat dan diketahui masyarakat. Sebuah fakta bahwa lahirnya rezim Orde Baru yang penuh dengan pergolakan tersebut nyatanya masih meninggalkan dosa dan luka terutama pada mereka, orang-orang yang tidak pernah diadili tetapi dipaksa menerima hukuman hanya karena mengambil keputusan yang tidak sejalan dengan pemerintahan.
Hmm, kok semakin lama pembahasannya semakin berat ya, jadi mari kita sudahi pembahasan tentang sejarah yang menjadi latar belakang film ini sebelum jadi semakin panjang, hehe. Bagi saya dan mungkin bisa dijadikan referensi bagi teman-teman yang berencana menonton film yang dibintangi Tyo Pakusadewo, Julie Estelle dan Widyawati ini adalah sebuah hasil karya yang mampu secara apik mengemas sejarah lewat romansa cinta yang meski berjalan lambat sepanjang adegan tetapi tidak membuat penonton bosan.
[caption caption="Pemeran utama film Surat dari Praha, Julie Estelle dan Tyo Pakusadewo,| Ilustrasi: Twitter @SuratDariPraha"]
Selain menyajikan cerita yang apik dan menarik, hadirnya lagu-lagu cinta karya Glenn Fredly juga akan membuat kita hanyut dan terbuai lewat lirik dan arassemen lagu yang sudah tidak diragukan lagi dan tentu saja menjadi nilai plus dari film ini. Ibarat kata pepatah lama, sekali dayung dua tiga pulang terlampaui. Hadirnya tema cinta dan lagu-lagu Glenn Fredly juga diakui oleh Angga sebagai usaha yang relevan dan daya tarik yang digunakan agar para penonton dari kalangan generasi muda yang hanya sedikit mengetahui serpihan sejarah peristiwa 1965 hanya lewat buku-buku pelajaran sejarah di sekolah tergerak untuk datang dan menonton film ini.
Jadi jangan ragu untuk datang ke bioskop dan menonton film ini, karena setelah menonton filmnya mungkin Anda akan memikirkan hal yang sama seperti yang saya pikirkan, bahwa sudah saatnya bagi mereka yang masih terjebak nostalgia pada slogan “Piye enake jamanku toh?” untuk membuka mata dan move on.
“Politik berubah, kekuasaan berubah, ilmu pengetahuan berubah, hanya cinta dan musik yang tidak pernah berubah.” - Jaya
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H