Didirikan pada tahun 1971, Five Power Defence Arrangements telah berhasil eksis dan bertahan selama puluhan tahun, bahkan 31 tahun setelah Perang Dingin berakhir. Mengikuti perkembangan zaman beserta perubahan tatanan dunia internasional, suatu pertanyaan krusial muncul. Â Apakah FPDA masih memiliki relevansi atau fungsinya di era kontemporer ini ?
Salah satu "relik" peninggalan dari Perang Dingin adalah aliansi Five Power Defence Arrangements atau (FPDA). FPDA beranggotakan empat negara persemakmuran Inggris (Commonwealth), yakni Australia, Malaysia, Singapura, Selandia Baru, beserta Britania Raya selaku pemimpin persemakmuran. Mirip seperti NATO, FPDA memiliki prinsip "serangan terhadap satu anggota berarti serangan untuk semuanya" Namun, tidak seperti NATO yang mengikat setiap anggotanya, FPDA lebih fleksibel dan tidak mengikat, sehingga setiap anggota dapat sewaktu-waktu meninggalkan organisasi. (Min Zhang, 2021) (Nurdin Rahmat, 2013, hlm 1-3)
Pada awal berdirinya, FPDA memiliki tujuan utama untuk mempertahankan Malaysia dan Singapura yang saat itu baru saja merdeka dan tidak memiliki pertahanan mumpuni untuk melindungi diri mereka sendiri. Ancaman terbesar bagi FPDA sendiri saat berdirinya adalah penyebaran komunisme dan potensi invasi oleh Indonesia terhadap Malaysia dan Singapura yang sebelumnya sempat terjadi di bawah komando Sukarno melalui Operasi Dwikora. Â (Nurdin Rahmat, 2013, hlm. 2)
Berakhirnya Perang Dingin, keruntuhan Uni Soviet, dan jatuh (menurunnya) Britania Raya sebagai salah satu hegemon dunia, ternyata tidak mengakhiri eksistensi FPDA. Munculnya Tiongkok sebagai kekuatan baru dan anggapan, bahwa masih adanya ancaman dari Indonesia dapat dinilai sebagai alasan utama yang dapat merekatkan keberadaan FPDA.
Akan tetapi, kembali kepada pertanyaan awal, apakah FPDA dapat mengatasi ancaman-ancaman tersebut ?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, terdapat tiga hal esensial yang harus dianalisis dalam FPDA, yaitu fungsinya, potensinya dan efektivitasnya. Â Â Â Â Â
Pertama, fungsinya. Relevansi suatu hal akan berbanding lurus dengan fungsinya. Dahulu kala, kuda merupakan salah satu binatang paling penting bagi kehidupan manusia. Kudadapat berguna dalam banyak hal, kuda memberikan daging, susu, dan utamanya sebagai salah satu sarana transportasi manusia. Namun, munculnya kendaraan bermotor dapat menggeserkan relevansi ini, sehingga pada saat ini kuda tidaklah terlalu penting. Atau dalam bahasa kasarnya, kuda dapat "dienyahkan saja" dan  tidak akan terjadi perubahan signifikan pada dunia.
Berdasarkan analogi tersebut, maka FPDA harus tetap memiliki fungsi utama yang tidak tergantikan untuk dapat selalu relevan. Dalam hal ini, kembali kepada alasan utama berdirinya FPDA, adalah untuk mempertahankan negara-negara persemakmuran Inggris, terutama Singapura dan Malaysia dari potensi ancaman-ancaman keamanan terhadapnya. Saat ini ancaman terbesar bagi mereka adalah Tiongkok. (Dasgupta, 2022)
Fungsinya ini, dalam satu sisi masih relevan, mengingat sifat ofensif dan "agresif" yang dilancarkan Tiongkok pada dua dekade terakhir, terutama di wilayah Laut Tiongkok Selatan. (Dasgupta, 2022) Â Namun, untuk ancaman militer dari Indonesia sendiri merupakan hal yang sedikit mustahil untuk dapat terjadi, track-record hubungan dan sikap Indonesia terhadap dunia internasional selama 20 tahun terakhir ini dinilai cukup baik. Dapat dilihat dari sikap Indonesia yang belum pernah terlibat konfrontasi dengan negara lain pasca reformasi dan sikap Indonesia yang terbuka terhadap resolusi konflik tanpa menggunakan cara-cara kekerasan. Contoh riil dari komitmen Indonesia ini adalah kemauan dan ketundukan Indonesia terhadap hasil keputusan ICJ mengenai kasus Pulau Sipadan-Ligitan dengan Malaysia.
Dengan demikian, masih menganggap Indonesia sebagai ancaman dan bahkan melakukan aksi yang "memprovokasi", seperti menyadap Presiden SBY, bukanlah langkah yang bijak mengingat adanya ancaman dengan Tiongkok yang lebih "mungkin dan nyata". (Permata Hanggu et al., 2018, hlm. 42-45)
Kedua, efektivitasnya. Sama seperti bentuk aliansi-aliansi lainnya, FPDA melindungi negara anggotanya, serta memberikan detterent effect terhadap negara yang memiliki potensi untuk mengancam keamanan anggotanya. Akan tetapi, katakanlah suatu skenario yang mana FPDA terpaksa mengeksekusi prinsip atau tujuan utamanya karena agresi yang dilakukan oleh Tiongkok terhadap Singapura dan Malaysia, seberapa besarkah  kapabilitas FPDA untuk dapat melawan ?
Jika ditinjau dari kapabilitas militernya, seluruh kekuatan gabungan FPDA tidak sejajar dengan kekuatan Tiongkok. Terlebih, Inggris yang terletak jauh di Eropa Barat tentunya tidak dapat dengan cepat merespons terhadap agresi yang dilakukan Tiongkok karena tidak seperti AS yang memiliki armada tempur di mana-mana pada military bases-nya. Ketiadaan military-bases dari Inggris di wilayah Singapura dan Malaysia dan sekitarnya tentu menghambat bantuan dari negara-negara anggota FPDA.
Lebih lanjut, untuk sekadar menjalankan aktivitas sehari-harinya, terlebih menggerakkan armada tempurnya, suatu negara membutuhkan energi. Dalam hal ini, pihak Barat atau blok Barat sedang memiliki sedikit "krisis" dengan ketersediaan energi di dalam negeri mereka. Britania Raya, selaku negara Induk dari FPDA tercatat sedang memiliki krisis besar terhadap ketersediaan energi dalam negeri akibat dari konflik Rusia-Ukraina. Dapat dilihat, bahwa negara-negara Eropa memiliki keterbatasan terhadap sumber energi ini. Dengan demikian, akan sangat sulit bagi Inggris untuk dapat menghidupkan mesin perangnya, seperti armada tempur dan kapal induk ketika kebutuhan energi dalam negeri saja sedang mengalami kekurangan. (Ashkenaz, 2022)
Ketiga, potensinya. Anggota FPDA adalah negara-negara persemakmuran Inggris. Maka, dalam hal ini negara-negara persemakmuran Inggris lainnya memiliki potensi untuk dapat bergabung dengan FPDA. Negara yang memiliki potensi tinggi untuk ikut bergabung adalah India. India merupakan calon potensial superpower dunia. (British High Commission New Delhi, 2022). India memiliki militer dan ekonomi yang kuat, serta memiliki senjata nuklir. Â Â
Tidak hanya itu, letaknya di Asia Selatan, terlebih berbatasan dengan Tiongkok juga membuatnya dapat bergerak cepat untuk retaliasi bila agresi dari Tiongkok terjadi. Selain itu, hubungan Tiongkok dan India yang seringkali mengalami tensi dalam beberapa tahun terakhir tentunya merupakan nilai tambah untuk dapat "mendorong" India bergabung dengan aliansi. (Srivastava & Tiberghien, 2022)
Dengan demikian, relevansi FPDA saat ini utamanya ditujukan untuk menghadapi ancaman dari Tiongkok. Namun, untuk mencapai hal tersebut, FPDA harus melakukan banyak pembaharuan terhadap organisasinya, dengan pengembangan senjata, arus suplai atau stok energi yang jelas pada dan antar negara anggota, pendirian joint-military bases di wilayah Singapura dan Malaysia, serta potensi untuk dapat menjadi "SPDA" (Six Powers Defence Agreement) dengan mengajak India untuk dapat turut bergabung. Barulah FPDA dapat dikatagorikan sebagai detterent force yang memadai untuk melawan Tiongkok.
Akan tetapi, jika FPDA lebih memilih untuk stagnan dan stay as it is, maka benar FPDA hanyalah suatu relik Perang Dingin yang tidak memiliki signifikansi dan telah usang.Â
DAFTAR PUSTAKA :
Ashkenaz, A. (30 Mei 2022). Six million UK households now face BLACKOUTS this winter as energy crisis deepens. Express.co.uk. https://www.express.co.uk/news/science/1617972/energy-crisis-six-million-uk-household-blackouts-winter-russia-eu
British High Commission New Delhi. (14 Maret 2022). UK celebrates strength of Commonwealth ties in India. GOV.UK. https://www.gov.uk/government/news/uk-celebrates-strength-of-commonwealth-ties-in-india
Dasgupta, S. (14 Juni 2022). Five Nations Revive 51-year-old Security Pact Amid China Threat. VOA. https://www.voanews.com/a/five-nations-revive-51-year-old-security-pact-amid-china-threat/6616972.html
Min Zhang, L. (14 November 2021). Five-power defence pact's challenges 50 years on. Www.straitstimes.com. https://www.straitstimes.com/singapore/five-power-defence-pacts-challenges-50-years-on
Nurdin Rahmat, A. (2013). Five Power Defence Arrangements dalam Pandangan Konstruktivisme. Jurnal Interdependence, 1(1), 1--20.
Permata Hanggu, F., Hutabarat, L., & Harnowo, S. (2018). DIPLOMASI PERTAHANAN INDONESIA KEPADA NEGARA ANGGOTA FIVE POWER DEFENCE ARRANGMENTS (MALAYSIA, SINGAPURA, AUSTRALIA, SELANDIA BARU, INGGRIS) TAHUN 2000-2017. Jurnal Prodi Diplomasi Pertahanan, 4(1), 39--56.
Srivastava, M., & Tiberghien, Y. (26 Maret 2022). The paradox of China--India relations. East Asia Forum. https://www.eastasiaforum.org/2022/03/26/the-paradox-of-china-india-relations/
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI