Pikiran/kesadaran benar Memiliki pikiran yang bersih, bijaksana, dan benar. Perasaan benar adalah ketika seseorang merasa benar, tulus, dan sesuai dengan prinsip-prinsip moral. Perkataan benar adalah ketika seseorang berbicara jujur, sopan, dan tidak menyakiti orang lain. Perbuatan benar adalah ketika seseorang melakukan tindakan yang baik, bermanfaat, dan sesuai dengan norma-norma yang berlaku
Konsep Ilmu Kantong Bolong
Kantong bolong: simbol seseorang yang selalu memberi tanpa pamrih, seolah-olah kantongnya selalu bolong, sehingga semua yang dia miliki selalu diberikan kepada orang lain. Yen Ana Isi Lumuntur Marang Sesame, Nulung Papadane Ora Nganggo Mikir Wayah, Waduk, Kantong. Artinya adalah membantu orang lain tanpa mempertimbangkan waktu, tenaga, atau keuntungan pribadi. Selalu memberi orang lain apa yang Anda miliki. Hidup adalah berbagi, baik itu tanpa pamrih maupun tanpa pamrih. Ini menunjukkan cara hidup yang berfokus pada memberikan dan membantu orang lain tanpa mengharapkan hasil.
Tujuan Ide ini:
1. Menghapus Kemelekatan: Ide ini bertujuan untuk menghilangkan kemelekatan pada materi atau sifat mementingkan diri sendiri.
2. Menumbuhkan Kepedulian: Mendorong orang untuk menunjukkan kepedulian yang lebih besar terhadap sesama dan lingkungan sekitar mereka.
3. Mencapai Kebahagiaan: Seseorang akan merasakan kebahagiaan dan kepuasan batin jika mereka memberikan sesuatu tanpa pamrih.
- Mengapa Sosrokartono memilih jalan menjadi seorang pemimpin?
Raden Mas Panji Sosrokartono, seorang tokoh penting dalam sejarah gerakan nasional Indonesia, memilih jalan menjadi pemimpin karena dorongan kuat untuk memperjuangkan kemerdekaan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pendidikannya di Belanda, termasuk di Technische Hogeschool, memberinya lebih banyak pengetahuan teknis dan meningkatkan komitmennya terhadap tanah airnya.Â
Sosrokartono dipengaruhi oleh keadaan masyarakat yang terjajah dan kesulitan yang dialami rakyat Indonesia sebagai akibat dari kolonialisme. Dia merasa terdorong untuk membantu melalui pendidikan dan aktivisme politik setelah menyaksikan ketidakadilan ini. Ia menolak berbagai tawaran pekerjaan dari pemerintah Hindia Belanda karena dia pikir itu melanggar moral dan nasionalisme. Keberaniannya menolak tawaran menunjukkan komitmennya untuk tidak bekerja sama dengan penjajah.Â