"Pandai-pandailah membagi waktu, belajar manejemen waktu dari sekarang. Karena nanti begitu menjadi seorang istri, tugasnya lebih banyak. Menjadi perempuan itu harus bisa segala hal. Multitalenta. Betul apa betul?"
"Betuuul!" jawab jama'ah serentak.
Arini menyeka air matanya, nafasnya mulai sesak, hidungnya merah dan berlendir. Ia kemudian bangkit, berjalan menunduk dan berjingkat di antara jama'ah lain. Setelah sampai luar, gadis itu berlari ke toilet.
Bruk! Ia menabrak seseorang di pintu.
"Arini kamu kenapa?" Ternyata seseorang yang bertabrakan dengannya adalah Nisa sahabatnya.
"Kamu sakit ya? Mau pulang duluan aja ya, aku anter, ijin aja dulu sama Mbak Ratna, biar dia hendel tugas kamu, oke?!"
Arini hanya menurut kata Nisa, ia tak bisa berpikir panjang.
***
Setengah jam berlalu, Arini sampai ke rumahnya yang nampak sepi.
Ia masuk perlahan, beberapa kali mengucap salam tak ada jawaban. Perasannya semakin gak enak, melihat keadaan rumah, yang masih berantakan. Perabot dagangan ibunya masih tergeletak acak di atas meja. Tidak seperti biasanya, sudah rapi saat ia pulang kuliah. Hatinya mulai cemas. Ia langsung menuju kamar ibunya.
"Ibu!"