Ki Dulah
rumpun bambu berbisik ngilu saat angin menghempas kasar
terdengar parau bagai tangis gadis merindu kekasih
daun jatuh berguguran
menguning, layu
tergolek di hamparan rumput kering
pucat keabuan
lama, hujan tak bertandang
meninggalkan sawah kerontang
Ki Dulah telah naik ke pematang
menyusuri jalan setapak untuk pulang
di teras gubuk yang mulai berdebu
dipan usang menunggu
dari bilik kayu sang Istri ke luar
membawa sepiring singkong rebus
bekas
cicak berpesta
di bawah tudung saji dari anyaman bambu Apus
sambil menyeruput kopi
mendengarkan siaran televisi dari rumah tetangga
tentang berita
kemajuan ekonomi mengalami kenaikan tahun ini
Ki Dulah tak peduli
parang dan cangkul tumpul
lebih memikat dari pada kata sepakat
kabar angin yang diliput
meski luput
perut terus menuntut
minta diisi
sesuap nasi dari tangan sendiri