Mohon tunggu...
EM EM Diahmad
EM EM Diahmad Mohon Tunggu... Guru - m muslihat diahmad

abituren nw, alumnus iain yogya, pasca sarjana STIE Trianandra

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Imbas Virus Koronikah Ini?

7 April 2020   12:59 Diperbarui: 7 April 2020   14:02 14
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Imbas Virus Koronakah Ini?

Ketika mendapatkan gangguan, imbas jasmani ke rohani, tidur tak nyenyak, bangun tak enak bahkan perlu bantuan. Kenakan pakaian terasa sesak, lepaskan pun kesulitan. Selama sepekan terusik   sekujur badan, dari kepala hingga ujung kaki. Sambil merasakan dan menahan, nyeri pun lambat laun merambat hilang dan muncul lagi. Tanpa putus harap, karunia Allah pun segera datang. Harapan sembuh membuncah. Optimisme dan semangat hidup menguat. Nikmat Tuhan yang mana terus kita dustakan? Karunia nikmat-Nya berlapis dan kita tidak mampu menghitungnya.

Di tengah kegalauan pandemi virus corona yang melanda berbagai negeri, dan keperihan yang mengganggu, penulis mencoba keluar dan berhasil membeli sebuah tongkat sebagai penyangga tubuh untuk tetap tegak. Semangat  untuk pulih walau dalam perjalanan tertatih-tatih. Berusaha sekuat tenaga dan berdo’a moga sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa.

Sambil berangkat menuju fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKPT) di Puskesmas, penulis mendaftar guna mendapatkan rujukan. Dapat rujukan pada hari Senin tanggal 17 Februari 2020, kemudian langsung menuju ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL), sebuah rumah sakit swasta, tempat yang ditunjuk, dengan harapan dapat pelayanan tindakan sore harinya.

Tetapi harapan pupus. Staf informasi rumah sakit memberi keterangan singkat bahwa rujukan untuk saat ini sepuluh hari kemudian, tepatnya tanggal 28 Februari 2020, hari Jumat. Saya heran, kenapa tidak mengambil dua hari saja setelah itu yaitu tanggal 19 misalnya? Tanpa diskusi panjang, ambil hikmahnya. Hikmah apalagi yang didapat dengan penangguhan ini. Terpaksa menunggu selama sepuluh hari, dampak corona virus kah ini?

Sepuluh hari lamanya penantian, sambil bertahan menjalani rasa nyeri sekujur tubuh semampu mungkin. Ingat Sayyidul Istghfar yang senantiasa dilantunkan Rasul Saw “Allahumma Anta Rabbi” dan seterusnya. Toh Allah tidak membebani hamba-Nya dengan memberi beban berat yang tidak bisa dilakukan dan diemban hamba-Nya. Selalu tetap bertahan semampu raga, sambil menunggu jadwal rawat jalan tiba.

Tiba tanggal pemeriksaan, tepat waktunya sesuai yang dinanti. Proses diperiksa dan didiagnosa dokter ahli  sesuai urutan, selesai pukul sepuluh malam. Alhamdulillah, cuaca cerah, pemeriksaan dan diagnosa selesai, proses cukup lancar. Resep obat siap sesuai petunjuk dan keterangan. Takaran dan dosis sesuai resep dokter. Sepadan untuk kebutuhan satu minggu.

Ketika pengambilan obat di instalasi farmasi, ternyata ada satu jenis obat yang diresepkan tidak ditanggung oleh program BPJS Kesehatan. Empat jenis obatnya. Satu unit jenis obat di antaranya tidak mencantumkan label obat, hanya takaran resep tertera tulisan “dua x sehari” satu tablet setelah makan, dalam porsi sebanyak kebutuhan satu minggu. Ada nilai dan harga yang cukup karena di luar tanggungan BPJS. Tanpa surat tanda terima atau kuitansi, langsung dibayar. Tidak apa-apa demi kesehatan terawat.

Seminggu kemudian, dengan membawa surat keterangan masih dalam masa perawatan tingkat lanjut (RJTL) rumah sakit rujukan, lagi-lagi dijanjikan sepuluh hari mendatang yaitu tanggal 13 Maret 2020, padahal jelas-jelas tertera dalam RJTL rekomendasi dokter tanggal 6 Maret 2020. Tidak apa-apa toh dalam kondisi normal, waktu pun tidak tergesa-gesa. Imbas virus coronakah ini?

Pada tanggal 12, sehari sebelum tanggal 13 Maret,  mendaftar lagi buat kontrol sore harinya.  Informasi yang saya dapat bahwa pada hari Kamis tidak ada jadwal poli tersebut di sana. Terkejut? Tidak juga. Lantas saya mengajukan daftar yang sudah dijanjikan tanggal 13 Maret 2020. Tapi lacur dan mengherankan. Oleh staf informasi rumah sakit dikatakan, sambil menganulir jadwal tertulis tangan tanggal 13 tadi, dengan alasan ada acara di sana. Apakah gara-gara covid 19 di sana, maka jadwalnya ditangguhkan lagi? Pertanyaan terulang lagi di dalam hati.

Maka cek up dialihkan lagi sepuluh hari kemudian yakni tanggal 23 Maret 2020, hari Senin. Penantian yang cukup lama, dari tanggal 6 Maret ditunda sampai 13 Maret, kemudian dialihkan  menjadi 23 Maret. Prestasi penundaan yang layak untuk direnungkan, berbuah keheranan. Tiga kali penundaan. Bayangkan, kebutuhan dasar kesehatan diberi celah sampai berkali-kali penundaan. Apakah ini imbas virus corona di sana?

Tanpa peduli ada acara atau tidak, imbas virus corona atau tidak, saya tekadkan diri mendaftar langsung dengan mengambil antrean  tanggal 13 Maret 2020 besok hari, karena kalau menunggu sampai tanggal 23 sungguh jauh jaraknya dan lelah menantinya. Persediaan obat pun habis. Kode penyakit yang harus dilayani dengan kontrol sekali seminggu dan dokter sendiri memberi rekomendasi dengan jaminan RJTL Jumat 6 Maret 2020 sudah terlewati.

Menilik penyakit satu ini, bukan penyakit degeneratif yang biasa dikontrol sebulan sekali. Seperti diabetes melitus di poli dalam misalnya. Tetapi berdurasi sepekan. Sebuah pertanyaan, bahwa rumah sakit yang berlabel tanggap, aman, damai, artinya siap melayani dengan setulus hati, berarti bahkan dengan demikian tidak seharusnya mendahulukan bisnis semata daripada abai terhadap pelayanan dan kenyamanan  pasien. Keikhlasan seharusnya didudukkan beriringan sebagai suatu lembaga yang menyejahterakan. Ah, lagi-lagi pemikiran tak waras alias ngawur menyentuh benak ini patut diabaikan. Apakah ini imbas virus corona yang melanda, atau imbas ditunda terus sampai tiga kali?

Prasangka buruk yang memicu adrenalin meningkat deras dan denyut jantung yang tidak stabil perlu dipulihkan dengan cara berpikir jernih, perasaan bening, suasana damai dalam keheningan do’a. Sambil mengucapkan “Astagfirullah al-Azhim” urung niat tadi  dilakukan, tidak melanjutkan niat  menggugat kembali ke rujukan semula. Sadar dan tulus menanti sampai tanggal 23 Maret nanti. Ambil  hikmahnya sambil menunggu puluhan hari  ke depan, sampai tiba saatnya, 23 Maret.

Menunggu memang melelahkan. Menanti waktunya datang memang meletihkan. Dalam penangguhan, ingat peringatan Allah “Janganlah terlalu silau terhadap apa yang kamu peroleh, dan janganlah terlalu risau terhadap yang hilang dari genggamanmu,” (QS. 57: 23). Artinya, janganlah terlalu gembira terhadap apa yang didapat, dan tidak terlalu sedih terhadap apa yang hilang dari tangan. Semoga ini yang menjadikan hikmahnya lebih besar dari  penderitaan dan penantiannya.

Tiba saat tanggal 23 Maret 2020. Mendaftar sebelum Ashar, dapat antrian nomor tiga puluh tujuh. Berarti mendapatkan giliran sekitar setelah waktu Isya. Datang dan siap dengan suasana antrian yang lengang. Tidak seperti biasanya penuh sesak. Kursi tunggu pun dilakban tanda silang, kode atau tanda untuk mengambil jarak tatap muka yang mesti dan harus dipatuhi. Maklum covid corona 19 sedang berpandemi di semua negara.

Antrean tidak lama, yang menunggu beberapa orang saja. Dapat daftar tunggu yang ketiga. Didiagnosa dokter dan diberi obat untuk porsi satu bulan. Biasanya porsi untuk kode penyakit ini satu minggu. Tetapi bahkan diberikan untuk satu bulan. Inikah artinya imbas virus corona? Dari satu minggu berdampak satu bulan atau empat minggu. Luar biasa. Tunggu sebulan alias empat minggu kemudian, 22 April 2020.

Moga negara dan pemerintahannya, masyarakat dan warganya, para dokter dan medisnya,  mendapatkan kekuatan dan lindungan-Nya dalam manghadapi segala cobaan, termasuk pandemi covic 19 ini. Isytaddi azmatu tamfariji. Puncak kesulitan akan segera sirna, bak malam memberitahu bahwa fajar segera menyingsing. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.*

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun