Mohon tunggu...
Muslifa Aseani
Muslifa Aseani Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Momblogger Lombok

www.muslifaaseani.com | Tim Admin KOLOM | Tim Admin Rinjani Fans Club

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

IndiHome, Internetnya Indonesia, Partner Kisah Jalan Sunyi Seorang Relawan

17 Juli 2022   17:48 Diperbarui: 17 Juli 2022   17:50 437
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Saya dan Bu Linsi, di salah satu momen launching asosiasi UMKM. Dokpri

Setiap tulisan akan sampai pada pembacanya. Betapa senangnya.

Sungguh jadi jawaban dari rasa insecure banyak penulis. Sejatinya, lahirnya satu tulisan, justru penyelamat kewarasan dari si penulis itu sendiri. Bukan apa-apa. Saat siap menjadi penulis, aktivitas 'membaca' tak melulu memelototi kata per kata dari buku, tulisan lain, atau narasi apapun yang berwujud tulisan. 'Membaca' bisa dari sekadar duduk diam di teras rumah, memandangi koleksi tanaman sedang disirami matahari pagi. Kadang, saat mendadak menemani ibu belanja ke pasar tradisional terbesar di kota, tingkah polah pedagang dan pembeli, suasana pasar, menjadi bahan 'bacaan' yang mengasyikkan.

Begitulah yang saya lakukan, sejak akhirnya pede mengundurkan diri dari kantor terakhir, di September 2020 dulu. Saya mulai yakin menjadi blogger seutuhnya, kerap dikenal sebagai full time blogger. Sungguh ingin dikenang sebagai 'penulis', dibanding sebutan profesi lainnya. 'Karir' kepenulisan yang menjadi bekal utama saya bersedekah, melalui berbagai aktivitas kerelawanan.

Mengapa Relawan? Untuk Apa?

Di awal mulai 'project' sedekah tulisan, saya memulainya bersama orang-orang terdekat. Keluarga. 

Seorang kakak sepupu yang terpaksa berhenti 'berkarir' sejak kecelakaan tertabrak truk, justru mulai aktif berkreasi melalui 'sampah'. Nama pena beliau, Putri Linsi. Saat ini, makin aktif di berbagai asosiasi UMKM di Lombok Timur. Sosoknya mengolah berbagai jenis sampah, baik plastik, koran bekas, menjadi produk yang terpakai kembali. Masih dalam sinergi olah kreatifnya, bank sampah sebagai inisiasi awal, sejalan dengan berbagai bentuk baru dari UMKM.

Masih di dunia 'sampah', melalui Putri Linsi saya mengenal pula Aisyah Odist. Aisyah Odist, founder dan eksis bersama Bank Sampah NTB Mandiri. Tak terhitung kali saya menuliskan aktivitas dari dua sosok perempuan inspiratif ini. Konsistensi mereka berdua, mustahil saya nafikan, menjadi bensin penggerak kekeras-kepalaan saya menjalani kerelawanan selama 8 tahun terakhir. 

Sisi lain, di tahun ini , dua organisasi kepariwisataan yang saya ikuti merapat pula pada kawan-kawan dari Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Travel blogger, relawan kepariwisataan, sangat beralasan ketika kemudian saya merapat pada mereka. Tidak di aktivitas yang muluk. Sekadar saling belajar, tentang menuliskan caption dari setiap kegiatan kepariwisataan mereka. Membangun hastag tertentu untuk membantu memasarkan secara digital, konten yang memenuhi unsur dari stakeholder kepariwisataan.


Sedikit contoh dari konsep digital marketing yang saya lakukan bersama pegiat bank sampah, UMKM atau kawan-kawan Pokdarwis, di antaranya:

Pertama, membangun jejak digital. Kembali ke Putri Linsi, salah satu mimpi beliau, ingin sekali hadir di salah satu acara Kick Andy. Kak Lin (panggilan akrab saya), merasa, konsep acara Kick Andy sebagai salah satu jalannya menggerakkan semakin banyak perempuan di luar sana. Keterbatasan fisik (kak Lin sempat bergantung lama pada tongkat untuknya bisa berjalan normal) bukan akhir dunia. Baginya, momen ketika ia kesulitan berjalan, membukakan gerbang aktivitasnya bersama bank sampah dan UMKM. Relatif kini telah menjadikannya seorang 'Womanpreneur'. Mulai tak terhitung kegiatan berskala nasional yang ia ikuti.

Kedua, meluaskan jaringan usaha. Banyak modul digital marketing, menyisipkan ajakan tak putus, 'Apapun produk UMKM Anda, sosial media bisa menjadi alat pemasaran, dimana produk Anda bisa dikirim ke daerah manapun di Indonesia'. Sedikit kutipan, yang menemani penjelasan dari materi digital marketing melalui sosial media.

Ketiga, konsisten dan percaya pada proses. Destinasi wisata adalah benda mati. Sisi-sisi indahnya, baru akan diketahui orang luar, ketika kita yang tinggal didekatnya memolesnya dengan bahasa pemasaran yang tepat sasaran, para traveller atau turis penyuka keindahan. Ketika kita menjadi seseorang yang aktif di Pokdarwis, bahasa kita adalah tentang pemandangan serba indah, pengalaman berwisata mengesankan, kenangan terbaik tentang adat, budaya dan kuliner terlezat dari daerah wisata yang kita kunjungi. Masalah sampah, kembalikan pada yang telah menangani sesuai porsi tanggung jawab mereka. Kita di Pokdarwis, menjual wisata. Tak ada turis yang mau berkunjung ke daerah wisata penuh sampah, atau sedang berkonflik. Konsisten membenahi dan mengenalkan destinasi wisata di daerah kita akan membuahkan hasil yang manis pada akhirnya.

Begitulah, tiga 'nyawa' mendasar, dari banyak tulisan saya saat memulai bersedekah. Sedekah dengan harta utama saya, yakni kemampuan menulis.

IndiHome, Internetnya Indonesia, Partner Utama Jalan Sedekah dan Kerelawanan

Tiga entitas di atas, bank sampah, UMKM dan Pokdarwis, pada prakteknya tak sekadar tulisan saja. Delapan sosial media utama saya terlibat aktif. Mulai dari aplikasi chat online seperti Whatsapp dan Telegram, sosial media berupa blog, platform menulis (Kompasiana), Twitter, Instagram, Youtube, Linkedin, kanal promosi lanjutan yang saya pergunakan.

Salah satu tagline atau hastag dari gerakan sosial yang diinisiasi IndiHome di tahun 2021 lalu. Olahan pribadi di Canva.
Salah satu tagline atau hastag dari gerakan sosial yang diinisiasi IndiHome di tahun 2021 lalu. Olahan pribadi di Canva.

Dimana pun tulisan saya lahir, meski sesederhana dua paragraf di caption post Instagram, kanal sosmed lain mengekor sebagai bentuk dukungan promosi lanjutan. Proses unggah dan unduh di tiga hal mendasar, yakni tulisan, foto dan video, mustahil bisa lancar tanpa dukungan internet yang stabil, kecepatan yang konsisten dan minim gangguan.

Mari mencoba mengurainya dengan sederhana:

Pertama, dukungan internet yang stabil. Manfaat internet terbaik baru bisa kita dapatkan, ketika jaringannya stabil sepanjang waktu. Pekerja konten, memiliki jam kerja fleksibel. Ada yang lebih suka bekerja, justru saat manusia kebanyakan terlelap. Ada pula yang seperti jam kantor, dimana jaringan internet sedang berada di titik load tertinggi. Internet stabil, memastikan dua jenis pekerja ini tetap lancar melakuan apapun proses pekerjaannya yang mengandalkan internet.

Kedua, kecepatan internet yang konsisten. Video promosi produk selama 10 menit, misalnya, membutuhkan setidaknya kecepatan akses internet sampai dengan 300 mbps. 

Mengapa? 

Proses membuat konten, dalam sehari menuntut menghasilkan setidaknya 2000an kata lebih untuk artikel-artikel. Proses mengedit video, minim harus bisa selesai, maksimal dalam dua jam, agar artikel juga bisa selesai dalam sehari. Edit video, mengunduh hasil editannya, lalu mengunggahnya ke sosial media, jadi lancar berkat batas kecepatan yang memenuhi ekspektasi.

Beberapa ragam produk IndiHome untuk kebutuhan paket internet jaman now - Olahan pribadi di Canva.
Beberapa ragam produk IndiHome untuk kebutuhan paket internet jaman now - Olahan pribadi di Canva.

Ketiga, jaringan internet minim gangguan. Keberuntungan dan keistimewan yang paling saya rasakan selama berlangganan IndiHome. Saya jadi malu menjadikan momen-momen gangguan menjadi materi keluhan di sosmed. Bagaimana tidak. Selama sewindu merasakan sendiri manfaat terbaik Internetnya Indonesia ini, praktis tak pernah saya mendapatkan masalah trouble wifi yang lama. Kontak CS dan respon cepat dari teknisi lapangan, membantu saya tetap konsisten dengan jadwal deadline konten harian yang tak mengenal hari libur.

Itulah manfaat internet terbaik yang saya dapatkan, selama berlangganan IndiHome. Jika adik bungsu dan kakak sulung saya memanfaatkan sejak tahun 2005, saya pribadi baru mulai di tahun 2014. Bisnis warnet rumahan kakak sulung, saya kelola, tak bertahan, namun jaringan IndiHome sangat aktif saya gunakan sampai hari ini. Sejak tahun 2014 pula, jutaan kata dari tulisan-tulisan saya, jutaan giga byte dari koleksi foto dan video, rapi tersimpan di sana dan di sini. Seolah mengekor eksisnya IndiHome, sebagai jaringan internet yang sangat bisa diandalkan di banyak daerah di Indonesia. 

Mengapa saya sebut daerah? 

Di kota-kota besar di Pulau Jawa, tepatnya saat saya menetap dan bekerja di kota Semarang, saya pernah di masa mengalami Telkom Indonesia dengan IndiHomenya dipandang sebelah mata. Nganu, semacam deretan dari stereotype usaha plat merah. Sering gangguan lah..Respon CS lama, template dan ndak solutif, pun kalimat-kalimat negatif lainnya. Nyatanya, ketika kembali menetap di Lombok, IndiHome-lah juaranya. Mengutip lirik lagu popular milik Dewi Lestari 'Malaikat Juga Tahu', "...Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya". 

Betapapun, kadang, aktivitas sedekah saya melalui tulisan-tulisan, sering membawa saya ke titik lelah luarbiasa. Namun, ketika salah seorang pemilik UMKM me-WA-pri dan mengabarkan produknya dipesan salah satu bank korporat besar, berkat jejak usahanya saya bantu sematkan ke pemetaan mesin pencari terbesar Google, jemari tangan saya kembali menari di keypad laptop. Langkah kaki saya kembali ringan menghadiri undangan-undangan kegiatan bank sampah, UMKM atau Pokdarwis, lalu bergegas menuliskan rilis-rilisnya.

Takkan keliru menuliskan, 'Internetnya Indonesia adalah IndiHome'. Manfaat positif dan serba baiknya, jadi penghubung dari jaringan besar kegiatan apapun di negeri pertiwi. Saya yang sedikit bisa menulis, menyambungkan kisah-kisah para pegiat aktif di bank-bank sampah, di banyak UMKM dan kawan-kawan Pokdarwis. Anda, di profesi apapun, mari memulainya. Tak harus dengan kata 'sedekah'. Gunakan kata apa saja.

Penulis best seller nasional, Dwi Suwiknyo di buku terbarunya 'Bersyukur Bisa Insecure' menuliskan seuntai kata. 'Para pecundang selalu punya banyak alasan untuk mundur dan akhirnya kalah. Sedangkan para pejuang selalu punya cara untuk tampil terbaik dan meraih kemenangan'.

Jadi, setelah tulisan ini, saya akan kembali pada antrian panjang tulisan saya berikutnya. Matur agung tampiasih IndiHome. Sedekah menulis saya sejak 2014, takkan pernah sampai pada akhirnya dan semua proses tersebut, mampu terjadi atas dukungan jaringan internetmu.

*Selong, 17 Juli 2022

Matur agung tampiasih - ungkapan 'Terima kasih banyak' dalam Bahasa Sasak, Lombok.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun