Mohon tunggu...
Muslifa Aseani
Muslifa Aseani Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Momblogger Lombok

www.muslifaaseani.com | Tim Admin KOLOM | Tim Admin Rinjani Fans Club

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Tips Praktis Cegah Kejang Demam Pada Anak

21 Februari 2016   14:18 Diperbarui: 21 Februari 2016   14:51 249
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Dua Anak saya di satu ruas jalan kompleks Pelabuhan Labuhan Haji Lombok Timur | DokPri."][/caption]Sepanjang dua minggu terakhir, keluarga terdekat saya bergiliran menikmati demam dengan batuk pilek sebagai penyertanya. Virus yang akhirnya juga nemplok di dua anak saya, si sulung sebelas tahun dan si kecil yang lima tahun. Si sulung demamnya malah baru benar-benar hilang di hari Jumat kemarin, selepas on off dengan sedikit sumeng serta sembelit di akhir minggu lalu, kemudian drop lemas plus demam sepanjang minggu ini. Saya periksakan ke puskesmas kota Selong di Selasa 16 Februari lalu, putri saya didiagnosa kelelahan. Selang dua hari sepulang dari puskesmas, adiknya tepo seliro dengan mulai demam di malam Kamis.

Optimis menerapkan home healing pada dua anak saya, terhitung saya dan suami hanya bergadang dari malam Kamis itu saja. Mengontrol demam si kecil agar tak sampai kejang demam. Batuk dan pilek mulai muncul di Kamis pagi dan saat ini tinggal si kecil yang masih berjuang menahan untuk tak lagi batuk.

'Aku maunya ndak batuk bunda, tapi susah nih nahannya..'

'Hiks, sabar ya nak. Semoga segera sembuh yaaa..'

Apa itu Kejang Demam?

Merujuk pada artikel salah satu milis parenting (Milis Sehat) yang sarat dengan pengetahuan serta berbagi pengalaman para orang tua yang tergabung didalamnya, kejang demam anak yaitu : 'kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat'. 

Kejadian yang umum menimpa sampai 2,5% populasi anak rentang usia dari enam bulan sampai lima tahun. Kejang demam pertama kali jarang menimpa bayi berusia kurang dari enam bulan atau anak yang umurnya sudah lebih dari tiga tahun. Tentu tak menutup kemungkinan resiko demam bisa juga terjadi di luar rentang usia tersebut.

Saya dan suami masih selalu bersikap waspada, karena beberapa tahun lalu putri sulung saya sempat mengalami Complex Febrile Seizure atau kejang demam kompleks. Kejang pertamanya terjadi sekitar pukul 9 malam, yang kemudian berulang pada pukul 2 pagi atau berselang sekitar 5 jam dari kejang pertama. Waktu itu meski sudah aktif di milis Sehat, saya gagal tenang di serangan kejang demam kedua dan putri saya akhirnya dirawat di salah satu rumah sakit di Banyumanik Semarang.

Pada si kecil, sekian kali terserang demam, langkah preventif yang sering saya kedepankan adalah pemberian parasetamol generik. Di umur kurang dari dua tahun, beberapa resiko yang sering menyertai demam pada anak diantaranya Campak, Rubeola serta batuk pilek. Empat jenis yang penyebabnya virus dimana satu-satunya yang membantu tubuh memerangi virus ini adalah imunitas tubuh. Tak melulu obat, apalagi antibiotik.

Alhamdulillah, dua anak saya mulai terbiasa dengan beberapa 'doktrinasi' umum sesuai pengetahuan yang saya dan suami peroleh selama masih aktif di Milis Sehat.

Pertama, setiap penyakit yang disebabkan virus, hanya bisa sembuh dengan ketahanan optimal tubuhnya sendiri. Pemberian obat hanya untuk meringankan selama tubuh berperang melawan virus. 

Kedua, mengurangi aktivitas bermain mereka karena harus memberi kesempatan tubuh untuk lebih banyak beristirahat.

Ketiga, pemberian obat secara teratur baik sebelum atau sesudah makan adalah demi kebaikan mereka sendiri.

Keempat, perbanyak minum air putih agar lendir atau dahak pada batuk atau pilek yang akhirnya muncul selepas demam membantu mempercepat kesembuhan mereka.

Empat tips praktis diatas tentunya berbekal anjuran yang jauh lebih ilmiah dengan bahasa-bahasa teknis kesehatan. Namun saya sederhanakan dengan harapan anak-anak saya, atau pun para pembaca ulasan sederhana saya ini bisa sama optimisnya untuk mengedepankan perawatan rumahan. Terutama bagi beberapa penyakit disebabkan oleh virus dus umumnya bisa sembuh sendiri.

Contoh lain yang semakin sering saya alami, yaitu sariawan. Mau diobati atau pun tidak, sebenarnya sariawan bisa sembuh sendiri dalam 4 sampai lima hari sejak lesi di rongga mulut atau bibir mulau terasa sungguh pedih dan menyakitkan. Yang terbaru bagi saya, memeperbanyak konsumsi ikan. Baik itu ikan goreng, ikan yang dimasak dengan kuah atau jenis masakan berbahan utama ikan lainnya. Sariawan bisa semakin parah jika kita mengalah untuk tak makan karena membuka mulut pun sampai mengunyah sudah butuh usaha ekstra. Apalagi jika sampai enggan minum.

Kembali ke anak-anak, usaha saya dan suami lainnya yaitu menanamkan sugesti positif. Segera ketika batuk atau pileknya keluar, kalimat 'Nha, penyakitnya sudah keluar nih. Demamnya jadi hilang. Sekarang, banyak-banyak makan, minum dan tidur, batuk pileknya sembuh sendiri. Ndak perlu minum obat ini-itu yaaa..'

Skedul mandi pun sebisa mungkin tidak berubah. Hanya perlu diganti dengan berendam di air hangat-hangat kuku. Bahkan berendam ini pun bisa membantu tubuh menghadapi demam. 

Oia, sebelum terlupa, muntah ternyata salah satu cara tubuh mengeluarkan lendir atau dahak ketika mengalami batuk pilek. Untuk ini, dua anak saya juga sudah terbiasa, 'Ndak apa-apa ya bunda. Ini aku keluarkan dahak atau ingusku.' Terutama untuk anak-anak dibawah umur dua tahun. Cara berdahak atau membuang ingus belum se-ekspert orang dewasa.

Selain parasetamol generic, berendam atau kompres air hangat, satu ramuan resep mutakhir para nenek moyang yaitu parutan bawang merah. Ditambah beberapa tetes minyak telon sebagai penghangat ekstra, atau minyak kayu putih untuk anak-anak yang kulitnya sudah lebih tahan, dibalurkan ke seluruh tubuh anak saat demam tinggi. Wangi getah bawangnya memang jadi menutupi aroma white musk parfum favorit Anda. Tapi jika pilihannya tubuh anak-anak kita terhindar dari paparan kandungan berbagai macam obat kimia, pilihan membaui getah bawang sedikit lebih baik kan?

Namun, beberapa resiko lebih berat yang menyertai demam anak juga tetap harus diwaspadai. Informasi lebih lengkap tentang hal tersebut bisa ditelusuri dari tautan-tautan referensi yang saya sertakan di penutup tulisan ini.

Semoga pengalaman saya ber-home treatment pada demam-demam yang umum terjadi pada dua anak-anak saya berguna. InshaAllah, aamiin.

[caption caption="DokPri: Jadi fishing partner ayah di Gili Kondo Lombok Timur."]

[/caption]

*Selong 21 Februari

Referensi:

- Artikel Milis Sehat.

- Anak Demam, baiknya kompres air dingin atau air hangat?

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun