Jadi anak atau siswa membuat tulisan atau cerita lain yang bukan rahasia untuk dikumpulkan.
Hal ini saya lakukan agar dia bisa terus menulis sampai selesai dan bisa jadi membuat dia lega.
Dengan menulis seperti itu, maka menulis menjadi salah satu sarana curhat, menyalurkan unek-unek.
Kalau anak atau siswa ingin merahasiakan, kertasnya biar dibawa anak saja. Tapi saya sudah tahu dan bisa saya tulis kembali sebagai catatan untuk saya sendiri.
Setelah itu diusahakan bicara dari hati ke hati bahwa pendampingmu kelak pasti lebih baik dari itu.
Setidaknya saya sempat melihat rona berbeda sebelum dan sesudah menulis. Sekarang yang bersangkutan sudah berkeluarga.
Saya juga jadi punya kenangan manis tentang ini. Menulis kisah anak sekolah dari sudut diriku sebagai pendamping literasi.
Semoga kalian menyadari, bahwa menulis dan membuat kenangan yang dibukukan akan abadi, bisa dibaca anak kalian kelak.
Bagi para siswa yang pernah merasakan bahwa menulis bisa untuk terapi, melepas beban, maka lakukanlah.
Sering saya tahu mereka sedang galau ketika saya membaca tulisan mereka di status. Kalau sudah begini, saya biasanya nantang, jadikan buku, berani ga?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H