Munculnya Jiwa Keapatisan pada Individu dalam Lingkungan Dunia Kerja
Jiwa kemanusiaan harus tergerus oleh persepsi individualistik yang mematikan, persepsi yang timbul dari sisi egoistik tanpa didukung oleh cakrawala berpikir lapang/luas tentang orang lain. Alhasil, memandulkan nilai rasa dan membutakan rasa humanis, dan memandang orang lain harus sesuai dengan keinginan kita.
Jikalau nilai pikir yang luas diberdayakan dan dibandingkan akan "need"Â akan diri sendiri, maka tidak beda dengan cerita orang lain versi saya. Nilai statistik yang berbentuk atau perwujudan "need" mesti jadi pertimbangan.
Begitu juga nilai rasa/hati, tak elok berharap lebih terhadap sesuatu akan orang untuk berbuat, apabila suplemen mereka masih "miris, mengais dan meringis". Membuyarkan kosentrasi karena "need"Â itu.
Sisi manusiawi prihal penting untuk memikirkan orang lain, bukan menghakimi sepihak dengan mengunakan dalil sebagai rasio/logika tuk menghadirkan "opsi recehan", sebagai wind solution. Dalam artian apabila berharap lebih kepada seseorang, ya semestinya yang kita lakukan juga harus manusiawi.
Jangan sampai ada trik lempar bola sebagai alibi pengecualian, intrik bela bambu, anak kandung si anak bawang atau triki kesaktian sebuah surat bergaransi. Dari sang "decision maker". Dalam lingkungan dunia kerja yang kita pimpin. Menurutku.
Pengabdian atau loyalitas merupakan keniscayaan dalam dunia kerja, anatara pimpinan atau bawahan adalah sinergitas yang tidak bisa dipungkiri. Namun membangun kerjasama tim, saling menghormati dan evaluasi diri sendiri juga tak kalah penting, harmoni kebersamaan dalam bekerja mestinya terbangun, kan.
Hanya ada dua pilihan: menjadi apatis atau mengikuti arus. Tapi, aku memilih untuk jadi manusia merdeka.
- Soe Hok Gie
Ya, salah satunya korelasi tentang keapatisan dan si Jari Telunjuk.Â
Keapatisan dan Jari Telunjuk
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata apatis adalah acuh tak acuh. Arti lainnya dari apatis adalah tidak peduli.