Keindahaan bangunan adalah sebuah seni, hasil dari daya rasa dan pikir yang diciptakan oleh manusia dalam bentuk sebuah karya. Memiliki daya tarik yang penting dalam memikat mata setiap yang memandang. Semakin tinggi nilai seni yang dalam bangunan, mestinya daya tariknya pun semakin besar. Dalam sebuah pepatah mengatakan "sesungguhnya manusia makhluk yang indah dan menyukai sebuah keindahaan".
Berbagai bentuk mimik setiap orang akan berbeda ketika melihat sebuah kemegahan bangunan. Ekspresi terperangah, decak kagum disertai puja-puji terhadap keindahan yang dipandang. Bahkan ada senyum sinis dan sumpah serapah, jika karya yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang diharapkan dari masyarakat.
Konsekuensi ini adalah suatu kelaziman dari penerimaan masyarakat. Yang Menerima atau ditolak sebuah keniscayaan. Sikap lapang dada harus dimiliki setiap individu jika karya yang diluncurkan akan menuai pro atau kontra.
Makna keindahaan pun bermacam pula penilaiannya dalam pandangan manusia. Mungkin dimata kita telah sempurna, bisa tidak dalam pandangan orang lain. Jadi antara keindahaan, menurutku bisa juga disamakan dalam penilaian akan suatu kebenaran. Walaupun tak persis sama anatara kebenaran dan keindahaan. Dengan ukuran kenisbian atau relativ. Penilaian keindahaan merupakan ranah privasi pada setiap orang. Yang suka ada dan yang tidak juga pasti ada.
Hal ini adalah kelaziman sebagai insan yang diciptakan dengan perbedaan, baik secara jasad maupun batin. Apalagi dibenturkan dengan perbedaan dari sisi karakter, sifat, sikap, budaya termasuk dalam hal "selera". Ada yang doyan Jengkol ada juga yang tidak suka. Begitupun dengan hal-hal lain. Inilah uniknya kita yang harus digarisbawahi.
Apakah perbedaan yang ada, kita harus gontok-gontokan dan cenderung bersifat memaksa selera kita agar sehaluan? Tanpa melihat hakikat perbedaan? Tentunya juga tidak, jika sempat meluangkan waktu untuk merenung dengan menyigi makna terdalam dari suatu kata"beda".
Karena apa yang kita rasakan begitu juga apa yang dirasakan orang lain. Misal, setiap kita tidak akan suka dengan sakit, begitupun dengan orang lain. Inilah cermin persamaan yang mesti tuk dipahami. Dan upaya untuk memahami perbedaan antara kita. Dan terkadang kita cenderung memaksakan diri padahal kita sendiri juga tidak suka dipaksakan.
Olah rasa dan olah pikir mampu dijadikan titik tolak untuk saling menghormati, menghargai ditengah sebuah perbedaan pandangan. Dan bisa dijadikan sebagi pijakan tuk memunculkan sikap toleransi antar sesama ditengah keragaman yang ada.
Apakah kita harus sama dalam sudut penilaian? Terkadang bisa, jika ada suatu keganjilan jelas ada dimata. Dan cenderung konfrontasi yang bertetangan dengan nilai dan norma yang dianut diiringi dengan menciderai makna "kemanusiaan". Seperti tindakan kekerasan, prilaku merusak, kental dengan nuansa SARA, pemicu konflik dan lain sebagainya.
Termasuk keindahan pada bangunan sekalipun. Bila jelas  kemubazirannya alias tidak ada manfaatnya. Yang hanya menuai kesia-sian. Dan tanpak melihat sisi yang lebih penting di masyarakat. Baik saat ini maupun untuk masa yang akan datang. Jelas harus serentak ditolak bersama-sama.
Keragaman penilaian akan selalu ada dipermukaan. Sepanjang ada kehidupan manusia. Jika yang seharusnya tidak perlu dilakukan, dipaksakan dengan kata harus ada. Ketika ada udang dibalik batu, suatu terselubung yang ditutupi oleh kepalsuan. Bunga plastic yang indah tapi tak punya jiwa dan hampa akan keharuman. Atau kebiasaan menggunting dalam lipatan. Inilah harus ditentang dalam setiap pembangunan saat ini!

Dalam pembangunan misalnya kata tepat guna, tepat waktu, tepat tujuan dan tepat sasaran diharapkan jadi barometer dalam kebijakan. Bukan nilai semu yang hanya manis sesaat supaya dihormati. Nilai praktise tuk segelintir orang tak akan dikenang dan wangi dalam hirupan manusia. Sekedar untuk mencari nama supaya tingkat papularitas melambung, tapi lupa akan kata apa dan mengapa ini dibuat?
Pro kontra pun kerap terjadi bila melihat pembangunan yang dijalankan pemerintah. Penataan pasar harus cekcok dengan penjual, perluasan jalan tertunda adanya pemboikotan dari masyarakat, bahkan perseteruan hangat antara penguasa, yaitu legislative dan eksekutif. Inilah potret real yang selalu menjadi menu pemberitaan yang kita saksikan.
Drama apik dimunculkan dari berbagi pertunjukan scenario pembangunan bak dunia sandiwara tingkat elit. Baik ditingkat pusat sampai dengan tingkat daerah sering terjadi. Tanpa melihat sisi kegunaan dan aspek kebutuhan utama di saat sekarang.
Secara naluri pembangunan dengan melihat sisi manfaat, sasaran, tujuan dan kesadaran diri mestinya jadi pertimbangan. Harusnya analisis SWOT dijadikan assement lapangan penting tuk dikumpulkan sebagai materi perencanaan. Dan dibedah secara analisis yang serius bukan "ecek-ecekan" dalam bahasa daerah kami. Perlu "reset" dalam istilah para wakil rakyat, yang saya ingat waktu mendengar reset calon DPR waktu dahulu.
Dalam artian kebijakan pembangunan yang sudah, sedang, dan akan dilakukan, diharapkan harus survey terlebih dahulu melihat standar efisiensi yang dicanangkan. Atau keiniginan untuk mewujudkan visi atau suatu ambisi diturunkan beberapa derajat celcius demi kejayaan bersama.
Apalagi kalau yang dibangun hanya berupa ornament berbentuk tugu, patung atau monument yang tidak memiliki daya esensial sama sekali. Tidak ada nilai jual atau daya tarik yang berguna. Hanya menghabiskan anggaran secara sia-sia. Lebih-lebih dana yang dikucurkan terbilang cukup besar. Tanpa ada hasil yang dirasakan.
"Dimana keadaan masyarakat disekitar dalam keadaan memprihatinkan, inilah yang harus di selsaikan terlebih dahulu, daripada bangunan menurutku".

Namanya keindahan, sangat erat akan nilai seni manusia. Semakin tinggi ide kreasi yang diwujudkan dengan kreatifitas mampu dijadikan sebuah "icon" pembangunan menurutku.
Banyak karya-karya yang lahir bukan dalam suatu bentuk bangunan pisik, tapi non fisik pun memilki daya tarik yang cukup besar. Contohnya, kerajinan tangan, kesenian (tari, music, sastra), pariwisata alam, bahkan kekayaan budaya local mampu meningkatkan brand dan nilai jual tuk kemajuan daerah kita.
Bentuk pembangunan 'soft skill' seperti ini bisa dijadikan penunjang kemajuan dan dapat dijadikan ciri khas yang baik tuk dikembangkan dalam masyarakat. Tanpa perlu anggaran besar, cukup pendampingan, pemasaran, kesempatan tampil, dan suntikan anggaran secara efektif dan efisien.
Karya-karya mereka pun terkadang indah tidak kalah dengan produk-produk luar yang banjir di pasar local. Baik dari kualitas maupun aspek keindahan. Bahkan baku-nya pun masih terjangkau dan masih ada disekitar kita, walau itu hanya sampah yang tidak berguna. Tapi, ditangan tangan sang seniman bisa diwujudkan dengan karya sempurna.
Inilah keindahan itu, tak perlu mahal tapi penting untuk saat sekarang. Bukan hanya sekedar symbol yang megah, Tapi fungsinya yang dirasakan.
Curup, 2 September 2019
Ibra Alfaroug
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI