Hilangnya vegetasi dan Curah hujan tinggi
Vegetasi di kawasan atas sudah semakin menghilang seiring beralihnya fungsi lahan, gunung, hutan dan tegalan menjadi pemukiman, prasarana umum, jalan dan sebagainya. Â
Dampaknya adalah air yang seharusnya terserap ke dalam tanah, terserap akar tanaman, diuapkan oleh tanaman berkurang sangat banyak. Maka air hujan sebagian besar menjelma menjadi genangan yang memerlukan drainase yang baik dan perlu dialirkan menuju laut.
Penderitaan akan  menjadi semakin terasa ketika prasarana air yang ada tidak mampu menampung tingginya curah hujan karena prasarana penyerapan air hujan alami sudah rusak dan beralih fungsi.
Kalimantan selatan banjir karena hutan dibabat diubah menjadi kebun sawit. Jakarta banjir karena minimya kawasan resapan di Bogor dan daerah selatan lainnya. Pantura banjir karena sebab sebab serupa.
Atap bangunan menghalangi air terserap ke tanah dengan luasan kurang lebih seluas atap tersebut. Pihak yang membangun atap wajib menggantinya dengan membangun instalasi penyerapan air minimal dengan kapasitas air yang terhalangi atap yang dibangun. Hal ini bisa meminimalisir air hujan menjadi genangan. Misalnya dengan membuat sumur resapan dengan kapasitas daya tampung disesuaikan luas atap yang dibangun dikalikan curah hujan di kawasan tersebut.
Secara umum tidak ada cara lain mencegah banjir kecuali mengembalikan vegetasi, memperluas kawasan resapan, dan membangun kesadaran untuk menanam. Bahwa drainase perlu dibangun dengan baik itu benar. Tetapi drainase baik ternyata tidak bisa mencegah banjir ketika ada kiriman limpasan air yang besar dari daerah atas.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H