Semburat mentari pagi menyeruak di ufuk timur dan menghangatkan ruang batin kita dalam menyambut Hari Raya Idul Adha 1442 H/2021 M.
Kita bersama mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai rasa syukur kita atas segala karunia, terutama kesehatan dan lindungan dari Allah.
Suasana Hari Raya Idul Adha kali ini masih diselimuti perasaan dukacita dan kesan kurang nyaman, dipenuhi rasa kekhawatiran dan suasana mencekam atas realitas pandemi yang masih melanda negeri kita khususnya dan negeri-negeri lainnya di antero dunia.
Kita berdukacita kepada saudara-saudara kita yang sakit karena terpapar pandemi atau sebab diganosa penyakit lainnya, dan bahkan pandemi secara kasatmata merenggut nyawa tak sedikit dari saudara-saudara kita.Â
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kita berasal dari Tuhan dan kita pasti kembali kepada-Nya. Tuhan adalah sangkan paraning dumadi atawa hurip.
Saat ini kita benar-benar merasakan tengah berada dalam ruang dukacita yang mendalam. Begitu beruntun kabar dukacita tersiar di lini masa media sosial kita. Belum lagi raung sirene ambulans yang kerap berseliweran di jalan raya, terdengar menyayat hati ketika melewati pelataran rumah kita hari-hari belakangan ini.
Bagi saudara-saudara kita yang saat ini tengah terbaring sakit dan menjalani isoman karena terinfeksi virus corona, semoga Tuhan segera menyembuhkannya, dan benar-benar pulih seperti sediakala.
Dan bagi saudara-saudara kita yang telah meninggal dunia, mendahului kita, semoga husnulkhatimah dan mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah.
Pandemi ini hendaknya menjadi isyarat dan pelajaran dari Tuhan dan semesta bagi kita semua. Bukankah pandemi, jika boleh dikatakan, adalah kritik Tuhan dan semesta pada kita semua: Jangan-jangan ada yang salah dalam beragama kita selama ini?
Betulkah kita benar-benar beragama dengan sepenuh hati atau jangan-jangan sekadar setengah hati?Â
Jangan-jangan kita beragama itu sekadar kedok untuk meluluskan ego dan vested-interest kita secara pragmatis-materialistik, bukan pure spiritualistik? Tidakkah beragama kita tidak lebih sekadar politisasi agama dan pencitraan?
Kalau itu semua benar adanya, anggap saja sesungguhnya pandemi ini adalah kritik Tuhan dan semesta pada kita untuk wawas diri dan introspeksi diri (muhasabah) kita, baik secara pribadi maupun komunal.
Saat pandemi ini, adalah penting menjaga kekebalan komunal (herd immunity) kita, dan menyetop kebebalan komunal (herd stupidity) kita. Kita mesti kebal, jangan bebal gegara kita mengabaikan akal sehat dalam menyikapi bahaya pandemi yang masih mengancam keselamatan kita.
Astagfirullah al-'adzim wa atubu ilaih. Kita memohon ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahan kita selama ini, sembari terus meningkatkan keberagamaan kita untuk lebih baik dan berkualitas.
Idul Adha ini mengingatkan kita pada tapak tilas dan rekam jejak sejarah perjalanan Nabi Ibrahim, dan istrinya Hajar, beserta putranya, Nabi Ismail dalam praktik (manasik) ritual haji dan kurban.
Haji dan kurban, satu sisi, sama-sama bertujuan mendekatkan diri pada Allah, meneguhkan keimanan, dan meningkatkan ketakwaan kita.
Dan di sisi lain, pada kesempatan yang sama, sekaligus menunjukkan kualitas kemanusiaan kita, kepedulian dan empati kita lebih-lebih saat pandemi seperti sekarang ini.
Niat yang baik dan keikhlasan yang tulus dari ritual yang dilakukan sebagai pengejawantahan kualitas ketakwaan yang akan dinilai dan diterima oleh Tuhan.
"Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamu-lah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al Hajj : 37).
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI