Manusia tinggal menjalaninya saja, bagaikan sebuah wayang yang bergerak semata-mata karena digerakkan oleh tangan sang dalang. Tidak lebih. Dalam teologi Islam, pemahaman ini dikenal dengan paham Jabariyah.
Qodariyah
Dalam pemahaman yang lain, yang berbeda dengan paham Jabariyah, yaitu paham Qodariyah, dinyatakan bahwa Tuhan memang Mahakuasa, namun Tuhan telah menganugerahkan dan meminjamkan sebagian kecil kekuasaan-Nya pada manusia, karya cipta-Nya yang paling dibanggakan.
Manusia, dalam hal ini, diposisikan pada puncak piramida ciptaan-Nya, sebagai titik pusat yang paling banyak diperhatikan dan disayang. Malaikat diciptakan untuk melayani dan mengawasi manusia. Bumi, air, udara, tumbuh-tumbuhan, hewan, matahari, langit, dan benda lain dicipta sebagai fasilitas hidup manusia.
Ringkasnya, setelah Tuhan, manusialah yang paling berkuasa di alam semesta ini. Manusia, oleh karenanya, bisa bersujud dan bersyukur sedalam-dalamnya atas anugerah Tuhan.
Namun bisa juga sebaliknya. Manusia merasa otonom, bebas dan merdeka, merasa menjadi penguasa di muka bumi, sehingga tidak ada keharusan untuk bergantung pada Tuhan dalam menjalani hidupnya.
Dalam teologi Islam, oleh karena itu, hal ini dapat dipilah kepada dua pemahaman.
Pertama, yang memandang hidup manusia bagaikan permainan catur. Kita boleh bergerak dan melangkah ke mana yang kita mau, namun terikat dengan aturan main yang tidak bisa diubah atau dilawan.Â
Begitulah hidup kita. Kita bebas berbuat apa saja, tapi ada batasan dan kekuatan yang membatasi kita dan tidak bisa dilawan. Batasan itu bisa bersifat fisik atau bisa berupa hukum moral keagamaan.
Kedua, pemahaman yang meyakini bahwa Tuhan merupakan pencipta segala sesuatu, namun sebatas sebagai penyebab awal semua yang ada ini. Selanjutnya, bukan urusan Tuhan lagi.
Tuhan, dalam pemahaman ini, sering dianalogikan dengan pencipta jam otomatis yang super canggih. Setelah tercipta, tidak ada hubungannya lagi antara pencipta dan hasil ciptaannya.
Dalam pemahaman ini, manusia seakan-akan memiliki kebebasan yang luar biasa dan sama sekali tidak tergantung pada Tuhan, tapi pada kenyataannya tetap saja akan menghadapi tekanan dan keterbatasan sebagai manusia, baik itu secara lahiriah maupun ruhaniah, fisik maupun moral. (Lihat, Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutika, Mizan, 2011).
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!