Mohon tunggu...
Muhtar Arifin
Muhtar Arifin Mohon Tunggu... Guru - Meskipun Tertatih, Berusaha untuk Tetap Berlatih

Belajar, Mengajar, Membaca, Menulis, Berlatih

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Di Balik Megahnya Gedung Rumah Sakit

16 Maret 2022   20:34 Diperbarui: 16 Maret 2022   20:38 1345
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Apabila kita perhatikan sebuah bangunan sebuah rumah sakit, maka biasanya akan didapati bahwa bangunannya megah dan hebat. Rata-rata memiliki gedung yang bertingkat. Cat yang menghiasinyapun terlihat indah bagus memikat. Di sekitarnya terdapat berbagai pohon yang berdaun lebat. Demikianlah bangunan  yang banyak terdapat para pasien, dokter, dan perawat.

Tatkala kita mencermati indahnya bangunan tersebut, ternyata di dalamnya banyak orang yang merintih. Ada orang tua yang sedang menangis dan merintih. Ada anak yang sedang mengerang karena merasa perih. Ada yang berteriak seakan-akan sedang tersiram air mendidih. Ada juga yang memendam rasa sakit dan pedih, akan tetapi tidak mengeluarkan suara apapun kecuali hanya desisan yang lirih.

Manakalah merenungkan isi dari ranjang-ranjang rumah sakit, kita menjadi teringat bahwa kesehatan adalah termasuk salah satu nikmat yang amat besar. Apabila dinilai dengan rupiah, maka apakah Anda tahu berapa harga nikmat yang berupa kemampuan melihat dengan jelas tanpa kaca mata? Berapa harganya nikmat dapat bernafas dengan longgar tanpa bantuan tabung oksigen? Berapa harganya nikmat memiliki jantung yang dapat berdetak dengan normal tanpa bantuan ring? Berapa harganya nikmat darah yang dapat melakukan sirkulasi dengan lancar tanpa hambatan?

Ternyata kita tidak mampu mengkalkulasikan semua nikmat yang kita terima. Alangkah pantasnya tatkala Al-Qur'an menyebutkan: "Dan Jika kalian menghitung-nikmat-nikmat Allah, nisaya kalian tidak dapat melakukannya". (QS. Ibrahim: 34). Imam Al-Qurthubi - rahimahullah - menjelaskan dalam tafsirnya (IX/367) bahwa ketidakmampuan menghitung adalah disebabkan karena banyaknya nikmat tersebut, seperti pendengaran, penglihatan, bentuk yang tegak dan kesehatan.

Rumah sakit ini menjadi tempat yang menyadarkan kita bahwa nikmat sehat amatlah mahal harganya. Demi kesehatan, seseorang terkadang sampai menjual tanahnya. Untuk mencari kesembuhan, seseorang kadang harus memakai tabungannya yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun. Demi kesehatan pula, seseorang harus mengorbankan apa yang dimilikinya. Ini menunjukkan bahwa harta lebih murah daripada kesehatan. Oleh karena itu dikatakan dalam pepatah Arab: "Kesehatan adalah laksana mahkota yang dipakai oleh orang yang sehat. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang-orang yang sakit". Inilah yang tersembunyi di balik megahnya rumah sakit. Ia menyimpan sebuah pesan bahwa kesehatan lebih mahal dari kekayaan. Dari sini, kita diajarkan untuk bersyukur atas semua nikmat. 

Banyak di antara kita mudah mengeluh ketika keuangan sedang menipis. Tidak sedikit dari kita yang mengganggap tidak punya rejeki ketika persediaan di rumah sudah hampir habis. Padahal ada kenikmatan yang luar biasa ada pada diri kita. Ia melekat pada diri kita, ke manapun kita pergi ia selalu bersama kita, yaiu nikmat kesehatan.

Dari sini pantaslah ketika dikatakan bahwa manusia itu banyak ingkar terhadap nikmat Allah. Allah senantiasa memberikan kepada kita nikmat sehat, akan tetapi kita terkadang tidak mengakuinya dan justru melupakannya. Dalam Al-Qur'an disebutkan: "Sesungguhnya manusia adalah banyak berbuat aniaya lagi amat ingkar" (QS. Ibrahim:34).

Klasifikasi Nikmat. 

Dalam muqaddimah kitab Ijtima' Juyusyil Islamiyyah (hlm. 3), Ibnul Qayyim menyebutkan ada dua nikmat:

Pertama: Ni'matun Muthlaqah (nikmat yang mutlak), yaitu nikmat yang dapat mengantarkan kepada kebahagiaan abadi.

Kedua: Ni'matun Muqayyadah (nikmat yang terikat). Salah satu dari bentuk nikmat yang terikat adalah nikmat sehat.

Dari pembagian di atas, kita menjadi teringat bahwa kenikmatan itu itu amatlah luas cakupannya. Ia tidak sesempit yang kita bayangkan. Ia tidak sependek yang ada dalam pikiran kita pada umumnya.

Kisah Menarik Bersama Yunus Bin Ubaid.

Membaca kisah termasuk sesuatu yang dapat menguatkan hati. Setelah seseorang membaca kisah-kisah yang pernah terjadi pada masa lalu, maka hatinya dapat menjadi semakin tabah menghadapi berbagai ujian dalam kehidupan ini. Oleh karena itu banyak disebutkan kisah-kisah dalam kitabullah. Allah berfirman: "Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu". (QS. Hud: 120).

Ada sebuah kisah menarik yang termuat dalam Fiqhul Ad'iyah wal Adzkar (I/233) disebutkan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Yunus Bin Ubaid mengeluhkan tentang kemiskinannya.

Yunus berkata: "Senangkah engkau jika pandanganmu dibeli dengan harga 100.000 dirham?"

Ia menjawab: "Tidak".

Yunus berkata:  "Jika kedua tanganmu dengan harga 100.000 (dirham)?"

Ia menjawab: "Tidak".

Yunus berkata: "Jika kedua kakimu dengan harga 100.000 (dirham)?"

Ia menjawab: "Tidak".

Lalu beliau mengingatkan berbagai nikmat Allah kepadanya.

Lalu Yunus berkata: "Aku melihat bahwa engkau memiliki harta ratusan ribu dirham, akan tetapi engkau mengeluhkan hajatmu?!".

Semoga Sang Pencipta memberikan kepada kita taufiq untuk selalu bersyukur atas nikmat yang kita terima. Mudah-mudahan kita dilindungi dari sikap mengingkari nikmat yang selalu kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun