"Tiada Yang Baru Di Tahun Baru, Fantasimu Tak Mau Menerima Kenyataan Itu"
 Tiap tahun, perayaan pergantian tahun bisa disebut perayaan paling meriah umat manusia, jika ditanya alasannya kebanyakan akan menjawab kemeriahan tahun baru disebabkan karena pergantian tahun terjadi lumayan lama sekaligus pergantian angka terlama di kalender kita, oleh karena itu pergantian tahun wajar bila dirayakan dengan meriah.
 Tentu ada beragam bentuk perayaan manusia akan pergantian tahun, ada yang merayakan dengan menghamburkan harta, ada yang merayakan dengan menabur benih harapan dalam pikiran, ada pula yang merayakan dengan perubahan diri menjadi lebih baik di masa mendatang.
 Dalam berbagai macam perayaan meriah tahun baru ini, apa yang sebenarnya kita cari? Bukankah tahun baru sejatinya adalah perubahan angka dalam kalender saja? Yang mana perubahan itu dihias oleh fantasi manusia? Masih layakkah kita merayakannya? Mari kita kaji bersama.
Euforia Pergantian Tahun Yang Meriah : Berlari Dari Hari yang Itu-itu Saja
 Bisa kita renungkan ulang bahwa pergantian tahun yang dirayakan dengan kemeriahan, sejatinya merupakan 'pelarian sementara' dari hidup yang suram dan menakutkan, ketakbersyukuran akan hidup dilupakan sehenak lewat terompet yang ditiup, pun hidup yang suram bin menyeramkan dilupakan lewat kembang api yang dinyalakan.
Â
 Jaques Lacan mengatakan bahwa fantasi manusia timbul sebagai bentuk penutupan akan ketaklengkapan dirinya, manusia selalu bereksperasi guna menutupi ketakutannya akan realita yang ada. Euforia kemeriahan pergantian tahun sejatinya merupakan fantasi belaka, fantasi yang muncul karena masalah hidup yang kian hari kian timbul, fantasi tersebut dapat berupa : ekspetasi akan masalah yang segera terselesaikan, ekspektasi akan ketiadaan kesulitan, ekspektasi akan kebahagiaan.
 Fantasi manusia berupa perayaan meriah dalam tahun baru, sejatinya merupakan pelarian sementara atas realita yang ada, yang pada titik tertentu muncul pandangan bahwa 'tiap pergantian tahun harus dirayakan dengan meriah', seolah-olah akan aneh bila tak 'dirayakan dengan meriah'.
Tahun Depan Sama Saja Dengan Tahun Lalu, Yang Beda Cuma Fantasinya
 Dengan kita melihat perayaan meriah tahun baru sebagai fantasi, kita akan memahami bahwa sejatinya pergantian tahun hanyalah pergantian angka belaka. Pergantian tahun lalu menuju tahun sekarang, tahun sekarang menuju tahun depan sama saja esensinya yakni 'pergantian angka dalam kalender', yang berbeda adalah fantasinya.
 Jika tahun lalu kita berfantasi agar tahun ini kita menikah lalu ekspektasi tersebut gagal, mungkin tahun ini kita akan berfantasi agar setidaknya tahun depan kita tidak kecewa. Fantasi itu tercipta tuk menutupi ketakutan kita akan realita yang ada, tuk menutupi ketakutan kita bahwa tahun ini tak dapat menikah pun tahun depan pasti kecewa.
 Dari sini kita akan memahami pola fantasi manusia tiap tahun, bagaimana manusia selalu berupaya tuk lari dari kenyataan yang ada, berupaya tuk menciptakan pola-pola fantasi agar dunia seolah berpihak padanya. Fantasi menghasilkan hasrat, ketika manusia berfantasi akan sesuatu, secara spontan ia akan menginginkan sesuatu tersebut, pola-pola fantasi selalu berubah-ubah sehingga hasrat yang dihasilkan pun bermacam-macam.
 Pola fantasi yang terus menerus berubah ini bisa kita baca menggunakan teori hasrat ala Deleuze-Guattari, dalam Anti-Oedipus : Capitalism and Schizophrenia Deleuze-Guattari mengatakan bahwa hasrat merupakan mesin produksi berbahan bakar fantasi, tiap pergantian tahun selalu ada fantasi baru yang menghasilkan hasrat baru.
Tahun Baru dan Hal-Hal Yang (tidak) Baru
 Deleuze dalam Difference and Repetition mengatakan bahwa pola zaman senantiasa sama, yang berbeda hanyala kemasannya, semisal pola peperangan zaman dulu dan sekarang yang berbeda hanyalah kecanggihan strategi sekaligus senjatanya, namun yang namanya perang yah perang.
 Kita tarik lebih sempit, pola pergantian tahun sejatinya sama (adanya harapan, perayaan meriah, motivasi, hasrat), yang berbeda hanyalah kemasannya (harapan yang berbeda dari tahun lalu, perayaan yang berbeda, motivasi yang berbeda, hasrat yang berbeda), namun tetap sama bahwa yah itulah tahun baru.
 Kita sering terjebak oleh fantasi tahun baru ini, apa yang sebenarnya kita cari di momen yang selalu sama ini? Fantasi apa yang kita hasilkan? Masihkah kita merasa perlu melakukan ritual perayaan meriah di tahun baru ini? Mari kita renungkan bersama.
Mari Rayakan Tahun Baru Dengan Cara Yang (tidak) Baru
 Pola-pola fantasi kemeriahan perayaan telah menjebak kita, mari sejenak kita menepi dan memencet jerawat di dahi, lalu menggaruk hidung barangkali ada upil yang terbengkalai, kala mendengar sorak tetaplah fokus tuk mencabut bulu ketiak, saat melihat kembang api di langit biru jangan biarkan ia mengganggu konsentrasi kala diri mencabut kuku.
 Tetaplah menggaruk punggung yang gatel di tahun baru, jangan lupa tuk menyisihkan upil tahun ini tuk diambil tahun depan, jangan pula luput menggaruk selangkangan saat rebahan.
 Rayakan tahun baru dengan menikmati hari-hari yang itu-itu saja, siap-siaplah menghadapi kesulitan tahun depan, teruslah kecewa sampai lupa kalau kau pernah bahagia, mari mensyukuri hidup dengan mencabut ketombe di rambut.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI