Mohon tunggu...
Muhammad Toha
Muhammad Toha Mohon Tunggu... profesional -

Seorang kuli biasa. Lahir di Banyuwangi, menyelesaikan sekolah di Bima, Kuliah di Makassar, lalu jadi kuli di salah satu perusahaan pertambangan di Sorowako. Saat ini menetap dan hidup bahagia di Serpong--dan masih tetap menjadi kuli.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Handuk dan Sempak

20 Oktober 2015   12:28 Diperbarui: 20 Oktober 2015   12:36 247
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sepulang dari perjalanan seminggu keluar pulau, istriku pagi ini heran dengan tumpukan kain kotor bawaanku yang telah selesai dicuci.

“Jauh-jauh dari Ternate kok bawa keset alas kaki sih Pa?" tanya istriku.

“Itu bukan keset Ma. Itu handuk yang papa beli di Ternate,” jawabku.

“Papaaaaa…itu bukan handuk sayang. Itu namanya keset. Masak papa gak tau bedanya keset alas kaki dengan handuk sih?” ujar istriku dengan gemes.

Kain itu memang aku beli di salah satu mall di Ternate karena aku lupa membawa handuk. Saat aku memilih kain penyeka air yang dipajang di rak panjang, aku sengaja memilih kain itu karena alasan harganya yang lebih murah dan ukurannya yang kecil.

Saya tahu kain itu adalah keset, tapi apa yang salah jika kain itu aku jadikan handuk?

Menurutku, kita selama ini kerap terjebak dengan definisi dan abai terhadap fungsi. Pertanyaanku; apa sih bedanya keset kain dan handuk dari sisi bahannya? Tak ada bukan? Keduanya dibuat dari kain yang sama dan bisa jadi dibuat dari pabrik yang sama. Yang membedakannya hanya karna ukuran semata, tetapi karena itu “status” keduanya di tempatkan di sisi yang berbeda.

Kain yang difungsikan sebagai penyeka kaki itu, dinamakan keset lebih karena ukurannya cuma 40 X 80 cm, sementara kain yang ukurannya lebih lebar dan panjang, diberi nama dan fungsi lebih layak sebagai handuk penyeka badan, dengan label harga yang lebih mahal.

Lihatlah, bagaimana hanya karena perbedaan ukuran atau bentuk, kita kerap memperlakukan suatu hal dengan status dan fungsi yang begitu berjarak.

Dalam konteks yang sama, kita juga bisa saksikan bagaimana tempat makan misalnya punya “kelas” dan “status” yang berbeda hanya karena lokasi dan prestisenya. Saya tak merasa makanan yang disajikan McD misalnya, rasa dan gurihnya lebih enak dibanding dengan ayam goreng buatan warung makan di pinggir jalan. Tapi soal harga, jelas keduanya jauh berbeda.

Soal fungsi dan bentuk, saya teringat dengan kisah Gusdur tatkala kuliah di Mesir beberapa tahun silam.

Selama kuliah di Mesir, Gusdur menetap dengan salah satu kawannya di sebuah flat sederhana. Suatu waktu, teman Gusdur kedatangan tamu. Sang tamu dipersilahkan duduk di ruang tamu, sementara Gusdur beranjak ke dapur untuk menyiapkan teh.

Ruang tamu dengan dapur hanya dipisahkan oleh sekat kain, sehingga aktivitas Gusdur selama di dapur dapat terlihat jelas oleh Sang Tamu.

Teh telah terhidang, dan tamu itu telah dipersilahkan untuk meminumnya. Berkali-kali dipersilakan, tapi sang tamu tak juga meminumnya. Sampai akhirnya, teman Gusdur bertanya:

“Kok tehnya tidak diminum?” tanyanya.

“Maaf beribu maaf..Saya tidak tega minum teh ini. Tadi sewaktu teman kamu membuat teh di dapur, saya lihat dia melap gelas tehnya pakai celana dalam,” kata Sang Tamu.

Meledaklah tawa teman Gusdur itu, yang justru membuat sang tamu menjadi heran.

Lalu dijelaskanlah ke sang tamu kalo mereka membeli celana dalam itu bukan untuk dijadikan “sempak”, tetapi sengaja dijadikan lap karena harganya lebih murah. “Toh, kain lap dan celana dalam sama-sama terbuat dari kain, gak ada bedanya kan,” begitu temannya Gusdur menjelaskan.

Nah, masihkah kita tetap mengagungkan penamaan dan abai terhadap fungsi?

Seorang cewek matre menjawab santai, “Rasanya tetap beda menagis di bahu seorang cowok yang menunggangi motor bebek, dibanding dengan menangis di bahu lelaki yang sedang mengendarai mobil Ferrari”.

Aihh…aihhhh…

‪#‎UncleTOM‬

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun