RESUME BUKU
Oleh: Muhammad Sigit Santoso
Â
SELF-TRANSFORMING | Refleksi Menuju Aktualisasi Diri
Dr. Muqowim, M.Ag
Penerbit      : Rumah Kearifan (House Of Wisdom)
Cetakan      : Pertama, Desember 2021
ISBN Â Â Â Â Â Â Â : 978-623-6782-35-4
Jumlah Halaman      : 120
Cover              : Cover timbul
Warna kertas        : Cream
_____________________________
Menjadi diri sendiri adalah penting. Menjadi percaya diri adalah hal yang dianjurkan. Dan menjadi pribadi yang terus berbenah adalah sebuah keputusan bijak. Kalimat ini saya pilih menjadi kalimat pembuka dalam presensi buku karya Dr. Muqowim ini. Melihat bagaimana kehidupan manusia yang begitu kompleks rasanya adalah tepat ketika berkaca kepada diri sendiri tentang apa yang telah diperbuat, dan sudahkah menajdi mansuia bermanfaat?
Aktivitas yang telah dilakukan dari hari-kehari, dari tahun-tahun seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan kita, orang lain dan lingkungan sekitar. Menjadi orang yang sukses adalah cita-cita bagi setiap orang, baik karir, pekerjaan dan juga pencapaian. Dalam buku Self-transforming yang ditulis oleh Founder rumah kearifan ini memberikan cambukan keras kepada setiap orang yang berazzam untuk mengubah dirinya tidak hanya mengubah melainkan bagaimana menjadi pribadi yang memiliki Value (nilai).
Karena pada dasarnya jika hidup dengan mengedepankan nilai, maka semuanya akan menjadi sesuatu yang berarti dan tidak terasa sia-sia. Setiap apa yang akan dilakukan menjadi sebuah produktifitas untuk progres yang lebih baik. Naik turunnya motivasi adalah bumbu kehidupan, bukan berarti tidak boleh merasa down. Tetapi bagaimana ketika berada dibawah berusah bangkit, nah dalam usaha untuk bangkit itu bagaiman menjadi sesuatu yang bernilai tidak hanya sekedar masa yang akan dilalui begitu saja.
Presensi buku ini saya fokuskan kepada apa yang menjadi pesan, insight, cambukan dari buku ini. Untuk mentransformasi diri disajikan 30 sub bab dalam buku ini, lalu saya mencoba membaginya menjadi 7 kelompok sub bab. Dimana 1 sub bab memabahas isu self-Transforming yang berangkat dari tiga fenomena yaitu, pertama Revolusi Industri 4.0 dan Covid-19,  kedua perubahan yang terus terjadi dan ketiga  diambil dari pilar pendidikan UNESCO "learning to transform oneself and society.
Bagian pertama ini memberikan insigh, apakah kita akan menjadi pihak yang mengubah (disrupting) atau pihak yang diubah (disrupted). Kedua hal ini adalah keniscayaan, dimana setiap kita berpotensi untuk menjadi salah satu pihak tersebut. Hal ini menjadi tantangan bagi diri kita untuk menjadi pribadi yang terus berbenah. Dalam hadis Nabi dikatakan "apabila hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kita termasuk orang yang beruntung. Apabila hari ini sama saja dengan hari kemarin, maka kita termasuk orang yang merugi. Dan apabila hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka kita termasuk orang yang terlaknat".
Selanjutnya 7 sub bab yang membahas tentang bagaimana mengenali diri-sendiri dan menjadi diri sendiri. Yaitu, penanaman bahwa kita menjadi manusia adalah anugerah terbesar dari Allah. Rasa cintanya Allah, sebab karena dari sekian calon manusia yang ada hanya kita yang telah dipilih dan dilahirkan kedunia. Ini adalah fondasi dasar untuk mengenali diri sendiri.
Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dengan sempurna. Lalu manusia ditempatkan didunia sebagai makhluk yang bertujuan untuk menjadi insan kamil, menjadi abdi yang senantiasa beribadah kepada Allah. Kesempurnaan manusia itu tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Zoba Seorang aktivis antropolog menyebutkan bahwa manusia harus dipandang sebagai Multiple layers (lapisan majemuk) yaitu struktur yang memiliki fisik, gender, social, budaya, ekonomi, pendidikan, dan poluik. Kesemuanya harusnya menyadarkan kita bahwa setiap manusia itu memiliki keunggulan yang berbeda dengan maklhuk lain.
Lalu pada 4 sub bab selanjutnya dibahas mengenai bagaimana mensyukuri kehidupan yang sedang dijalani. Bagaimana menjadi pribadi yang bernilai, bagaimana menajadi priabdi yang penuh cinta, pribadi yang mampu membagi mana yang prioritas mana yang hanya sekedar ulas.
Gambaran seseorang dimasa yang akan datang tercemin dari apa yang telah dilakukan dan yang sedang dilakukan. Tidak peduli bagaimana hasilnya melainkan bagaimana dan seperti apa proses yang dilakoni. Apakah proses tersebut memiliki nilai atau hanya sekedar tahapan-tahapan kosong saja, ini yang menjadi gold dalam buku ini. Proses yang bernilai lebih utama daripada hasil yang tanpa proses.
Selanjutnya di 6 sub bab membahas mengenai tantangan-tantangan kehidupan serta apa kemampuan-kemampuan apa saja yang perlu dikuasai. Misalnya soft skill dalam bidang bahasa, digital, numerasi, sains, budaya dan yang paling penting religious.
Kemajuan zaman semakin manjadi, era industry 4.0 pun mulai beralih ke 5.0. dalam buku ini pembaca diajak melihat bagaimana dunia pada 5, 10, 20 tahun mendatang. Lalu dikembalikan kepada diri sendiri tentang keahlian apa yang telah dikuasai. Lantas apa yang harus dilakukan jika belum memiliki keahlian tersebut? Keahlian apa saja yang akan sangat dibutuhkan pada masa itu. Jalan panjang itu tidaklah mudah, maka kembali pada kalimat awal bab buku ini, akan menjadi piihak yang mengubah atau yang diubah? Tips-tips yang ditawarkan dalam buku ini sangat rasional dan relevan apalagi disampaikan dengan bahasa yang cukup familiar membuatnya mudah untuk dipahami.
Pada bagian 9 sub bab akhir membahas tentang bagaimana logaritma kehidupan berjalan, bagaiman konsep dan pola kehidupan menjadi factor pendukung terhadap transformasi diri. Ada istilah MESTAKUNG (semesta mendukung) hal ini tidak terjadi begitu saja. Misalnya tidak melakukan apa-apa tiba-tiba ada orang yang mengantarkan mobil, memberikan uang triliunan, lalu memberikan jabatan. Konsep mestakung tidak demikian, melainkan ada sebab-sebab yang membuat semesta mendukung yaitu, pertama adanya hukum kritis (the power of kepepet) ini terjadi pada setiap manusia dimana ketika keadaan mendesak sesuatu yang mustahil dapat dicapai, kedua  hukum langkah adalah dengan rancangan yang dibuat sedemikian rupa lalu dilakukan dan ketiga hukum tekun, merupakan keistiqomahan dalam mencapai tujuan hidup.
Dan pada sub 3 sub bab akhir membahas tentang self-transforming didalam kehidupan. Menjadi diri yang otentik, genuine, natural, asli hal ini bertolak dari keaslian pribadi diri kit. Kepribadian yang ditampilkan  mencerminkan diri secara alami, tidak perlu kepura-puraan, kepalsuan, imitasi, karena ingin tampil beda yang justru akan menjadi masalah dikemudian hari.
Buku ini juga ditutup dengan epilog yang mengingatkan kita bahwa sejatinya keseluruhan hidup kita tidak terlepas dari Kuasa Allah SWt. Oleh karena itu selain berusaha baik dengan membaca dan mengaplikasikan apa yang tersirat dalam buku tersebut untuk bertransformasi maka kita harus tetap berdo'a kepada Allah dan selalu menigkatkan ketaqwaan kita.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI