Apa yang pertama kali terlintas di pikiran ketika mendengar "Banda Neira"? Bagi para traveler sudah pasti jawabannya adalah sebuah pulau indah nan eksotik di Kepulauan Banda, Maluku. Panorama cantik dan hamparan laut yang meneduhkan mata, surga dunia.Â
Eiiits, tapi tunggu dulu, saya bukan seorang traveler dan juga belum pernah sama sekali berlibur ke Banda Neira. Lah, jadi? Banda Neira yang saya maksud pada artikel ini adalah sebuah grup musik atau duo atau apapun istilah yang merujuk kepada Ananda Badudu dan Rara Sekar.Â
Kedua orang ini berhasil menyajikan kata-kata puitis dalam balutan lantunan musik yang tepat mengena di telinga. Selain itu, beberapa lagu Banda Neira adalah gubahan dari puisi-puisi penyair mahsyur. Musikalisasi puisi yang dibawakan oleh Banda Neira nyatanya mampu membuat saya meresapi puisi dengan cara yang lain.
Di tahun 2016, saat menjadi mahasiswa tua, lagu-lagu bergenre folk menemani saya ketika berjuang menyelesaikan skrispi, eh skripsi. Tidak seperti jenis musik lain, folk bagi saya memiliki keunikan tersendiri baik dari segi komposisi musik maupun syair yang didendangkan. Ada keteduhan yang ditawarkan ketika mendengarkan aliran musik ini, apalagi ditambah secangkir kopi, lengkap sudah.Â
Genre ini yang kemudian mengenalkan saya kepada beberapa grup musik seperti Payung Teduh, Fourtwnty, Nosstress, Banda Neira dan banyak lainnya.Â
Nah, meskipun Ananda Badudu dan Rara Sekar sepakat mengatakan musik yang mereka bawakan bergenre nelangsa pop dan bukan folk. Namun tetap saja, saya sudah terlanjur jatuh hati pada petikan-petikan gitar akustik Nanda dan suara khas dari Rara. Tidak hanya itu, lirik pada lagu-lagu Banda Neira juga memantik rasa ingin tahu saya terhadap interpretasi ditiap baitnya.Â
Selain membawakan beberapa puisi dari penyair terkenal, seperti Derai-derai Cemara karya Chairil Anwar, Mawar karya Wiji Thukul dan Rindu karya Subagio Sastrowardoyo. Ananda Badudu dan Rara Sekar juga piawai dalam menciptakan banyak lagu dengan lirik yang amat puitis. Tentu saja, setiap lagu memiliki ceritanya masing-masing.Â
Hal itu juga berlaku pada setiap lagu dari Banda Neira, selalu ada cerita dan pesan yang coba disampaikan. Seperti pada lagu "Di Beranda", bagaimana Banda Neira menggambarkan rasa kegelisahan dan kerinduan orang tua saat anak-anaknya mulai beranjak dewasa dan pergi untuk sementara waktu. Tidak peduli ke mana pun takdir membawa, rumah ada tujuan pulang setiap anak.
Oh, ibu tenang sudah
Lekas seka air matamu
Sembapmu malu dilihat tetangga
Oh, ayah mengertilah
Rindu ini tak terbelenggu
Laraku setiap teringat peluknya
Kini kamarnya teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi
Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi
Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu, dia pasti
Pulang ke rumah
Bagi saya, karya-karya Banda Neira adalah brilian, perpaduan kata-kata indah dan petikan gitar akustik yang dikemas dengan sangat apik. Pangeran Kecil, Matahari Pagi, Esok Pasti Jumpa, Sampai Jadi Debu, Pelukis Langit dan banyak lagu lainnya selalu masuk ke dalam playlist yang saya putar hingga saat ini.Â
Sejak dibentuk pada tahun 2012, selama perjalanan karir bermusiknya Banda Neira telah merilis dua buah album yaitu Berjalan Lebih Jauh (2013) dan Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti (2016), selain itu Banda Neira juga merilis mini album Paruh Waktu (2012) dan album konser Kita Sama-sama Suka Hujan (2015).
Meskipun pada tanggal 23 Desember 2016, Ananda Badudu dan Rara Sekar secara resmi menyatakan Banda Neira bubar melalui akun Instagram milik Banda Neira.Â
Tapi bagi saya, karya-karya Banda Neira telah memberikan sisi keindahan tersendiri dalam menikmati setiap bait dari puisi atau kata-kata puitis. Jelas, saya dan juga banyak penggemar lainnya tetap setia menunggu Banda Neira kembali. Suatu saat.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H