Sebelum masa pemilihan, jadilah oposisi yang cerdas dimana kritisi kita SELALU berdasarkan data dan perbandingan yang valid. Sentil “sistem” dengan wacana, diskusi publik, dan gerakan alternatif. Bikin mereka gusar. Mereka harus tahu, bahwa sistem mereka masih banyak lobangnya.
Saat masa pemilihan, inilah saat adu gagasan. Massa “partai” alternatif, boleh jadi belum besar. Tapi, di zaman ini, loyalitas bisa dikalahkan dengan akal sehat. Ini jamannya jualan ide, Bung! Siapkan amunisi untuk berperang di ruang publik. Cari simpati dengan cantik! Bagaimanapun, bila “sistem lama” membuka diri, tidak salahnya dipertimbangkan untuk masuk. Mulailah dengan audiensi. Karena koalisi bukan berarti kompromi.
Jika pada akhirnya “partai” kita kalah dukungan. Terimalah. Coba lagi tahun depan, atau lima tahun lagi. Berarti kita punya waktu untuk mematangkan persiapan, amunisi, dan penerus cita-cita kita… orang di luar sistem.
Sekali lagi, jika terbuka kesempatan masuk sistem, maka pertimbangkanlah… Boleh jadi dalam tawaran tersebut ada kesamaan visi dan keinginan orang sistem untuk memperbaiki diri. Boleh jadi juga ada peluang untuk membuka koreng hegemoni ini agar cepat kering, ha ha ha.
Poin lebih dari berada dalam sistem adalah adanya support system yang sudah jadi. Kekurangannya, gerak agak diarahkan. Poin lebih berada di luar sistem adalah lebih bebas. Tapi, PR besarnya adalah bagaimana membuat supporting system dan thinktank sendiri yang siap menemani kita menjalankan amanah jika ide kita terjual nanti.
Akhir kata, hegemoni tidak buruk tapi sistem yang langgeng harus dibikin gusar. Jangan-jangan banyak dari kita yang sudah apatis karena cuma ada satu opsi. Jangan-jangan akal sehat kita sudah mati—tidak bisa lagi mengkritisi keadaan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H