Biasanya kita memikirkan kreativitas hanya dalam konteks pemecahan masalah. Kita diberikan perkara yang sulit, lalu kita kerahkan "keahlian kreatif" kita untuk memecahkan masalah tersebut.
Itu mengagumkan, tapi bagaimana kalau kita tidak tahu masalah apa yang berusaha kita pecahkan?
Orang-orang kreatif akan melakukan "pencarian masalah".Â
Pemecah masalah menjawab pertanyaan, sedangkan pencari masalah menemukan pertanyaan-pertanyaan baru dan menjawabnya. Pertanyaan baru inilah, dan bukan jawabannya, yang membedakan kreativitas.
Dalam kata-kata Socrates, "Teruslah bertanya. Jalan menuju kebijaksanaan disusun dari pertanyaan-pertanyaan yang bagus." Ah, iya, tentu. Â Jika Anda melakukan penelitian ilmiah apa pun, seluruh rangkaian tersebut selalu diawali dengan rumusan masalah atau kumpulan pertanyaan.
Itu karena pertanyaan merupakan fondasi mentah dari kreativitas. Pablo Picasso pernah bercanda, "Komputer itu bodoh. Mereka hanya memberi kita jawaban."
Barangkali contoh pencari masalah terbaik adalah Charles Darwin. Dia ilmuwan hebat. Dan nyaris mandiri. Dia terinspirasi dari beberapa ilmuwan sebelumnya dan mulai mempertanyakan sesuatu yang tidak tertulis di dalam buku-buku yang dibacanya.
Tidak ada orang yang mendatanginya dan berkata, "Charles, tolong ciptakan teori evolusi!" Dia menemukan masalah tersebut, yaitu masalah kesamaan yang tak terjelaskan antara spesies-spesies berbeda, lalu memecahkannya dengan teori yang mempersatukan.
Leonardo da Vinci juga seorang pencari masalah. Pun masalah menemukannya.Â
Dia adalah "anak tidak sah" yang terlahir dari seorang notaris bernama Ser Piero. Sepanjang hidupnya, dia suka sekali mempertanyakan sesuatu, bahkan hal-hal remeh, dan menjawabnya dalam buku catatannya yang tercecer.
Persoalan yang kita temukan sendiri dapat menjadi hal yang paling memotivasi kita.