Nilai merupakan sebuah bentuk konversi dari hasil pembelajaran di sebuah institusi pendidikan.
Jika di dunia sekolah dasar sampai sekolah menengah atas kita mengenal istilah ranking atau peringkat, maka di dunia perkuliahan istilah ini lebih dikenal sebagai indeks prestasi kumulatif (IPK).
Bedanya, jika sistem ranking ditentukan di akhir setiap semester, maka di bangku kuliah IPK baru diketahui saat mahasiswa maupun mahasiswa sudah berhasil menyelesaikan studinya di program studi masing-masing.
Penting atau tidak penting
Nilai memang bisa dikatakan penting maupun tidak penting tergantung perspektif dari individunya.
Penting karena bisa mempercepat lulusnya mahasiswa-mahasiswi tersebut, sebab jika tidak lulus suatu mata kuliah maka diharuskan mengulang di semester yang akan datang.
Tidak terlalu penting karena di masa sekarang yang sudah memasuki era 4.0 mahasiswa dituntut untuk bukan sebatas paham teori semata di ruang kelas, namun juga perlu mempunyai keterampilan yang mumpuni sesuai dengan minat dan bakat yang disukai atau yang dimiliki.
Keterampilan yang dimiliki berupa keahlian dasar seperti Microsoft Office yang sudah dibuktikan dengan sertifikat dari pelatihan tersebut merupakan salah satu keterampilan yang perlu dimiliki oleh para mahasiswa dan mahasiswi agar bisa bersaing di dunia kerja maupun mendirikan usaha rintisan sendiri.
Nilai bukan segalanya
Mungkin peribahasa nilai bukan segalanya merupakan sebuah ungkapan dari mahasiswa dan mahasiswi setengah tua maupun mahasiswa-mahasiswi yang sudah berada di tingkat kejenuhan jelang semester akhir.
Kegalauan dan kebingungan yang dimiliki oleh sejumlah pejuang tugas akhir atau semester setengah tua juga seharusnya disikapi bijak agar studi tidak molor sebab jika tidak selesai tepat waktu maupun cuti kita tetap akan dimintai dana sebagai donatur untuk bukti bahwa kita masih aktif di kampus tersebut.
Cita-cita IPK 4.0 untuk menjadi peraih nilai tertinggi di angkatan merupakan idaman bagi semua mahasiswa dan mahasiswi di awal memasuki bangku kuliah, namun lambat laun berbagai ujian hidup, tantangan, kejenuhan akhirnya membuat rencana meraih IPK 4.00 pupus di tengah jalan.
Walaupun masih ada yang tetap beristiqomah untuk meraih IPK sempurna bukan untuk ambis, pamer ataupun sombong namun untuk membahagiakan orang tua yang sudah merawat kita sedari kecil.
Yang penting lulus dan punya pekerjaan
Begitulah jika sudah masa setengah kuliah yang penting lulus, memang merupakan wujud harapan terakhir setelah banyaknya drama selama 8 semester.
Namun perlu diingat selain pentingnya mendapatkan restu orang tua, maupun calon mertua jangan lupakan restu dosen pembimbingmu.Â
Sebab tanpanya kamu tidak bisa kembali ke habitat aslimu perbaiki hubungan dengannya agar bisa segera mengakhiri kuliah baik itu untuk kamu yang ingin lanjut ke jenjang yang lebih tinggi maupun untuk yang sudah ngebet nikah, cari kerja dan lain sebagainya.
Yang penting lulus namun jangan lupa mata kuliah, praktikum, tugas akhir, sampai tunggakan uang kuliahmu jangan dibiarkan karena kamu tidak akan bisa berfoto ria dengan bestie saat wisuda nanti.
Yang penting bekerja ya bekerja atau membuka usaha merupakan keputusan yang sah-sah saja dilakukan oleh seseorang.Â
Tidak ada salahnya melamar kesana-kemari mencari lowongan jika memang sudah takdirnya pekerjaan akan datang asalkan berdoa dan berusaha jangan langsung pasrah pada Tuhan Yang Maha Esa.Â
Anak organisasi ataupun bukan tidak masalah asalkan kuliah tidak terbengkalai
Banyak anak organisasi yang sering mengabaikan kuliahnya dengan dalih sibuk kegiatan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun Organisasi Daerah komunitas dan lain sebagainya. Namun tidak sedikit ada juga mahasiswa si tukang rapat yang akademiknya bagus.
Untuk si tukang kuliah pulang juga terutama harus bisa membuktikan bahwa dia juga bisa seimbang dengan si anak tukang rapat bahwa kuliah tetap bisa dilakukan meskipun sesibuk apapun.
Mahasiswa sambil kerja merupakan cerminan idaman semua orang tua agar si anak mandiri tanpa jadi benalu di dalam keluarganya. Banyak yang kuliah sambil kerja lulus tepat waktu ada pula yang keasyikan kerja lalu hilang dari dunia kampus.
Yang terakhir si anak tukang nongkrong banyak mahasiswa maupun mahasiswa-mahasiswi yang sering nongki-nongki cantik di restoran dan kedai kopi sah-sah saja asalkan itu uang hasilmu sendiri bukan hasil orang tuamu.Â
Asalkan akademik bagus perilaku nongkrong tidak jelas tanpa protokol kesehatan bisa dilakukan asalkan tidak tercium satuan petugas covid-19.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H