Katamu, hujan akan turun malam ini. Deras, hingga membikin tubuhku gigil. Alangkah bergetar bulu kudukku, ketika baru saja menutup telepon darimu, hujan turun seketika. Deras. Sangat deras.
Aku mencoba meneleponmu kembali. Kucari namamu di kontak. S u w a n ti. Dapat.
(tiiiik.. Â tiiiiik... nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.. ....)
Kau hidup di tengah tengah kawasan pedesaan. Jauh sekali dari arus komunikasi dan dunia maya. Keseharianmu kau isi dengan banyak bicara pada tetangga, membicarakan hal hal yang sebetulnya bisa dipercaya dan sekaligus juga tidak bisa diterima akal sehat.
Kau pernah bercerita tentang kisah kucing tanpa ekor yang tengah ramai diperbincangkan di sekitaran Kiringsapua, sebuah daerah yang dihuni sekitar 50 kepala rumah tangga. Daerah yang dikelilingi pohon biduri, sebuah pohon yang dipercaya bagi sebagian masyarakat sebagai tumbuhan pengusir makhluk halus.
"Kucing tak berekor itu tidak mencuri uang, tapi dia mencuri keperawanan perempuan muda di sini," katamu, "dan dia bisa berubah jadi lelaki berwajah rupawan penuh kharisma, sehingga perempuan mana pun tidak akan menolak ketika diajak bersuka cita hingga pagi menjelang."
Aku yang mendengar kisah haru itu lantas berpikir dalam hati. Jangan jangan ini adalah....
Kau memotong pembicaraanku di telepon. Tiba tiba kau matikan panggilanku ketika aku sedang asyik berbicara mengenai lomba lari karung yang kujuarai.Â
Kembali kuketik nomor teleponmu lalu kutekan 'hubungi lagi'.
 ... ... ....(tiik... tiiik...nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan... .... )
Kau masih belum menjawab. Aku jadi gelisah. Pikiranku seketika kalut dipenuhi tanda tanya. Kau hilang bagai ditelan angin.Â