Oleh MUCH. KHOIRI
Hari Minggu kami bersafari budaya ke Desa Sukarara, Desa Sade (Rambitan), dan Pantai Kuta atau Tanjung A’an—kali ini kami memutuskan tidak mampir ke Pelabuhan Lembar atau Sekotong (Gili Naggu). Waktunya tidak cukup; karena menjelang sore nanti pesawat kami akan terbang pulang ke Surabaya.
Di Desa Sukarara kami menyaksikan dari dekat bagaimana masyarakat perajin tenun atau songket sedang bekerja. Rumah mereka juga sekaligus digunakan untuk memajang hasil tenun keluarga. Di beberapa sudut rumah mereka tersedia alat-alat tenun tradisional mereka, untuk njagani kalau mereka bekerja bersamaan. Tentu, yang mengerjakan lazimnya adalah kaum perempuan.
[caption id="attachment_290606" align="alignnone" width="448" caption="Seorang ibu sedang membuat kain tenun/songket. (Dok.Pribadi)"][/caption]
Dalam tradisi Sasak yang masih diadaptasi dan dilestarikan ini, perempuan wajib untuk mampu menenun dengan tangan ini (dalam bahasa Inggris hand weaving). Jika belum mampu, wajib baginya untuk belajar hingga mampu. Konon, para gadis tidak diizinkan untuk menikah jikalau mereka belum mampu menenun. Tak jelas alasannya, namun bisa ditafsirkan, bahwa mereka harus mampu mandiri.
[caption id="attachment_290612" align="alignnone" width="448" caption="Rumah pun dimanfaatkan untuk memajang kain tenun/songket yang telah dihasilkannya. Harga mahal bisa ditawar. (Dok.Pribadi)"]
Sekadar informasi, kain tenun tangan, yang mereka kerjakan selama 2-3 bulan itu, harganya mahal-mahal, bisa mencapai ratusan ribu atau jutaan rupiah—bergantung bahan dan motifnya. Nah, dengan menenun, wanita seharusnya bisa menghidupi dirinya sendiri, dan/atau mampu membantu suami dan keluarga dalam menyangga kebutuhan ekonomi.
***
Untuk menguak kehidupan masyarakat adat Sasak, kami pun datang ke Desa Sade (Rambitan). Mentari sudah mulai meningi saat kami tiba di lokasi. Segera kami mendapat penjelasan dari tour guide mereka, sambil duduk di berugaq sekenam (berugaq bertiang enam). Di depan kami berseliweran pengunjung lain yang sudah antre untuk mendapat penjelasan serupa.
[caption id="attachment_290607" align="alignnone" width="448" caption="Desa Sade, kampung tradisional Sasak. (Dok.Pribadi)"]
Lalu kami dibawa menyusuri gang-gang kecil seukuran dua-meteran, yang kanan-kirinya adalah “ruko” (rumah dan toko) penduduk setempat, yang menjajakan kain songket/tenun Sasak. Rumah mereka yang pendek-pendek khas Sasak itu kami lalui satu persatu. Tak lupa kami jeprat-jepret sana-sini untuk dokumentasi penting (*narsis.com).
[caption id="attachment_290608" align="alignnone" width="448" caption="Salah satu "]
Tentu saja, tak lupa kami berbelanja—sarung, selendang, kain, sajadah, setelan, kerajinan tangan, dan sebagainya. Saat berbelanja, lazimnya kita lupa, seberapa kapasitas tas kita nanti kalau pulang. Ah, tiba-tiba tas penuh sesak atau “hamil” akibat isian belanjaan yang banyak. Tahu-tahu uang yang di amplop atau di ATM telah menguap tanpa kendali, saking senengnya.
[caption id="attachment_290609" align="alignnone" width="448" caption="Kami mengunjungi nenek 90 tahun yang memintal tenun/songket dari kapas. (Dok.Pribadi)"]
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempat menunaikan shalat dhuhur di masjid mereka. Masjid yang khas, dan sejuk rasanya. Suasana alamiahnya begitu terasa—angin berembus dari pesawahan dan perkebunan yang hijau. Alangkah menyenangkan hidup seperti ini.
***
Menuju Tanjung A’an perlu perjuangan tersendiri. Hujan baru saja mengguyur, saat kami makan siang di Segare Anak tadi, dan kini jalanan (makadam) menjadi agak licin. Saat menanjaki jalan yang licin, hati ini berdebar-debar. Terlebih, jalan makadam berkilo-kilo meter itu kondisinya sudah mulai rusak sana-sini. Seperti senam ‘goyang oplosan’ saja.
Dengan perut yang seneb, kami tiba di Tanjung A’an. Pantai Kuta-nya Lombok ini masih sangat alamiah—bahkan terkesan belum digarap secara optimal sebagai tujuan wisata. Tempat parkirnya saja sederhana; juga penjaja makanan-minuman—hanya berjajar di sepanjang lokasi parkir. Jangan berharap untuk menginap di sini, karena memang belum tersedia fasilitasnya.
Indahnya tentu kalau bermanja-manja menikmati laut—deburan ombaknya, segarnya angin yang bertiup, dan indahnya pemandangan di segala penjuru. Bahkan, jika mau mendaki sebuah bukit di bibir pantai itu, segala keindahan pantai ini begitu tampak mengagumkan. Tinggal mau memotret dengan model seperti apa, sangat memungkinkan!
[caption id="attachment_290610" align="alignnone" width="448" caption="Bayangka Anda berada di posisi saya. (Dok.Pribadi)"]
Hari ini saya mencatat tebal kembali: alangkah indahnya bumi telah diciptakan Tuhan, dan alangkah sia-sia hidup ini jika tidak pandai mensyukuri karunia Tuhan yang begitu besar. Mudah-mudahan Tuhan melimpahkan petunjuk-Nya bagi sekalian manusia, termasuk kami, untuk mencintai alam dan bersyukur pada-Nya.***
Copyrights@much.khoiri, 2014
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H