Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Ilmuwan - Sosiolog dan Penutur Kaldera Toba

Memahami peristiwa dan fenomena sosial dari sudut pandang Sosiologi. Berkisah tentang ekologi manusia Kaldera Toba.

Selanjutnya

Tutup

Foodie Artikel Utama

Dapatkah Rindu pada Soto Triwindu Dibayar dengan Soto Gading?

27 Juni 2023   07:12 Diperbarui: 28 Juni 2023   02:02 901
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Aku hanya ingat enak. Tapi bagaimana rasa enaknya lupa. Bila kemudian orang-orang bilang enak, ya, aku sepakat. Pak Jokowi juga bilang enak. Maka enaklah itu.

Tanpa sadar terbitlah liurku mengingat soto Gading itu. Bersamaan dengan datangnya Mas Pelayan ke meja kami, hatiku sudah ikhlas makan soto Gading. "Biarlah riduku pada soto Triwindu dibayar dengan soto Gading." Aku membatin.

Ada yang unik pada sistem pemesanan. Mas Pelayan tidak memberikan daftar pemesanan menu. Mungkin tak ada karena soto Gading menerapkan prinsip paperless? Itu bagus, sih. Tapi kasihan juga pada Mas Pelayan yang harus tiga kali mengulang pesanan kami. Agar tak ada kesakahan eksekusi.

Aku rada prihatin melihat mimik Mas Pelayan itu. Teringat mimik anakku waktu masih SD dulu saat mengulang-ulang pelajaran sejarah untuk persiapan ulangan besok hari. Rada-rada stres gimana, gitu.

Tapi aku pikir barangkali memang begitulah kultur bisnis Soto Gading. Mengandalkan ingatan dan mengedepankan saling percaya antara pesoto dan penyoto, penjaja dan konsumen. 

Masalahnya ingatanku, sebagai jurubayar nanti, tidaklah sebagus Mas Pelayan itu. Terbukti makanan datang tepat seperti pesanan. Karena itu aku putuskan untuk mencatat semua pesanan itu di balik kertas struk belanjaan entah dari toko mana.

Soto datang, lidah goyang!

Aku mengamati semangkok soto Gading yang tersaji di hadapanku—terpisah dari sepiring nasi putih pulen di sampingnya. Ingatanku akurat tentang strukturnya. Bihun bening dan ayam suwir dalam genangan kuah berkaldu agak bening. Taburan brambang abang, bawang merah goreng mengambang di permukaannya.

Aku memejamkan mata saat mencoba suapan pertama, sesendok soto berisi kuah, sesuwir daging ayam, sejumput kecil bihun bening, dan selembar bawang goreng. Lalu ada potongan jeruk nipis untuk memberi rasa segar.

Hmm, suapan itu melontarkan ingatanku pada satu momen duapuluh tahun lalu, ketika aku menyesap nikmat soto Gading untuk pertama kalinya. Tetiba ingatanku pulih soal rasanya. Gurih kuah, tekstur daging yang lembut, bihun yang empuk, dan bawang goreng yang krispi lembut. Semua serba lembut.

Serba lembut. Aku ingat sekarang. Itulah karakter soto Gading. Kurasa itu adalah pewujudan kelembutan putri Solo dalam struktur, tekstur, dan rasa soto ayam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun