"Horja godang" (Pesta Agung) pernikahan adat Batak Mandailing pasangan Bobby-Kahiyang sangat mungkin adalah yang terbesar sepanjang sejarah Batak.
Terbesar bukan dalam ukuran kemewahan, keramaian, dan biayanya. Kendati harus dilihat secara relatif, sudah jelas "horja godang" Bobby-Kahiyang itu mewah, ramai, dan mahal. Harus diingat, ini pernikahan putri tunggal Presiden RI. Lagi pula, di Jakarta misalnya, tidak sulit menemukan pesta nikah anak penguasa atau pengusaha yang hiper-mewah, super-ramai dan biaya super-mahal.
"Horja godang" pernikahan adat Batak Mandailing Bobby-Kahiyang menjadi sebuah peristiwa yang mungkin terbesar sepanjang sejarah Batak, bila dilihat dari segi kelengkapan pranata adat dan partisipasi organisasi adatnya.
Pariban dari Solo
Fakta bahwa pernikahan Bobby-Kahiyang adalah pernikahan antar-etnik Batak-Jawa, menjadikan peristiwa "horja godang" itu menjadi sangat lengkap dari sisi pranata (kelembagaan) adat. Karena harus melibatkan pranata adat mem-batak-kan salag seorang mempelai, dalam hal ini Kahiyang.
Sedikitnya ada 15 pranata adat Batak Mandailing yang harus digenapi Bobby-Kahiyang selama seminggu (20-26/11/2017) di Medan, tempat tinggal keluarga Bobby. Tapi saya tidak akan mengurainya satu per satu. Cukup beberapa yang pokok saja.
Upacara dimulai dari penyelenggaraan pranata adat "haroan boru" atau menerima mantu perempuan (20/11/2017). Lalu diteruskan ke upacara adat "mangalehon marga", memberi marga pada Kahiyang, yaitu marga boru Siregar (21/11/2017).
Siregar adalah marga dari "tulang" (paman, saudara laki-laki ibu). Dengan begitu secara adat Kahiyang telah menjadi "boru ni tulang" atau "pariban" (putri paman) untuk Bobby. Karena Kahiyang asli Solo, maka dia bolehlah disebut "Pariban dari Solo."
Setelah resmi menjadi "boru Batak Mandailing" bermarga Siregar, maka barulah Bobby-Kahiyang melangkah ke pranata adat pernikahan Batak Mandailing selanjutnya, sebagaimana berlangsung pada hari ini (25/11/2017).
Pertama Bobby-Kahiyang menjalani upacara melepas masa lajang. Adatnya adalah "marpangir di tapian raya na martua" (mandi air jeruk purut di sungai pemandian yang penuh berkah), menghanyutkan semua kenangan lajang, siap menjalankan bahtera rumah tangga.
Setelah itu mereka resmi secara adat menjadi suami-isteri, menjadi "orang dewasa" atau "matobang". Karena itu mereka dianugerahi "gelar matobang" Sutan Kumala Abdul Rahman untuk Bobby dan Namora Pinayungan Hasayangan untuk Kahiyang.