Ketika anak yang terbiasa berkomunikasi dengan gaya komunikasi pasif saat berada dirumah, mereka akan lebih sering memendam perasaannya ketika mainannya diambil, tidak mendapatkan hak yang seharusnya, tidak berani untuk mengekspresikan perasaannya, dan tidak mau ada perdebatan walaupun itu untuk mendapatkan haknya.
Untuk anak yang lebih sering mendapatkan gaya komunikasi agresif dengan dibentak, dimarahin setiap kesalahan yang dilakukan, dipukul, selalu disalahkan itu membuat anak mempunyai emosi yang negatif. Sehingga ketika besosialisai anak akan cenderung menjadi orang yang egois tidak memikirkan perasaan temannya, hanya karena sedikit melakukan kesalahan, adanya perbedaan pandangan, atau saat diberikan kritik dan saran. anak merasa tidak terima dengan sikap temannya dan akan memberikan feeback yang tidak sepantasnya kepada teman-temanyaÂ
dan anak yang terbiasa mendapat gaya komunikasi pasif-agresif membuat anak tidak dapat mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara penuh. anak ini akan cenderung diam atau meng'iya'kan ketika berhadapan dengan teman-temannya dan baru bisa mengekspresikan perasaan dan pikirannya ketika dibelakang teman-temannya sehingga membuat temannya merasa baik-baik saja padahal disatu sisi anak tersebut itu tidak merasa baik atau tidak terima dengan sikap temannya.
sedangkan anak yang terbiasa diperlakukan oleh orangtuanya dengan gaya komunikasi asertif dapat membuat anak mempunyai simpati dan empati terhadap teman-temannya. Hal ini disebabkan karena anak terbiasa dihargai baik perasaan maupun pikirannya oleh orang tua saat berkomunikasi. Dengan kemampuan berkomunikasi asertif membuat anak akan jauh lebih menghargai dirinya dan orang lain sehingga anak memiliki batasan ketika mengungkapkan perasaan kepada teman-temannya.
Komunikasi asertif menjadi cara yang tepat dalam menjalin sebuah hubungan, terutama dilingkungan pertemanan anak yang sangat sering terjadi pertikaian karena hal-hal kecil. Dimana biasanya anak yang merasa lebih kuat dibandingkan temannya akan bertindak agresif sedangkan yang merasa dirinya lemah akan bersikap pasif. Dengan orang tua yang terbiasa melakukan komunikasi asertif hal ini yang akan membentuk anak bagaimana ia dapat menyampaikan isi perasaannya ketika terjadi pertikaian dengan tetap menghargai teman-temannya. hal inilah yang dapat menghindari anak untuk bersikap tidak perduli dengan kondisi dirinya sendiri yang akan mengakibatkan masalah dalam waktu jangka panjang, ketika orang tuanya tidak terbiasa menerapkan komunikasi asertif dalam pola asuh anak yang nantinya akan sangat berdampak pada perilaku anak ketika menjalin sebuah hubungan  dengan temannya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H