Mohon tunggu...
Mohammad Rasyid Ridha
Mohammad Rasyid Ridha Mohon Tunggu... Buruh - Bukan siapa-siapa namun ingin berbuat apa-apa

Pekerja di NKRI Pengamat Sosial, pecinta kebenaran...Masih berusaha menjadi orang baik....tak kenal menyerah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Petani dan Kedaulatan Pangan Bangsa Indonesia

6 Mei 2020   13:04 Diperbarui: 7 Mei 2020   09:17 282
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan beberapa anak muda di sebuah lokasi pertanian modern. 

Anak-anak muda ini sedang mengembangkan riset pertanian berbasis aeroponik yang katanya bisa hemat air hingga 80% dan jauh lebih maju daripada hidroponik. Di sini mereka tiap waktu secara regular mencatat parameter dan hasil tumbuhan yang dikembangkan.

Lahan pertanian ini menempati sebuah gudang yang tidak terpakai. Sembari mengembangkan pertanian aeoroponik, para anak muda ini juga mengembangkan perdagangan produk pertanian organik secara online. Madu, sayuran, ayam, buah, mereka tawarkan dan kirimkan secara online.

Dok. pribadi
Dok. pribadi

Pertanian aeroponik ini dijalankan dengan peralatan yang tidak biasa. Ada microcontroller, ada pengukur cahaya, ada lampu led, ada sirkuit elektronika ada kabel-kabel. 

Anak-anak muda ini ada yang lulusan mekanikal, teknologi pertanian, pertanian, yang memang harus berkolaborasi membangun lingkungan pertanian dan penelitian aeroponik seperti ini.

Saat saya bertanya pada salah seorang dari mereka, seorang gadis muda, ternyata dia lulusan dari jurusan pertanian dari sebuah universitas di Jakarta. 

Saya pikir di Jakarta sudah tidak ada lagi jurusan pertanian, mengingat petani bukan menjadi profesi yang seksi dan banyak diburu orang beda halnya dengan kerja kantoran.

Anak-anak muda ini berusaha memutus mitos bahwa petani itu harus kucel, nggak gagah, nggak modis, duit cekak, hidupnya pas-pasan bahkan kekurangan. 

Mereka membuka pasar produk-produk pertanian hingga bisa dijual dengan harga premium kepada orang-orang yang memang sadar apa itu kelebihan produk organik.

Sedikit optimis bagi saya ketika melihat semangatnya anak-anak muda ini menggeluti dunia pertanian modern. Ada satu asa dimana profesi petani tidak akan menguap dari bumi pertiwi ini. 

Bagi saya petani adalah penyokong utama ketahanan dan kedaulatan pangan suatu negara. Kedaulatan pangan ini menentukan kekuatan dan kedaulatan suatu negara.

Negara kita bisa saja diembargo oleh seluruh bangsa di dunia, tidak bisa berpergian keluar negeri, tidak ada pasokan minyak bumi dan berbagai barang impor lainnya. 

Namun kalau kedaulatan pangan kita bagus, maka selama perut seluruh rakyat terjaga, negara ini bisa bertahan dan kuat menghadapi embargo tersebut dan berdaulat sebagai bangsa.

Petani, menjadi satu profesi yang sangat menentukan kedaulatan pangan di negara kita. Sudah seyogyanya pemerintah memberi perhatian serius terhadap kesejahteraan para petani dan penyaluran produk pertanian.

Pertanian yang berkembang dan nilai produk hasil pertanian yang menggembirakan bagi petani menjadi kunci. Kalau ini terjadi maka angka urbanisasi akan sangat jauh berkurang. 

Anak-anak muda di daerah akan berbondong-bondong menjadi petani tanpa merasa gengsi sehingga tidak perlu pergi ke kota mencari kerja. Kalau menjadi petani tidak menghasilkan uang yang banyak, maka jangan harap orang akan mau menjadi petani kecuali sangat terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Sudah lebih capai, hasil tidak seimbang dengan tenaga, buat apa?

Menjadi kewajiban pemerintah baik pusat maupun daerah untuk memperbaiki infrastruktur pertanian seperti saluran irigasi, jalan-jalan, penyediaan sarana dan prasarana produksi seperti pupuk, bibit dan lain-lain. 

Namun lebih penting dari itu, adalah bantuan pemerintah terutama daerah untuk membuka pasar bagi produk-produk para petani agar dihargai dengan sangat layak.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ketika hasil pertanian membumbung tinggi harganya, maka para petani tidak pernah ikut menikmati keuntungan ini. Hanya para tengkulak, dan pedagang yang menikmati atas kondisi tersebut. Ketidakadilan ini begitu menyesakkan dada para petani.

Banyak cara agar hilirisasi produk pertanian berjalan dengan baik dan memberikan nilai tambah yang banyak bagi petani. Kesinambungan kegiatan pertanian akan tergantung sisi hilirnya, dan memberikan manfaat yang banyak di sisi hulu (petani). 

Misalnya ketika petani menanam cabai, namun saat panen harganya anjlok dan menjadi rugi maka mereka akan trauma lagi menanam cabai. 

Namun kalau cabai ini bisa diolah saat harga tidak baik misal dijadikan sirup, manisan atau sambal kemasan dan pasarnya ada serta sanggup menerima maka harga cabai ini akan terjaga dan malah naik kelas arena sudah menjadi produk olahan.

Pentingnya kedaulatan pangan ini adalah sebanding dengan menempatkan petani sebagai profesi yang bergengsi dan sangat dibutuhkan, bukan profesi alternatif terakhir. 

Kuncinya adalah membuat petani mendapatkan imbal hasil yang sangat layak atas produk yang dihasilkan. Tugas pemerintahlah memastikan bahwa hilirisasi produk pertanian berjalan dengan baik lengkap dengan penciptaan pasarnya sehingga memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi para petani, tidak hanya untuk tengkulak dan pedagang. 

Tapi ngomong-ngomong Indonesia masih negara agraris atau bukan sih?

MRR, Bks-06/05/2020

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun