Mbak2, Mas2 dan Adek2 yg saya cintai,
Saya mohon diri meninggalkan kantor sebelum akhir masa pensiun saya
Mulai 1 December 2017 saya sdh menjadi Pensiunan ***
Lebih banyak suka cita selama 31 tahun 2 bulan mengemban tugas negara
Terima kasih atas kerjasama selama ini
Mohon maaf bila ada kesalahan dan mohon diingat hanya yg baik saja, yg tidak baik mohon dihapus dr ingatan
Begitulah kata-kata perpisahan senior saya di perusahaan ketika berpamitan pada hari terakhir kerjannya, 30 November 2017. Setelah hampir 4 windu bekerja akhirnya masa pensiun datang dan waktunya untuk berganti peran, dari seorang pekerja menjadi pensiunan yang tidak terikat jam kerja. Pada akhir masa kerjanya itulah dia pamit, sembari mengucapkan terimakasih, pesan kesan, serta permohan maaf apabila ada salah.
Semua manusia akan menjalani berbagai fase dalam kehidupannya, dari lahir, kecil, beranjak remaja, remaja, dewasa, tua, meninggal, namun itupun kalau diberi umur panjang karena seringkali manusia terhenti perjalanan hidupnya sebelum mencapai tua bahkan dewasa.Â
Fase kehidupan manusia di dunia selalu dibatasi umur, dimana kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Manusia berproses dalam tiap fase kehidupan yang dilaluinya, berinteraksi satu sama lain dengan manusia lainnya. Interaksi yang ditandai dengan hubungan yang naik turun antara seseorang dengan orang lainnya, suatu kewajaran dalam hubungan antar manusia.
Mengingat adanya interaksi hubungan antar manusia di setiap fase hidupnya, maka menjadi sesuatu keutamaan ketika kita berpamitan terhadap lingkungan sosial masyarakat, kerja, atau pendidikan dimana sebelumnya kita berada sebelum melangkah keluar dari lingkungan tersebut.Â
Paling gambang kita lihat dalam dunia pendidikan yang barangkali sebagian besar pernah kita alami. Selama menempuh pendidikan dari SD, SMP, SMA, maupun universitas pada saat masuk ada penyambutan sebagai siswa/mahasiswa baru. Begitu tahap kelulusan kita berpamitan terhadap sekolah kita dan diacarakan biasanya dalam perpisahan, atau acara wisuda maupun seremonial lainnya.
Dalam dunia kerja juga hal yang sama terjadi ketika kita harus pamit karena harus mengakhiri hubungan kerja di perusahaan baik karena pensiun, resign, pindah kerja atau alasan lainnya. Jangankan dunia kerja, dunia percintaan juga mengenal pamit ketika seorang harus berpamitan kepada pacar atau kekasihnya karena tidak bisa melanjutkan hubungannya karena berbagai macam alasan. Begitu juga dalam kehidupan rumah tangga, terkadang seorang suami atau istri harus mengucapkan kata pamit pada pasangannya karena tidak bisa melanjutkan kehidupan rumah tangga yang telah dibinanya selama ini dan menganggap perpisahan adalah hal terbaik.
Begitulah yang terjadi dengan pamit, pamit akan selalu diikuti dengan perpisahan. Perpisahan dengan sesuatu dimana kita sebelumnya berada, beraktivitas, berinteraksi dengan segala dinamikanya. Sudah menjadi harapan tiap orang ketika berpamitan dan berpisah ingin dikenal karena amal kebaikannya, bukan karena kenakalan, keburukan maupun kejahatannya.Â
Adakah dari kita dulu yang ingin dikenal sebagai murid atau mahasiswa yang suka berkelahi, berjudi, mencontek juga dengan kemampuan akademik di bawah rata-rata? Tentu yang kita inginkan adalah kebalikannya, sehingga ketika berpamitan kita dapat menegakkan kepala dan tidak merasa malu. Ketika berpamitan bisa dengan lega mengucapkannya karena perbuatan kita selama ini tidak mencederai lingkungan beserta orang-orang di dalamnya.
Apabila kita ingin dikenal sebagai orang baik ketika kata-kata pamit harus diucapkan, tentulah proses di dalam fase sebelum terjadinya perpisahan harus benar-benar diperhatikan. Bagimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menjaga integritas, bagaimana sikap dan perilaku keseharian yang kita perlihatkan dan terapkan akan menentukan judgement orang terhadap kita. T
idak perlu berpura-pura menjadi pribadi lain untuk disukai orang, tetapi jadilah diri sendiri dan paksalah pribadi kita untuk senantiasa menjadi orang baik yang melakukan kebaikan dan mengajak kepada kebaikan. Bagaimana mungkin mengharapkan orang lain menghormati dan mengingat yang baik-baik akan diri kita namun perilaku kita selama berinteraksi dengan mereka menunjukkan hal sebaliknya.Â
Ujilah diri kita untuk menjadi orang baik, baik buat semua tidak diri sendiri saja. Nasihat Ali Bin Abi Thalib yang perlu direnungkan "Dirimu yang sebenarnya adalah apa yang kamu lakukan disaat tiada orang yang melihatmu".
Begitu besarnya perhatian kita ketika pamit kepada rekan-rekan kerja, rekan-rekan main karena harus berpisah dan ingin dikenang sebagai kawan/rekan yang baik, namun berapa banyak dari kita yang ingin dikenal sebagai orang baik nan beruntung ketika harus pamit meninggalkan dunia untuk menuju kehidupan akhirat.Â
Apakah kita sudah menjadi orang baik yang menyebarkan kebaikan ketika suatu saat malaikat pencabut nyawa datang, sehingga kita tidak malu untuk berpamitan kepada kehidupan dunia. Bukankah pamit dari kehidupan dunia adalah hal yang sangat krusial dimana sebagai manusia harus kita persiapkan sebaik-baiknya bekal yang akan dibawa, sehingga kita akan berpamitan dalam keadaan dan cara yang baik atau dengan kata lain husnul khatimah. Patut diperhatikan ayat berikut ini:
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai." (Q.S. Al Isra' ayat 7).
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI