Mohon tunggu...
Moris Mahri
Moris Mahri Mohon Tunggu... Lainnya - PELAJAR

Bagi saya, membaca adalah berhutang dan saya yakin saja bahwa menulis merupakan cara terbaik untuk membayar hutang itu

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Kembeleisme": Bahaya Kaum Anti-Progresivitas dan Tempurung Kemunduran

26 November 2021   16:54 Diperbarui: 26 November 2021   17:14 238
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar: Internet

"Kembeleisme"

Karakter dasariah manusia adalah kebebasan. Kebebasan, oleh banyak orang, diinterpretasi secara beragam. Beberapa orang mengerti kebebasan sebagai instrumen penting untuk mengambil keputusan yang baik dan benar. Keputusan-keputusan yang memajukan diri sendiri dan sesama. 

Tetapi, selalu hadir juga interpretasi dangkal yang menyimak kebebasan sebagai alasan untuk memutuskan dan melakukan apa saja tanpa memperhatikan batas-batas kewajaran serta tanpa mempertimbangkan hak-hak orang lain dan kebaikan diri sendiri. Kasarnya, kebebasan disimak sebagai "sebebas-bebasnya", no matter what!

Di Manggarai, sebuah istilah untuk mengatakan kebebasan yang "keropos" dalam mengambil keputusan ialah "kembeleis". Orang Manggarai mengerti terminologi "kembeleis" sebagai sikap acuh tak acuh, bodo amat, suka-suka gue, dan semacamnya. Tetapi, orang baru bisa bersikap "kembeleis" kalau ia memiliki segala kebebasan untuk mengambil keputusannya sendiri. Singkat kata, "kembeleis" mengatakan kedangkalan yang mengenaskan atas kebebasan untuk mengambil keputusan dan tindakan.

Di beberapa tempat, tidak sulit menemukan orang dengan karakter "kembeleis", mulai dari yang "kurang terlalu" sampai yang layak disebut "orang sulit". Serentak, atas tuntutan dimensi sosial dan komuniter hidup bersama, tidak mudah juga untuk menghindar dari orang-orang semacam ini. 

Keadaan mengondisikan siapapun untuk terpaksa menghadapi mereka: mau tidak mau, harus. Di mana-mana, kaum kembeleis selalu mempersulit keadaan, membuatnya mandek, memperlemah semangat yang menggelora untuk memajukan dirinya dan memajukan kehidupan bersama. 

Singkat kata, kaum kembeleis menjadi batu sandungan yang lebih keras dari batu karang. Sehingga, ombak apa pun yang menerpanya, ia tetap kokoh di atas "kembeleisme"-nya.

Karakteristik Kaum Kembeleis

Karena tuntutan dimensi sosial yang memungkinkan terjadinya interaksi dengan kaum kembeleis, maka akhirnya dikenal juga ciri-ciri mereka. 

Pertama, kaum kembeleis anti-progresivitas. Ciri ini sudah menjadi seperti prinsip bagi mereka. Sebetulnya mereka adalah orang-orang yang punya mimpi besar untuk maju -- menurut omong besarnya -- tapi mereka kerap berhenti hanya pada mimpi dan omong besar. Jadi, mimpi besar mereka untuk maju hanyalah omong kosong.

 Selain mengabaikan dorongan yang kuat dari mimpi-mimpi itu, mereka juga kerap mematahkan segala usaha orang lain untuk memajukan mereka. 

Begitulah orang-orang kembeleis menikmati hidupnya. Mereka adalah orang-orang yang memilih lari mundur di tengah banyaknya orang yang berlari maju. Parahnya lagi, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang lari mundur sementara yang lain berlari maju.

Kedua, kaum kembeleis adalah kumpulan orang-orang kalah. Mereka adalah orang-orang yang kalah sebelum bertempur. Ketika diajak untuk maju, kaum kembeleis mundur duluan. Itulah keputusan mereka. 

Selalu. Mereka merasa sedang melihat ke depan tanpa menyadari kaki mereka melangkah dengan cepat ke belakang. Mereka kerap merasa menang ketika mematahkan dengan mudah undangan-undangan untuk maju, tanpa menyadari bahwa mereka sebetulnya sedang merayakan kejatuhannya sendiri.

Ketiga, kaum kembeleis adalah orang-orang yang kebingungan. Mereka tidak punya target yang  mau dikejar. Bukan karena mereka tidak punya "mata", tetapi karena memang mereka tidak berani untuk memandang kemajuan yang selalu menyambut mereka di depan. Selain itu, andaipun mereka memiliki target dalam hidupnya, mereka kebingungan setengah mati bagaimana meraih dan mewujudkan target tersebut. Karena itu, mereka memilih mundur. Tetapi, pada saat yang sama, mereka juga tidak suka melihat orang lain maju.

Keempat, kaum kembeleis adalah orang-orang yang dangkal. Mereka merasa memiliki filosofi hidup yang jelas dan benar ketika menganggap semua ajakan untuk maju sebagai kesesatan. Mereka tidak pernah berani untuk menyambut ajakan untuk maju dan manaklukannya demi perubahan hidup ke arah yang lebih baik dan progresif. 

Mereka adalah orang-orang agresif yang anti-progresif. Tidak pernah terlintas dalam benak mereka -- atau mungkin pernah tapi langsung dianggapnya sesat -- bahwa setiap ajakan untuk maju dalam banyak bidang kehidpuan merupakan batu loncatan untuk menyeberang kepada hidup yang lebih maju. Mereka tertawa sambil pangku tangan menyaksikan orang lain berlayar jauh ke seberang tanpa menyadari bahwa sebetulnya mereka sendirilah yang sedang mereka tertawakan, karena tidak berani untuk membentangkan layar dan berlayar.

Kelima, ini yang paling mengerikan, kaum kembeleis tidak sadar bahwa mereka adalah orang-orang yang kembeleis. Inilah akar dari kemandekan dan kemunduran mereka. Setiap orang yang dengan tulus dan rendah hati berusaha menyadarkan mereka bahwa mereka terlalu kembeleis, sambutan yang mereka tunjukkan adalah peremehan yang luar biasa terhadap orang-orang baik itu.

Keenam, tetapi kaum kembeleis juga adalah orang-orang yang berani. Mereka tidak suka bermain di belakang. Mereka suka berhadap-hadapan. 

Mereka suka mendengarkan gagasan-gagasan baru untuk maju hanya untuk dengan mudah mematahkannya. Karena memang itulah kesukaan mereka, yakni berhasil memahatkan gagasan-gagasan yang bernuansa progresif untuk hidup bersama maupun diri sendiri si penggagas. Entah apa alasannya.

Bahaya Bermukin Bersama Kaum Kembeleis

Karena itu, bermukim di dunia ini bersama orang-orang kembeleis adalah suatu keadaan yang berat dan membutuhkan energi lebih untuk dapat maju sendiri. Bukan egois, tapi suatu pilihan yang tepat dalam menjawabi undangan untuk maju. Bermukim bersama atau di antara kaum kembeleis sangat berbahaya. 

Bahaya yang pertama adalah adanya kerentanan ikut terjebak dalam kedangkalan dan terseret ke belakang dalam kemunduran yang mengerikan. Kedua, kaum visioner atau orang-orang yang punya visi yang jelas dalam hidupnya, ataupun yang berusaha untuk membangun visi-visi yang baik bagi hidupnya dan hidup bersama, kerap dilemahkan dan dipatahkan visi-visinya oleh kaum kembeleis.

Pengaruh Kaum Kembeleis

Kaum kembeleis juga tidak tanpa followers. Tapi mudah ditebak bahwa pengikut aliran mereka tiada lain ialah orang-orang yang punya hasrat yang sama, yakni yang suka mengalami kemunduran dan suka mematahkan segala gagasan untuk maju. Singkat kata, followers mereka ialah sesama orang-orang kembeleis juga. 

Baik yang terkena propaganda mereka, maupun yang sudah kembeleis dari sendirinya. Mereka, seperti virus, menyebar dan menjangkiti orang-orang yang kurang berpendirian dalam mengambil keputusan untuk masuk dalam barisan mereka. 

Sehingga, setiap orang yang melihat mereka akan berkata: siapakah mereka yang datang melayang dari sana seperti awan, yang kesukaannya ialah menikmati kemundurannya, yang perhatiannya dicurahkan untuk mematahkan gagasan-gagasan yang memajukan kehidupan bersama, yang sumbangsihnya ialah untuk mempersulit orang lain yang ingin maju - yang karena tuntutan kebersamaan, terpaksa melibatkan mereka dalam perencanaan-perencanaan besar untuk kemajuan bersama, yang makanan sehari-harinya ialah menertawakan kegagalan orang-orang yang sedang jatuh-bangun mengusahakan kemajuan diri sendiri dan sesama. 

Semua orang -- seolah-olah - dibuat letih dan kalah. Padahal, yang terjadi sebetulnya ialah mereka sendirilah yang sedang merayakan kekalahan itu.

Melawan Kembeleisme

Meski mereka seperti virus yang menyebarkan penyakit kedangkalan dan kemunduran, tetap dapat ditemukan kiat-kiat yang memungkinkan kaum visioner mengamankan diri dari pengaruh mereka. Pertama, dengan cara menyalakan mimpi-mimpi besar mereka dengan dukungan-dukungan yang perlu.

Tapi 'kan, mereka sendiri kembeleis dengan itu. Ya, sudah, kedua, dengan meng-kembeleis-kan mereka. Maksudnya, keberadaan mereka jangan dianggap sebagai itu yang mengganggu. Anggap saja mereka tidak ada apa-apanya, bila perlu, anggaplah mereka tidak ada sama sekali. 

Ketiga, kalau mereka tetap berpengaruh, bergaullah dengan orang-orang yang punya visi yang membangun. Karena semakin banyak orang yang punya usaha untuk maju, semakin  tersudut dan terpukul mundur juga kaum kembeleis. Keempat, jadikan kesulitan yang disebabkan kaum kembeleis sebagai bahan refleksi untuk menemukan peluang-peluang untuk maju. Juga, menghadapi kaum kembeleis adalah sekolah transendensi diri. 

Maksudnya, "aku" harus dapat melampaui kesulitan-kesulitan yang diproduksi oleh kaum kembeleis dan bila perlu harus mampu mengubah mereka. Yang terkahir ini tentu merupakan sebuah utopia. Tapi, tidak salah juga untuk diusahakan.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun