Pada minggu ini, bertemu dengan buku karya Fred Gratzon (2010, terjemahan). Â Temanya, sangat menohok pikiran, Malas Tapi Sukses. Lansung saja, pikiran ini berontak. Kok bisa , ya ? bukankah kita selama ini, dipaksa dan dituntut untuk kerja,kerja dan bahkan kerja keras ? tapi mengapa dia menyarankan untuk melakukan hal yang sebaliknya ?Â
Tapi, memang kita tidak bisa menolak dengan pandangan negatif. Â Karena memang, nyatanya di penulis itu sukses, dengan memegang prinsip yang dituliskannya itu. Jadi tambah bingung ini.Â
Namun ada satu hal penting yang menarik dari pandangan Gratzon itu. Bahwa yang disebut malas itu, bisa diartikan sedikit kerja. Hal pokok yang perlu dilakukan itu adalah mampu memilih jenis pekerjaan strategis yang tepat, yakni dengan sedikit kerja, tetapi memiliki dampak nyata, luas dan membesarkan kebahagiaan, kesejahteraan atau kemakmuran diri kita. Inilah  yang menarik untuk dikaji.Â
Terkait hal ini, saya malah teringat stilah TSM (terstruktur, sistematik dan masif) sering kita dengar. Istilah terstruktur dimaknai gerakan yang memanfaatkan perangkat kerja dari atas ke bawah, atau dari perintah pusat ke jejaringnya. Â Sistematik artinya direncanakan secara matang, tersusun, bahkan sangat rapi, memiliki pola dan jejaring yang jelas, sehingga diyakinkan akan berjalan dengan baik. Sedangkan masif, dilakukan dengan kemampuan ruang yang sangat luas dan massal.
Sayangnya, istilah ini digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang buruk dalam dunia politik. Padahal, hal yang perlu disadari bahwa hal penting dalam kehidupan kita, yaitu mampu memillih tindakan yang memiliki karakter TSM ini, bukan pilihan yang lain.
Apa contohnya ?
Teman-teman penggiat medsos, baik di Youtube, tiktok atau platform lainnya, adalah contoh yang nyata terkait hal ini. Perhatikan saja dengan seksama.
Tindakan yang dilakukan oleh mereka cukup sekali, yaitu mengunggah content. Sekali unggah. Setelah itu dibiarkan, content dengan platformnya itu sendiri yang bekerja. Bekerja dalam sistem-digital yang sudah diciptakan dan tercipta secara sistematik, terstruktur dan masif. Hingga pada akhirnya, seorang content creator itu kemudian mendapatkan hasil yang terbaik  baginya, dan atau lingkungannya.
Harga dari sebuah pekerjaan itu, sudah sangat terlihat dan terbuka. Bagi mereka yang berhasil dengan baik, dapat menghasilkan pendapatakan yang diatas nalar-pegawai atau buruh pabrikan. Sangat-sangat menggiurkan.
Lha, apa masalahnya dengan pekerjaan kita yang lainnya ?
Seorang pekerja di pabrikan atau kepegawaian (PNS), jenis pekerjaannya itu parsial, dan lokal. Kedua karakter ini, bertolak belakang dengan sikap TSM. Di sebut lokal, karena pengaruhnya dan penilaiannya hanya terbatas di ruang kerja BOS-nya. Disebut parsial, karena efeknya hanya terbatas pada penilaian kerja di Perusahananya. Tidak lebih dari itu. Sehingga, sehebat apapun pekerjaan orang itu, hanya akan berdampak pada penilaian BOS-nya. Harga ekonominya, pun, bersifat flat. Sama seumur masa jabatannya tersebut.
Berbeda halnya dengan penggiat medsos tadi. Bekerja di rumah, dengan memanfaatkan sistem kerja yang TSM, hasil pekerjananya bergerak sistematis, terstruktur dan massif ke berbagai penjuru ruang. Dampaknya pun, sangat terbuka dan luas, bahkan bisa dikatakan tidak berbatas.
Memang betul, mitosnya masih tetap berlaku. Kalau PNS atau buruh pabrikan itu, gajinya itu mungkin tidak akan naik melonjak, tetapi tidak akan turun menihil. Hal ini berbeda dengan nasib dari pekerjaan di sistem TSM tersebut. Bila sukses akan melipatganda, sedangkan bila gagal akan hancur lebur.Â
Sekali lagi. hal menarik dari masalah ini, kegagalan hidup kita ini, tidak mampu memilih  jenis pekerjaan yang strategis, sehingga kita tidak bisa istirahat, tidak bisa malas-malasan.Â
Manusia modern cenderung seperti  mesin atau roda kendaraan, dalam pekerjaannya harus terus muter, dipaksa harus kerja terus, sampai lelah!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H