Dalam sebulan terakhir, kita disuguhi drama-politik di tingkat nasional. Drama yang kita maksudkan itu, yakni ada debat capres dan cawapres. Sudah tentu, Â banyak hal yang sudah kita saksikan dan kita dengarkan bersama. Namun, di sela-sela itu, mungkin ada yang terbetik dalam pikirannya, apakah debat adalah sesuatu yang patut dilakukan oleh seorang muslim ?
Untuk membincangkan masalah ini, ada baiknya, sekiranya kita menafakuri salah satu firman Allah Swt dalam kitab suci al-Qur'an  yang terkait dalam hal ini. Sudah tentu, di kolom yang sempit ini, hanya setitik persepsi yang bisa disampaikan, dan itu pun sekedar pemahaman penulis. Kutipan yang akan kita gunakan,  surah an-Nahl ayat 125 :
Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah424) dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk. (An-Nahl/16:125)
Sekali lagi, kita  tidak akan mengulas tuntas mengenai penafsiran dari firman Allah Swt mengenai konsep debat (mujadallah) secara keseluruh. Kita hanya  bermaksud untuk mengulas sedikit dari pesan moral yang ada  terkait dengan konteks kita hari ini.Â
Pesan yang ingin digaris bawahi dalam kesempatan ini, cukup memokuskan perhatian kita pada anjuran Ilahi, mengenai diperbolehkannya melaksanakan dakwah dengan mujadalah (depat atau mendebat),
Wajadilhum bilati hiya ahsan. Inilah kata kunci, yang perlu dicermati bersama, debat boleh, tetapi perlu dilakukan dengan cara terbaik (ahsan). Kata jadal (debat) setidaknya hampir digunakan berulang kali, dan dapat ditemukan sebanyak 24 kali, bahkan ada satu surat dengan nama mujadalah (perdebatan). Hemat kata, debat adalah fenomena alamiah, manusiawi dan dan diakui dalam praktek agama Islam.
Hanya saja,  mungkin, pertanyaan adalah bagaimana cara debat terbaik ? hal ini perlu disampaikan, karena disisi lain, Islam menilai ada yang juga yang disebut perdebatan yang buruk. Salah satu diantara teknik kita mengurai pemahaman ini, dapat merujuk pada  firman Allah Swt :
Di antara manusia ada yang berdebat tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang memberi penerangan. Â (Al-Hajj/22:8)
Merujuk firman Allah Swt ini, seorang peserta debat, atau manakala kita mau berdebat, maka hal pertama, yang harus dimiliki itu adalah ilmu. Debat tanpa ilmu (bighairi ilm), adalah satu Tindakan yang kurang terpuji, dan dilarang dalam al-Qur'an.
Lantas apa yang disebut berilmu ? satu diantara sekian indicator, ciri dari orang berilmu itu adalah takut kepada Allah Swt :
Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. Â (Al-Isra'/17:36). Artinya, debat tanpa pengetahuan hasil observasi, pengamatan dan penelaah, masuk dalam kategori perdebatan yang terlarang.Â
Kedua, debat yang baik adalah menggunakan hidayah. Jangan sekali-kali berdepat tanpa petunjuk (wala hudan). Lha, lantas apa yang dimaksud dengan petunjuk ?
Merujuk surah al-Fatihah, yang disebut petunjuk adalah, Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, Â (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat. Â (Al-Fatihah/1:6-7).Â
Petunjuk atau hudan adalah rambu-rambu, langkah, strategi atau syariah yang mengantarkan kita pada kebaikan atau kenikmatan. Artinya, bila ilmu mengantarkan kita pada sikap atau etika, maka kemampuan kita memahami petunjuk mengantarkan kita pada ketaatan pada aturan, atau syari'ah.Â
Aturan yang dimaksudkan itu, adalah aturan yang bisa mengantarkan kita pada jalan kenikmatan. Maka karena itu, al-huda itu dikaitkan dengan cara atau jalan hidup dan kehidupan (shirat).Â
Dengan kata lain, perdebatan itu, harus mampu menunjukkan  jalan (hudan atau shirat) pemecahan masalah, bukan sekedar menguari masalah, tetapi memberi petunjuk untuk penyelesaian masalah.
Ada ciri ketiga, dari seorang pendebat yang baik (mujadil ahsan). Â Pendebat yang baik adalah pendepat yang paham tentang rujukan ilmiah yang dianutnya.Â
Dalam istilah al-Qur'an, Â yaitu kitabun munir. Janganlah berdebat tanpa kitab yang jelas (wa la kitabum muniir). Â Apa makna praktis dari larangan berdebatan tanpa kitab yang jelas ? satu diantara penafsiran yang bisa kita kemas dan kembangkan, yaitu jangan sampai berdebat tanpa dalil, tanpa nash, atau tanpa referensi yang jelas.
Konsep kitabun muniir, seakan memberi inspirasi tentang pentingnya rujukan  yang terang, atau teori yang jelas, atau paradigma yang tegas, atau dalil yang kuat.
Bila kita mampu menunjukkan hal itu, rasanya, kita akan mampu memberikan sebuah drama perdebatan yang mendidik dan mencerahkan.Â
Mungkin demikian, bagaimana menurut pembaca ?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H