Mohon tunggu...
Moh Tamimi
Moh Tamimi Mohon Tunggu... Jurnalis - Satu cerita untuk semua

Mencari jejak, memahami makna.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Rumah Nay (2)

21 Juni 2021   22:18 Diperbarui: 21 Juni 2021   22:22 128
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Seorang perempuan mengendarai motor Honda SPC berhenti di halaman rumah Nay. Ia membuka pelan helmnya, lalu menoleh ke arah kami yang tengah asik mengobrol. Kulihat sejanak wajahnya. 

Aku tidak pernah melihat perempuan itu sebelumnya, wajahnya bersih, tak ada satu pun jerawat, matanya sayu, kulitnya sawo matang, postur tubuhnya mungkin sebahuku. Tinggi badanku 177 cm.

Aku melanjutkan makan rujak buahku.

"Eh, Lia, ayo cepat masuk," kata Faika.

"Selamat datang, mbak Lia, silahkan masuk!," ucapku, sok kenal.

Aku menyambutnya dengan ramah, dengan semangat, dengan hangat, dan penuh senyuman, pura-pura telah kenal lama dengannya. Ia hanya tersenyum, sekilas melihat ke arahku, lalu masuk sambil tertunduk.

Ia melangkah masuk, aroma parfumnya semakin tajam di hidungku tatkala ia lewat di sampingku. Aku berusaha bersikap seperti biasa, tanganku tetap mengambil irisan demi irisan buah dalam keranjang. Rasa canggung menderaku, debar di dada tak bisa aku elakkan, untung saja kausku longgar, cara bicaraku agak berisik, tidak mungkin ia mendengar debar di dadaku. Aku selalu merasa canggung bertemu orang baru, apalagi cantik.

Lia duduk bersimpuh di sisi kanan Faika. Nay membuka pintu kamarnya.

"Lia, kamu dengan siapa?" kata Nay sambil terus membuka pintu kamarnya.

Lia menjawab singkat, hanya sendiri. Nay memperkenalkannya padaku dan Helmi. Ia baru saja lulus program magister di Paiton, langsung menjadi dosen. Ia merupakan ponakan salah satu tokoh publik di Sumenep, seorang mantan DPR sekaligus dari keluarga pesantren.

Lia hanya diam, jawabannya masih singkat-singkat, meskipun jawabannya serba singkat, ia menjawab pertanyaan kami dengan ramah, santun, dan santai. Aku bertanya ia dari kampus mana, kampus yang ia sebut adalah kampus yang pernah kudengar. Aku punya kenangan dengan mahasiswa kampus itu, kenangan dalam sebuah kompetisi majalah kampus yang diselenggarakan di Jakarta.

Aku menyebut salah satu nama majalah di kampus itu, ia tahu tapi tidak pernah bergabung, hanya sebatas tahu.

Aku menceritakan kepadanya bahwa tiga tahun lalu pernah aku ikut kompetisi majalah mahasiswa di Jakarta, dari kampusku tidak memenangkan satu kategori pun sedangnya dari kampusnya menang beberapa kategori dengan total hadiah 27 juta rupiah.

Lia hanya melihatku datar, mungkin ia tengah mendengarkan ceritaku dengan seksama.

Nay duduk di samping Lia, penampilan Nay kini lebih rapi, bedak di wajahnya semakin mempersamar kerutan wajahnya karena bekas beberapa jerawat. Senyumnya semakin indah dipandang.

"Jam berapa kita akan berangkat," tanyaku pada seiri ruang tamu.

"Kita tunggu saja sekalian Rahman dan Gufron," jawab Helmi, "Coba saja kamu telpon mereka sudah ada di mana!"

Kuambil ponselku, menelpon Rahman via WA.

"Dan, komandan, kamu ada di mana, ayo cepet, ngebut!"

"Siap ketua, kamu ada di mana sekarang, aku sudah sampai kota."

"Aku sudah ada di Gapura, di rumah Doi!"
Aku jauhkan sejenak ponsel dari telingkau, melihat ke sekitar, "Bapak Nay tidak ada kan?" kataku, memastikan situasi.

"Tidak adaa," jawab Nay dari balik pintu.

"Doi siapa?" tanya Rahman.

"Doimu itu loh, Nay, hahaha."

Sesungguhnya aku ingin bilang "doiku" hanya saja aku ragu dan yang keluar dari mulutku malah "doimu." Atas nama baik pertemanan, harus rela mengorbankan perasaan. Rahman terdengar tertawa. Ia tak menjawab banyak, hanya bilang siap. Ia boncengan dengan Gufron, motor Rahman lagi bermasalah roda depannya.

Ia pernah diisukan bersama Nay sejak kami masih sama-sama kuliah, entah benar atau tidak. Beberapa di antara kami, saat mahasiswa, hanya tertawa lepas bila bicara hubungan asmara, tidak ada yang betul-betul serius dalam menjalin hubungan, bahkan mungkin sampai saat ini. Itu hanya dalam pikiranku, entah bagaimana sesungguhnya.

Aku mengulangi apa yang Rahman bicarakan denganku kepada teman-teman di sampingku walaupun aku yakin mareka telah mendengarkan sebagian banyak percakapan kami.

Kutatap secara bergantian setiap mata di ruang itu. Tatapan mataku berakhir pada sepasang mata milik Lia yang cepat ia palingkan, begitu pula mataku. Aku ingin menyapanya lebih lanjut, mengajaknya bicara lagi barang sejenak tetapi aku tak punya hal-hal yang bisa kukatakan untuk sekadar basa-basi.

(Bersambung...)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun