Berhubung kami sangat akrab, saya ceritakan semuanya. Benar-benar tidak ada yang saya rahasiakan lagi, walau sebelumnya saya ragu apakah harus menceritakan hal itu.
Ia bilang pada saya, saya harus menyatakan kepadanya. Mungkin si bos kecil menilai bahwa saya suka pada teman perempuan saya itu (selanjutnya akan saya sebut doi), bukan sekadar kagum. Kami juga membicarakan kemungkinan margin errornya jika hal itu dilakukan.
Saya layangkan sebuah surat kepada doi, “Surat Setengah Cinta” judulnya.
Alhamdulillah, hanya dalam hitungan hari, surat setengah cinta saya dibalas oleh abdi semesta. Saya sangat senang dengan balasan itu. Saya senang surat-menyurat.
Inti surat itu, doi bilang bahwa tidak menyangka dengan apa yang telah saya utarakan. Ia juga kagum pada saya. Ia tidak menjawab secara pasti bagaimana sikapnya, hanya saja ia ingin mengembalikan semuanya pada waktu, dan saya harus terus belajar.
Saya tahu itu adalah penolakan yang sangat halus tetapi tidak membuat hati saya sedih sedikit pun. Saya malah senang sekali. Doi sempat menyinggung seseorang yang “selalu ada” dalam hidupnya, terutama saat terpuruk. Saya seperti biasa, tidak ada getar-getar dalam jiwa ini.
Sejak itu saya yakin, saya hanya mengagumi, kekaguman yang nyaris sempurna.
***
Bos, itulah gambaran ketika dua orang menggunakan teori yang sama untuk satu objek. Saya yakin, teori ini juga memiliki kelemahan. Salah satunya, persahabatan bisa sedikit retak bila mereka tidak saling memahami.
Kali ini, saya sedang berjuang memperjuangkan “doi asli” menggunakan teori itu.
Semoga cinta kalian terus bersemi tanpa resah di dada. Resah di dada, cukupkan sampai di sini!
20/11/2020 17.21