Mohon tunggu...
Moh Ikhsani
Moh Ikhsani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Menulis apa saja.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Escape from Pretoria (2020), Antara Politik dan Kebersamaan Perbedaan Ras

24 Juli 2022   15:02 Diperbarui: 11 Oktober 2022   23:04 656
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto: alamy.com

Menceritakan kembali sejarah yang pernah terjadi di masa lalu dapat dilakukan dengan beragam cara, mulai dari menulisnya menjadi sebuah buku maupun membuatnya menjadi sebuah film.

Escape from Pretoria (2020), sebuah film yang berdurasi 1 jam 45 menit bergenre sejarah yang diambil dari kisah nyata, menceritakan tentang pelarian dua orang kulit putih yang menjadi tahanan politik dari penjara super ketat di Afrika Selatan.

Mengambil latar di ibu kota Afrika Selatan, Cape Town pada 1978. Cerita dimulai dari tokoh Stephen Lee dan Timothy Jenkin yang merupakan anggota dari ANC (African National Congress), sebuah partai politik di Afrika Selatan yang dipimpin oleh Nelson Mandela.

Jenkin dan Stephen melakukan sebuah misi kampanye berupa perlawanan terhadap politik apartheid (pemisahan berdasarkan warna kulit) yang dilakukan oleh pemerintahan kulit putih Afrika Selatan terhadap penduduk kulit hitam di Afrika Selatan.

Mereka melakukan misi anti apartheid dengan meledakkan bom rakitan berdaya ledak kecil untuk menghamburkan puluhan hingga ratusan lembar kertas di jalanan yang berisi ajakan pada masyarakat agar sadar bahwa kebebasan dan kesetaraan ras harus diperjuangkan bersama meskipun harganya sangat mahal.

Hal itu mereka lakukan karena sejalan dengan tujuan berdirinya ANC (Kongres Nasional Afrika), untuk melakukan misi anti apartheid.

Berkat perlawanan yang mereka lakukan itu, Jenkin dan Stephen ditangkap oleh otoritas pemerintahan kulit putih Afrika Selatan dan dijatuhi hukuman selama dua belas dan delapan tahun penjara.

Mereka mendekam di sebuah penjara khusus untuk orang kulit putih di ibu kota Pretoria yang berjarak lebih dari 1.450 km dari Cape Town.

Di sana mereka bertemu dengan tokoh Leonard, tahanan lain yang sudah menjalani hukumannya selama 20 tahun. Mereka bertiga menjadi kawan baik, dan merencanakan cara untuk kabur bersama dari penjara super ketat itu.

Mereka kabur dari penjara setelah lebih dari 404 hari merancang strategi. Berkat kecerdikan Jenkin, mereka berhasil kabur dari penjara pada sore hari berkat tiruan kunci sel tahanan yang dibuat oleh Jenkin dari potongan kayu.

Kaburnya mereka membuat heboh penjaga sekaligus seluruh Afrika Selatan, kemudian pada 1992 politik apartheid di Afrika Selatan runtuh dan Nelson Mandela sebagai pemimpin ANC menjadi presiden Afrika Selatan dua tahun kemudian.

Dari film Escape from Pretoria (2020), terdapat dua isu utama yang diangkat dari film tersebut, yaitu isu politik apartheid dan kebersamaan perbedaan ras.

Isu politik apartheid sangat jelas terlihat di film itu, seperti penempatan penjara dan taksi yang khusus antara orang kulit putih dan orang kulit hitam.

Kemudian perlakuan terhadap orang kulit hitam yang berada di posisi yang lebih rendah dari orang kulit putih, ini terlihat pada tokoh Potluck yang dijadikan sebagai pekerja kasar di Penjara Pretoria. Dia juga mengalami penyiksaan bahkan akhirnya dieksekusi mati.

Melalui politik apartheid, pemerintahan kulit putih berusaha untuk memisahkan antara orang kulit putih dengan orang kulit hitam di berbagai aspek kehidupan, seperti aspek sosial dan budaya.

Selanjutnya yang kedua adalah isu kebersamaan perbedaan ras. Ini terlihat dari tokoh Timothy Jenkin dan Stephen Lee yang merupakan orang Afrika Selatan berkulit putih akan tetapi mereka berjuang untuk menghapus diskriminasi ras di negaranya.

Hal itu menjadi menarik, karena mereka orang kulit putih yang justru membantu orang kulit hitam atas tindakan yang dilakukan oleh orang putih.

Mereka berjuang bersama tidak melihat berdasarkan ras, tetapi mereka melihat kesetaraan ras yang harus diwujudkan bersama-sama untuk semua golongan apa pun itu rasnya. Dengan perjuangan yang mereka lakukan, mengindikasikan bahwa mereka (Jenkin dan Stephen) berpihak kepada orang Afrika Selatan yang berkulit hitam.

Dampak dari kebijakan apartheid yang dilakukan oleh pemerintahan kulit putih membuat banyaknya kekacauan, ketimpangan, bahkan pembunuhan yang terjadi di Afrika Selatan.

Seperti kutipan monolog dalam film, "Separuh Afrika Selatan membara. Polisi menembaki anak-anak kulit hitam seperti kelinci, sementara separuh lainnya meminum pina coladas di pantai khusus kulit putih mereka."

Dewasa ini, perlakuan rasisme terutama terhadap warna kulit tidak hanya mendapat kecaman di Afrika Selatan, tetapi di seluruh dunia. Perilaku diskriminasi antarras memang harus disingkirkan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis di antara banyaknya ras yang mendiami dunia ini.

Berkat film Escape from Pretoria (2020), berhasil memunculkan gerakan-gerakan untuk bersama-sama melawan beragam bentuk diskriminasi ras berdasarkan warna kulit.

Escape from Pretoria (2020), adalah sebuah film yang sangat bagus untuk belajar mengenai sejarah dan cara memperjuangkan keadilan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun