Dulu waktu masih TK atau SD sekitar 2 dekade silam, saya sering diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya.
Kebiasaan ini sudah mengakar bagi saya sampai-sampai tidak bisa kalau membawa sampah dan tidak menemukan tempat sampah.
Saya lebih memilih saku atau tas menjadi tempat penampungan sampah daripada mengotori lingkungan.
Sekarang zaman sudah berubah, kampanye membuang sampah pada tempatnya mulai meredup, sekarang sudah ada yang baru: memilah sampah.
Sebelum dibuang, sampah dipilah ke golongan tertentu, yaitu organik seperti bekas tulang ayam atau dedaunan dan non organik misal plastik, kertas, atau kaleng.
Nah, apa sebenarnya kampanye memilah sampah di Indonesia ini sudah tepat untuk dilaksanakan?
Jawabannya, jelas-jelas masih belum bisa bisa kita lihat sendiri, buang sampah pada tempatnya saja masih belum mampu.
Sudah tahu sungai, parit, pinggir jalan, atau gerbong datar untuk kereta kontainer bukan tempat pembuangan sampah, malah dijadikan tempat sampah.
Misal acara Car Free Day, begitu bubar mesti ketemu gelas plastik, bungkus permen, atau tercecer di sembarang tempat.
Contoh lagi, salat Idul Fitri atau Idul Adha di lapangan terbuka, sudah diingatkan agar dibereskan masih saja ada jemaah bandel yang malas membuangnya.