Mohon tunggu...
Mohammad Faiz Attoriq
Mohammad Faiz Attoriq Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Kontributor lepas

Penghobi fotografi domisili Malang - Jawa Timur yang mulai jatuh hati dengan menulis, keduanya adalah cara bercerita yang baik karena bukan sebagai penutur yang baik.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ramadan: Rasakan Penderitaan 'Si Miskin' melalui Kenaikan Harga

18 Maret 2023   17:30 Diperbarui: 18 Maret 2023   17:36 145
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Di balik naiknya harga kebutuhan menjelang Ramadan, ada yang setiap harinya serba kekurangan. (Foto: Unsplash.com/Steve Knutson)

Sedangkan kita? Masih diberi kelapangan rezeki, membeli kebutuhan primer dan sekunder sudah cukup, terlebih tersier.

Bahkan, kebutuhan yang sudah terbeli pun masih belum terasa cukup bagi kita, memang dasarnya manusia mudah mengeluh.

Ketika harga berbagai kebutuhan pun naik menjelang puasa, kita pun mengeluh karena semakin mahal.

Kita seakan 'disentil' sebelum keluhan kita menjalar menjadi amarah yang membara, kita disuruh merenungi penderitaan orang di bawah kita.

Betapa menyedihkannya kaum fakir dan miskin itu, bekerja keras dengan mendapatkan penghasilan yang tidak seberapa.

Jangankan memiliki rumah yang layak atau kulkas untuk menyimpan makanan, besok makan apa saja belum sempat terpikirkan.

Bahkan, ketika dalam hari itu tidak mendapatkan banyak makanan, mereka kerap kali berpuasa meski niatnya bukan puasa.

Mereka harus benar-benar sabar saat ingin membeli sesuatu, tetapi uang yang dimilikinya masih jauh di bawah kata cukup.

Kita masih tidak seberapa, meskipun harganya naik, tetapi setidaknya masih bisa mendapatkannya meskipun tidak 100% besarannya dengan uang yang sama.

Perlu bagi kita untuk bersyukur karena masih mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari diri sendiri dan orang lain, inilah pelajaran berharganya.

Selain itu, kita dituntut untuk membelanjakan harta kita untuk kebutuhan pokok seperlunya saja, tidak boleh berlebihan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun