Mohon tunggu...
Mohammad Hardiansyah
Mohammad Hardiansyah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Komunikator

hi hallo

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Pendidikan Berkualitas Sebagai Jangkar dalam Mewujudkan "Indonesia Emas 2045"

30 Oktober 2024   21:30 Diperbarui: 4 November 2024   23:02 174
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar 1.Aset penulis

Di tengah maraknya pembahasan tentang “Indonesia Emas” dan "bonus demografi,” realita dunia pendidikan di Indonesia justru memunculkan kekhawatiran yang mendalam. Kita sering melihat video viral di media sosial yang memperlihatkan siswa SMA kebingungan saat menjawab pertanyaan sederhana, seperti menyebutkan lokasi Garut yang dikira berada di Eropa, atau menjelaskan istilah geografis dengan jawaban yang salah. Hal ini tidak hanya lucu, tapi juga miris karena menggambarkan betapa rendahnya pemahaman pengetahuan dasar. Kondisi ini merupakan gejala permukaan saja. Masalah yang lebih serius adalah banyaknya anak-anak SMA yang terbata-bata dalam membaca, bahkan mengeja, dan sulit memahami teks sederhana. Ini bukan masalah satu atau dua anak, tapi ratusan atau bahkan ribuan di seluruh Indonesia.

Kemendikbud telah menekankan pentingnya pemahaman literasi kognitif dan numerasi, tapi bagaimanakah kita bisa bicara soal pemahaman bacaan jika kemampuan dasar membaca itu sendiri masih sangat minim? Bagaimana bisa kita mendorong kompetensi tinggi seperti pemahaman kognitif jika banyak anak masih kesulitan menghitung? Inilah yang menjadi akar masalah: pondasi dasar pendidikan yang masih rapuh. Jika pondasi ini tidak diperbaiki, segala bentuk rencana Indonesia Emas dan bonus demografi hanya akan menjadi retorika belaka.

Visi Indonesia Emas adalah ketika negara kita mampu melepas diri dari jebakan kelas menengah dan menjadi negara maju. Bonus demografi adalah ‘kendaraan’ yang bisa membawa kita ke sana, didorong oleh dominasi angkatan kerja produktif yang puncaknya akan tercapai pada 2045. Namun, bagaimana bisa kita menyongsong status negara maju jika pendapatan per kapita kita sekarang masih di angka sekitar 4.580 USD, padahal standar negara maju adalah mencapai sekitar 13.000 hingga 14.000 USD?

Secara teori, peluang untuk meningkatkan angka ini terbuka jika kita bisa menjaga pertumbuhan ekonomi pada level 7%. Kuncinya adalah pada pengelolaan bonus demografi yang tepat. Negara-negara seperti China dan India, yang sudah lebih dulu melalui bonus demografi, menunjukkan keberhasilan memanfaatkan momentum ini untuk pertumbuhan ekonomi yang signifikan. China, misalnya, berhasil meningkatkan proporsi usia produktif hingga lebih dari 70% dari total populasi antara tahun 1980 hingga 2010. Hasilnya, ekonomi mereka tumbuh rata-rata di atas 10% dalam periode itu, dan lebih dari 850 juta penduduknya berhasil keluar dari garis kemiskinan.

Jika dilihat lebih dalam, Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang lebih besar secara geopolitik, sosial, dan usia populasi dibandingkan China dan India. Namun, tantangan besar yang menjadi penghalang dalam memaksimalkan bonus demografi adalah rendahnya produktivitas dan minimnya inovasi. Indeks Inovasi Global menempatkan Indonesia di peringkat 61 dari 123 negara pada tahun 2023, masih tertinggal dari Malaysia dan Filipina. Kualitas pendidikan yang rendah jelas berdampak pada produktivitas yang rendah, dengan produktivitas tenaga kerja Indonesia yang hanya mencapai sekitar 4,2 juta rupiah per pekerja per tahun—kurang dari setengah produktivitas negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

Peran pendidikan tinggi sangat krusial dalam meningkatkan produktivitas Indonesia. Saat ini, rasio Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia masih berada di angka 6,76, yang artinya untuk meningkatkan 1% pertumbuhan ekonomi, kita membutuhkan investasi per PDB sebesar 6,76%. Dengan pertumbuhan ekonomi yang saat ini berada di sekitar 5%, dibutuhkan rasio investasi per PDB sebesar 47% agar angka ini bisa mencapai 7%. Bergantung pada tabungan domestik untuk mencapai rasio ini sangat berisiko karena dapat memicu defisit transaksi berjalan yang besar, melemahkan rupiah, dan membuka potensi terjadinya capital outflow. Solusinya adalah menurunkan angka ICOR dengan meningkatkan produktivitas.

Gambar 2. Aset Penulis
Gambar 2. Aset Penulis

Struktur ekonomi Indonesia yang masih sangat bertumpu pada konsumsi domestik (60% dari PDB) dan tenaga kerja informal (97% tenaga kerja) menjadikannya rapuh dan rentan terhadap guncangan internal. Jika tingkat konsumsi menurun, banyak usaha kecil kekurangan modal, produksi berkurang, dan tingkat pengangguran meningkat. Salah satu faktor yang memperparah situasi ini adalah judi online, di mana banyak uang yang seharusnya beredar di pasar domestik justru lari ke luar negeri. Ketergantungan pada konsumsi domestik memang membantu saat pandemi, tetapi ketika ekonomi pulih, kita justru semakin tertinggal.

Selain itu, perubahan atau fluktuasi ekonomi kita masih tinggi karena ekspor kita masih didominasi bahan mentah. Negara yang mampu mengolah bahan baku menjadi barang jadi cenderung memiliki stabilitas ekonomi yang lebih tinggi. Indonesia masih sangat bergantung pada ekspor bahan mentah, yang diolah di luar negeri dan kembali dalam bentuk barang jadi dengan harga yang lebih tinggi. Kompleksitas ekonomi kita masih rendah dibandingkan dengan Vietnam, Malaysia, atau Thailand. Diversifikasi ekspor hanya bisa dicapai melalui inovasi, tetapi Indonesia hanya mengalokasikan 0,25% dari PDB untuk riset dan pengembangan—jauh tertinggal dari negara maju yang rata-rata mengalokasikan 3%.

Dengan begitu banyak masalah mendasar yang harus diselesaikan, kualitas pendidikan kita perlu dibenahi secara menyeluruh. Pendidikan tinggi harus mencetak lulusan yang tidak hanya pintar secara teori, tetapi juga terampil dan siap menghadapi tantangan di lapangan. Seperti kata Tan Malaka, “Jika kaum muda terpelajar menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat, maka lebih baik pendidikan itu tidak ada sama sekali.” Pendidikan bukan hanya untuk mendapatkan nilai atau gelar, tetapi untuk berkontribusi nyata kepada masyarakat.

Dengan berfokus pada pendidikan yang bermutu, kita bisa mulai membangun generasi yang siap menghadapi tantangan global dan membawa Indonesia keluar dari jebakan kelas menengah. Pendidikan adalah fondasi dari segalanya, dan di sinilah perguruan tinggi serta sekolah memainkan peran penting untuk menciptakan generasi yang inovatif dan produktif.

Pentingnya peran pemerintah dalam mengarahkan masyarakat pada tujuan Indonesia Emas tidak bisa diabaikan. Pemerintah harus berfungsi sebagai pengarah dan pengendali, memberikan panduan yang jelas tentang arah pembangunan dan kebijakan yang harus diambil. Dengan kebijakan yang tepat, pemerintah dapat mendorong masyarakat untuk bersama-sama menuju tujuan Indonesia Emas, terutama dalam pengembangan SDM dan inovasi di segala sektor.

Pemerintahan baru yang dipimpin oleh Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran telah memberikan harapan besar bagi masyarakat. Mereka diharapkan mampu menghadirkan perubahan nyata dan membawa Indonesia lebih dekat ke cita-cita Indonesia Emas. Melalui berbagai program yang berfokus pada pendidikan, ekonomi, dan inovasi, pasangan pemimpin ini berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mempersiapkan generasi yang kompeten.

Pemerintahan Prabowo-Gibran yang baru dilantik menjadi harapan besar bagi masyarakat. Diharapkan kinerja dan program Prabowo-Gibran mampu membawa Indonesia ke cita cita "Indonesia Emas". Dalam lima tahun ke depan, pemerintah berjanji untuk mengupayakan dana riset dan inovasi mencapai 1,5 persen hingga dua persen dari PDB. Kebijakan ini sangat penting untuk memastikan bahwa pendidikan dan inovasi tidak hanya menjadi jargon belaka, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam bentuk tindakan nyata.

Prabowo-Gibran mencanangkan sejumlah strategi untuk mencapai tujuan ini, di antaranya membentuk dan mengembangkan dana abadi pendidikan, dana abadi pesantren, dana abadi kebudayaan, dan dana abadi lembaga swadaya masyarakat (LSM). Ini menunjukkan bahwa pemerintah serius dalam mengatasi tantangan pendidikan dan berkomitmen untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Selain itu, dengan adanya dana abadi, diharapkan investasi di bidang pendidikan dapat berkelanjutan dan memberi manfaat jangka panjang bagi bangsa.

Salah satu program pengembangan yang diandalkan untuk mendongkrak motivasi belajar siswa di Indonesia adalah peningkatan kualitas infrastruktur pendidikan. Peningkatan ini merupakan strategi yang tepat untuk mengatasi isu buramnya motivasi belajar siswa. Fasilitas pendidikan yang memadai, seperti ruang kelas yang nyaman, perpustakaan yang lengkap, dan akses internet yang baik, sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dengan adanya fasilitas yang baik, diharapkan siswa akan lebih termotivasi untuk belajar dan berprestasi.

Namun, peningkatan infrastruktur pendidikan tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kualitas pengajaran yang baik. Program pelatihan bagi guru dan pengembangan kurikulum yang relevan harus dilakukan secara terus-menerus untuk memastikan bahwa pendidikan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan zaman. Guru yang berkualitas dan terlatih akan mampu memberikan inspirasi kepada siswa dan mendorong mereka untuk mengejar prestasi lebih tinggi. Dengan demikian, siswa tidak hanya akan memiliki pengetahuan yang cukup, tetapi juga keterampilan yang diperlukan untuk bersaing di dunia global.

Indonesia Emas adalah suatu cita cita bangsa yang harus diperjuangkan dan bukan hanya jadi wacana. Perlu kerjasama dari tiap lapisan masyarakat agar cita cita ini dapat terwujud. Mulai dari pemerintah, pendidik, hingga masyarakat sipil, semua memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan berkualitas. Kampanye kesadaran akan pentingnya pendidikan juga harus digalakkan, sehingga setiap individu merasa terpanggil untuk berkontribusi dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Kesadaran kolektif ini akan sangat berpengaruh terhadap masa depan bangsa. Jika masyarakat memahami bahwa pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depan, maka mereka akan lebih termotivasi untuk terlibat dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan mereka. Dengan semangat kolaborasi yang kuat, saya yakin kita bisa menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya baik untuk anak-anak kita, tetapi juga untuk bangsa secara keseluruhan.

Dengan demikian, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan komitmen dan kerja keras dari semua pihak. Tidak ada satu pun elemen yang dapat berjalan sendiri tanpa dukungan dari yang lainnya. Mari kita satukan langkah, berbagi visi, dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan yang mulia ini. Dengan semangat gotong royong dan inovasi, saya percaya kita dapat mengatasi berbagai tantangan yang ada dan mewujudkan cita-cita Indonesia Emas yang kita impikan bersama.

Akhir kata, mari kita bertanya pada diri kita sendiri: apakah kita siap menjadi bagian dari perubahan ini? Apakah kita siap menjadi generasi yang berani mengambil peran dalam mengangkat Indonesia dari middle income trap?

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun