Pada suatu pagi saya membuka laptop. Ketika saya mencoba masuk beranda sebuah grup Facebook. saya menemukan sebuah TS (Thread Starter) yang menarik perhatian saya. Saya kutip dan berikut ini adalah kalimat TS tersebut.
"Dengan Begitu Pesatnya Kecanggihan Teknologi Digital Masa Kini maka Bukan tidak Mungkin ini akan Mengancam Tugas Pokok Guru yang MUNGKIN pada akhirnya di kemudian hari siswa kita akan belajar bersama dgn om GOOGLE. Di Rumah.tidak ada lagi Pembelajaran Tatap MukaTrus Kita mau Dikemanakan "
Membaca TS tersebut, saya menyimpulkan ada kekhawatiran yang membuncah dalam sistem kognisi pemilik TS tentang profesi guru.
TS tersebut menggambarkan betapa cemasnya yang bersangkutan karena profesi guru (menurut perkiraannya) suatu saat akan direnggut oleh teknologi informasi dan komunikasi.
Anak-anak suatu saat nanti seakan tidak memerlukan lagi sosok seorang guru dengan hadirnya teknologi digital yang mampu memberikan informasi yang sangat lengkap.
Kemajuan teknologi, memang tidak dapat dinafikan, telah memberikan kontribusi kemudahan kepada setiap orang untuk belajar.
Seseorang, misalnya, tidak perlu beringsut dari tempat duduk untuk mempelajari cara memperbaiki tivi yang rusak, laptop yang bermasalah, atau cara meracik makanan khas suatu daerah.
Bukti paling real adalah dalam keseharian saya adalah bagaimana anak bungsu saya yang baru berumur 4 tahun mampu berbahasa Indonesia karena terbiasa nonton YouTube. Padahal dalam komunikasi sehari-hari saya dalam keluarga dan lingkungan sosial menggunakan bahasa daerah.
Fakta di atas merupakan sebuah alasan munculnya kecemasan bahwa seseorang pada suatu saat kelak tidak memerlukan lagi orang lain untuk belajar.
Dengan modal gadget dan fasilitas internet setiap orang dapat mempelajari setiap bentuk ilmu pengetahuan tanpa berinteraksi dengan sesama.
Bahkan, jika boleh memprediksi muara yang lebih ekstrem, manusia (negara) seakan-akan tidak memerlukan lagi sebuah lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan kepada warganya.
Kehadiran teknologi digital seolah akan mengubah segalanya tentang penyelenggaraan pendidikan.
Tugas Guru
Tugas guru bukan hanya menjejali siswa dengan sejumlah pengetahuan atau melatih keterampilan tertentu. Hal lebih penting adalah membentuk karakter dan membangun kepribadian. Peran ini tidak bisa digantikan aplikasi paling mutakhir sekalipun. Profesi guru tidak akan pernah terhapus dari peradaban.
Secara spesifik, UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen Pada Bab I Pasal I merumuskan bahwa "Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah."
Rumusan tugas guru di atas merupakan jawaban terhadap kekhawatiran TS. Terdapat peran guru yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apapun. Guru memiliki tugas "membimbing dan mengarahkan". Dua tugas ini menempatkan guru lebih dari sekadar mengajar.
Guru bukan hanya belaka sebagai sumber belajar yang memfasilitasi siswa dengan informasi ilmu pengetahuan, membentuk kecakapan intelektual, atau melatih keterampilan fisik belaka. Lebih dari itu, guru adalah motivator dan pemberi inspirasi.
Peran paling penting adalah guru sebagai pembentuk karakter, panutan, teladan, atau model--peran terakhir ini setara dengan peran orang tua dalam keluarga.
Pada tataran budaya, lembaga pendidikan berperan sebagai agen pelestari budaya.
Budaya (dalam Wikipedia) dijelaskan sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi.
Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
Jika kembali kepada pengertian budaya tersebut, salah satu fungsi lembaga pendidikan adalah memberikan bekal kepada peserta didik agar memiliki kompetensi cara hidup.
Cara hidup itu berupa sikap dan perilaku sehari-hari dalam kehidupan sosial yang terwujud dalam kebiasaan, tradisi, nilai moral, dan prinsip-prinsip dasar hidup lainnya.
Cara hidup juga menyangkut cara bertahan hidup dengan mengandalkan potensi dirinya sebagai manusia. Sebagaimana makhluk hidup pada umumnya, manusia dibekali potensi dasar agar mampu survive dalam kehidupan semesta. Bahkan kemampuan bertahan hidup manusia jauh melampaui kemampuan makhluk hidup lain.
Potensi itulah yang perlu dikembangkan melalui pendidikan dan komponen internal paling bertanggung jawab di dalamnya adalah guru. Lalu masihkah teknologi dianggap mampu menihilkan peran guru?
Lombok Timur, 03 Juni 2022
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI