Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Guru - Menerobos Masa Depan

Kepala SMP Negeri 52 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Perempuan yang Menari di Bawah Purnama

29 Mei 2021   06:46 Diperbarui: 29 Mei 2021   06:54 155
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Waktu pertama kali menjumpainya, aku setengah tidak percaya. Akan tetapi, kemudian aku meyakini jika semua itu benar adanya. 

"Perempuan? "

"Iya."

"Menari? "

"Iya."

"Di tengah malam? "

"Di bawah Purnama. "

"Sama saja. "

"Tidak. Karena tidak setiap malam itu Purnama. "

Tidak ada yang percaya. Bahkan ada yang bilang kalau aku memang mimpi. Kadang mimpi seolah olah beneran. Apalagi jika mimpi itu selalu berulang. 

"Mungkin dia hantu. "

"Aku tak pernah percaya hantu. "

"Itulah."

"Maksudnya? "

"Mungkin hantu itu marah sama kamu, karena selama ini kamu tak percaya krpadanya. "

Dan, hari ini mobilku benar-benar aneh. Tak bisa distarter. Dan Bang Udin,  sopir mikrolet yang rumahnya cuma berjarak se pelemparan batu itu pun menyerah. Padahal, biasanya dia jago utak atik mobil. 

"Ya udah, aku naik MRT saja, " kataku tak sampai hati melihat bang Udin tak menemukan penyakit di mobilku. 

Perempuan itu di gerbong ketiga. Bangku nomor 13 dari pintu MRT. Di tampak sibuk sekali dengan HP nya. Tapi jika aku lihat dari tempat ku berdiri, aku dapat melihat wajahnya yang begitu mempesona. 

Persis. 

Tak ada perbedaan. Walaupun aku melihatnya saat Purnama tapi mata itu, hidung itu, dan jari jari itu, benar benar sama persis. 

"Aku ketemu perempuan itu di MRT. "

"Siapa? "

"Perempuan yang suka menari di bawah purnama. "

"Emang di MRT ada purnama? "

"Ah."

"Nama perempuan itu Purnama? "

Entah kenapa teman teman ku susah diajak bicara tentang perempuan itu. Padahal aku bukan melihat dia di bawah Purnama lagi, tapi di kereta MRT. Berarti memang perempuan itu ada. 

"Kamu sebaiknya segera menikah. Di sini juga banyak yang masih gadis, kan? Pilih salah satu di antara mereka, " kata bosku ketika memanggilku siang tadi.

"Tapi... "

"Biar tak ngayal mulu tentang perempuan di bawah Purnama segala. "

"Tapi.... "

"Harus aku bantu? "

"Tapi.... "

"Sevi? "

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun