Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Guru - Menerobos Masa Depan

Kepala SMP Negeri 52 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Demo Boleh, Asal Pakai Otak

27 Juni 2020   05:33 Diperbarui: 27 Juni 2020   05:46 201
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Demo itu perjuangan. Perjuangan untuk menyampaikan kepentingan mereka yang terganggu.  Menyampaikan aspirasi agar kepentingan mereka tak diabaikan. 

Kepentingan dalam sebuah demo bukan sesuatu yang haram. Malah sesuatu yang wajib. Demo tanpa menyampaikan kepentingan kelompoknya, justru menjadi demo yang lucu sekaligus menyedihkan. 

Jika tujuan demo untuk menyampaikan kepentingan, maka tak ada demo anarkhis.  Karena sikap anarkhistis dalam sebuah demo merupakan pemaksaan kepentingan.  Sudah meleceng dari tujuan sebuah demo. 

Siapa yang melakukan demo? 

Ya, pasti mereka mereka yang kepentingan nya terganggu. Misalnya saja demo buruh.  Kenapa buruh demo? Karena kepentingan buruh terganggu. Anggap saja oleh sebuah aturan baru tentang tenaga outsourcing. 

Jika buruh tidak melakukan demo padahal kepentingan mereka sengaja dikerdilkan oleh sebuah aturan, justru menjadi sesuatu yang aneh.  Buruh harus demo, harus menyampaikan aspirasi atau kepentingannya. 

Demikian juga jika mahasiswa demo.  Pasti ada kepentingan yang diusung mereka.  Walaupun sebagai anak muda, kepentingan yang diusung bukan kepentingan diri mereka sendiri.  Bisa jadi, para mahasiswa berdemo karena kepentingan rakyat yang dikangkangi para cukong, misalnya. 

Yang aneh, pada akhir akhir ini adalah demo yang dilakukan oleh kelompok itu itu juga.  Isu yang diusung berganti ganti, tapi wajah pendemonya mirip, jika tak mau dibilang memang sama. 

Apakah satu kelompok memiliki kepentingan yang begitu banyak dan terganggu semua?  Tentu sangat tidak mungkin.  Itulah yang disebut demo bayaran.  Mereka ikut berdemo bukan untuk menyampaikan kepentingan atau aspirasinya. Mereka hadir dalam sebuah demo karena mereka dibayar. 

Inilah yang menyedihkan.  Ada bandar bandar demo.  Ada agen agen pengerahan massa.  Maka, demo pun sudah menjadi bisnis semata. 

Suatu saat, ketika sedang dilakukan sebuah demo, seorang reporter televisi iseng mewawancarai peserta demo. 

"Mas tahu gak apa yang disampaikan orator? tanya reporter televisi tersebut. 

" Jangan tanya saya, tanya yang didepan saja, takut salah, "jawab pendemo yang ditanya sambil ngeluyur pergi. 

Kejadian tersebut menunjukkan bahwa banyak pendemo yang datang ke tempat demo dengan tanpa otak.  Artinya, demo mereka ikuti bukan karena sebuah kesadaran.  Kesadaran yang muncul karena pemikiran yang mendalam. 

Baru kemarin ada sebuah demo. Kemudian dibakarlah bendera sebuah partai.  Ini juga mencerminkan pendemo yang tak berotak. Pembakaran sebuah bendera jelas akan menyinggung pihak lain. Dan akibatnya, akan terjadi ketersinggungan. Dengan demikian, demo yang dilakukan bukan untuk menyampaikan kepentingan, tapi sudah menjadi arena provokasi. 

Lebih tak punya otak lagi, jika demo dilakukan dengan menyertakan anak anak. Aturan perundangan sudah jelas jelas melarangnya. Akan tetapi, masih saja ada pendemo yang melibatkan anak anak. Jelas sebuah demo tak pakai otak. 

Demo dengan peserta yang banyak masih lebih disukai.  Semakin besar peserta demo semakin menunjukkan kekuatan penekan terhadap orang yang didemo. Pengerahan massa sebagai unjuk kekuatan demo juga agak kurang berotak. Karena demo yang dilakukan oleh seorang anak kecil sendirian pun bisa bergaung ke seluruh dunia. 

Sudah saatnya, demo yang dilakukan dengan tanpa otak diakhiri. Mari kita mulai berdemo dengan menggunakan otak. Artinya, ketika berdemo, fi otak kita memang ada kepentingan yang ingin disampaikan. Ada sesuatu yang terlukai. 

Demo bukan untuk kerusuhan. Demo bukan untuk kepentingan orang lain yang berani membayarnya. Demo adalah wujud sebuah Demokrasi. 

Jangan sampai muncul wajah yang itu itu juga dalam setiap demo. Karena demo memang bukan nano nano. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun