Dua minggu menjadi sopir pribadi Pak Dirjen, sungguh sungguh menyenangkan.
Orangnya baik.
Sering aku diajak makan di tempat yang kebayang pun belum pernah. Â Harganya pasti bukan lagi selangit, mungkin bahkan dua langit, atau tiga langit.
Tidak dipisah. Â Diajak makan satu meja. Diajak ngobrol seperti teman dekat saja.
Pak Dirjen memang tinggal di rumah sendirian. Â Saya tak tahu tentang istri dan anak anaknya.
"Kamu punya anak?" tanya Pak Dirjen suatu pagi.
"Punya, Pak. Dua."
"Sepasang?"
"Iya. Pertama perempuan. Yang kedua jagoan."
"Wah. Lengkap deh."
"Iya, Pak."
Pak Dirjen selalu ramah. Â Bahkan sangat ramah. Â Padahal saya cuma sopir.
Maka, seperti disambar petir, waktu saya lihat di televisi, Pak Dirjen ditangkap KPK.
Saya memang ijin tak menyopiri untuk hari ini. Anak kedua sakit dan harus dibawa ke rumah sakit.
"Iya, Bang. Itu betul bos abang," kata istri saya dengan serius.
"Astagfirullah."
Tak menyangka, Pak Dirjen yang begitu ramah ternyata koruptor juga. Â Koruptor memang kaya bunglon. Â Ada yang ustad, ada yang pastor, ada yang hakim, ada yang anggota dpr.
Ingin rasanya memuntahkan semua makanan yang pernah saya makan bersama pak dirjen. Â Saya takut cara mempertanggungjawabkan nya kepada Tuhan di akhirat nanti.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI